02 Desember 2011

Perut Kembung...

Teman 1: "gua teh yah sebenernya masih pengen dapet lebih di dunia ini, tapi belum dapet-  dapet,,kunaon atuh nyaa.."

Teman 2 : "dukaa atuuh nyaaa.."




01 Desember 2011

Pas Belokan 100!

Tatangga : "ari make motor biasana sok gancang tara?"


Urang : "ah kadang tarik kadang laun, kunaon kitu?"


Tatangga : "alusna mah keur jalan biasa mah cukup 20, tah pas belok 100"



(Cihampelas,12-2011, sebelum berangkat kerja)

29 November 2011

Naha Embungeun?!

Teman 1 : "eh babaturan urang bobogohana geus 2 tahun, tapi si awewena nepi ka 
ayeuna embungeun diajak ka imah lalakina, aneh pan? tah ceuk maneh kumaha? "


Teman 2 : "nya ceuk urang mah awewena can hayangeun kawin weh"



20 November 2011

Akhirnya Belajar Juga Cukil Kayu (woodcut)

Yeahh...Minggu 20 november 2011 sepertinya menjadi hari dimana mimpi saya jadi kenyataan ( sepertinya terlalu berlebihan :D ), tapi bisa dibilang ada benarnya juga, karena apa yang selama ini saya inginkan bisa terwujud juga. Jika dirunut kembali, sejak dulu saya sering sekali mendengar kata-kata seni grafis (walaupun sebelumnya saya memang interest terhadap dunia seni), karena yang sering saya dengar sebelumnya adalah desain grafis, lantas apa bedanya? dari situlah letak kepenasaran saya, benar-benar ingin tahu apa itu seni grafis. Karena begitu sulit saya ingin bertanya pada siapa, akhirnya sebagai pelarian mencari ilmu adalah kepada Mbah Google :)) dan hasilnya ternyata tidak terlalu buruk. Namun itu semua rasanya belumlah cukup untuk sedikit saja memahami bentuk dari seni grafis itu sendiri. Secara teori okelah banyak artikel-artikel yang menarik, namun secara perwujudan karya dari seni grafis itu sendiri masih tetap membuat saya sangat penasaran dan bertekad kelak jika sudah mengetahuinya saya ingin juga berkarya dalam lingkup seni grafis itu. 

Singkat cerita Akhirnya sedikit demi sedikit saya tahu beberapa hal tentang seni grafis (kalau boleh saya bilang itu produknya) dan salah satunya yang begitu menarik perhatian saya adalah berkarya lewat proses cukil kayu (woodcut) ( karena kecantikan karya yang dihasilkannya lebih cantik dari seorang wanita :p ) dari situlah keinginan saya semakin menjadi-jadi untuk bisa belajar seni grafis --> cukil kayu.


Dan seperti kata-kata mutiara "dimana ada keinginan pasti selalu ada jalan" akhirnya di hari minggu itulah bersama seorang kawan, saya pergi menuju sebuah pameran, diskusi, peluncuran buku, dan workshop dari sebuah komunitas seni dari Yogyakarta yang bernama Taring Padi, dan kabar yang saya terima dari kawan saya yaitu tentang adanya wokrshop cukil kayu, otomatis kabar tentang workshop itu membuat jantung saya semakin berdegup dengan kencang dan terpacu untuk segera mengikutinya.

Saat acara dimulai dan dibuka oleh salah seorang dari komunitas Taring Padi yang ternyata acara pertama adalah WORKSHOP CUKIL KAYU!! dan semakin menambah ketidak sabaran saya. Beberapa menit saja penjelasan tentang cukil kayu pun selesai dan saatnya para peserta untuk mempraktekannya, alat-alat pun dibagikan, lalu saya dan para peserta lainnya mulai berkarya. Proses itu pun benar-benar saya nikmati, setiap cukilan seakan memberikan semangat tersendiri bagi saya, karena memang mengasyikan apalagi ketika proses mentransfer gambar atau dicetak diatas kertas,,dan ternyata hasilnya AKU BISA!! akan tetapi belajar dan berlatih sepertinya menjadi hal yang wajib dalam mendalami suatu ilmu, dan tentunya saya ucapkan juga terima kasih juga pada semua yang sudah dengan sukarela mengajarkannya tanpa pamrih. :)     

 

12 Oktober 2011

Keluh dan Kesah


Keluh dan kesah, atau orang sering mengatakan keluh kesah, berkeluh kesah dan lain sebagainya, apa sih sebenarnya keluh kesah? (maaf, jikalau dalam tulisan ini saya tidak mencantumkan definisi-definisi ilmiah yang dicatut dari sana sini, bukan apa-apa,,hanya malas saja :D dan hanya ingin mencurahkan persepsi saya saja) menurut saya keluh kesah itu adalah sebuah ucapan dari sebuah perasaan yang bisa dikatakan tertekan atau tidak nyaman, tidak sejalan dengan keadaan dan apapun yang sekiranya tidak mencerahkan hati dan pikiran, ya mungkin bisa dikatakan hampir serupa dengan curhat alias curahan hati. Berkeluh kesah itu biasanya diucapkan dalam arti ada lawan bicaranya, namun bisa juga seseorang itu berkeluh kesah melalui hal-hal yang dianggapnya tepat untuk menumpahkan segala apa yang dirasakannya, seperti halnya curhat pun begitu, ada yang melalui tulisan atau melalui karya-karya yang lainnya.

Menurut saya tidak ada salahnya untuk berkeluh kesah, karena bisa jadi keluh kesah itu menjadi obat atau semacam terapi untuk kembali menenangkan hati, seperti halnya menangis jika dirasa menangis itu membuat tenang maka menangislah dan begitu pula dengan keluh kesah.  Terkadang sebagian orang menilai bahwa seseorang yang berkeluh kesah itu adalah ciri orang yang lemah, lembek tidak kuat menghadapi tantangan, terlalu penakut dan lain sebagainya, padahal sebagai manusia hal itu adalah lumrah dan kalau boleh saya katakan bahwa keluh kesah itu MANUSIAWI BANGET!! :D tapi jangan terlalu didramatisir seolah-olah seperti yang memang menderita sekali, atau berkeluh kesah dengan tujuan-tujuan tertentu : ingin dibelaskasihani atau membayangkan akan dibantu secara materi, ih memalukan. Tak akan pernah ada yang melarang, karena sekali lagi keluh kesah itu MANUSIAWI BANGET!! :) karena saya yakin didunia ini tidak ada orang yang tidak mempunyai masalah!! dan ketika bermacam-macam masalah menerpa, setidaknya ingin sekali ada yang mendengar tentang masalah-masalah kita, dan silahkanlah berkeluh kesah ibarat ketika kita menuliskan kata-kata di pasir pantai, maka tidak berapa lama biarkan saja kata-kata itu terhapus dan tersapu dengan sendirinya oleh tarikan air.

Ada banyak sekali ragam masalah didunia ini yang bisa menjadi sumber untuk berkeluh kesah, masalah pekerjaan, keluarga, pertemanan dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menghindar dan tidak bisa lari begitu saja, namun sebaliknya semua yang kita terima dan rasakan maka harus kita terima dan rasakan pula, karena semua yang datang kepada kita adalah tentunya menjadi milik kita, tidak bisa permasalahan yang sedang kita hadapai, kita alihkan kepada orang lain, karena belum tentu mereka yang menerima permasalahan kita akan dengan kuat menghadapinya. Jadi ketika suatu masalah itu datang maka kita dianggap KUAT dan MAMPU untuk menghadapinya, dan keluh kesah bukan berarti menyerah tapi untuk mendatangkan dan menghimpun kekuatan baru untuk bisa segera menyelesaikan suatu masalah.

07 Oktober 2011

Selebaran Orang Hilang

Sudah beberapa hari saat menyusuri jalanan menuju tempat kerja, dan sudah beberapa kali pula saya tidak sengaja memperhatikan tiang listrik yang ada di pinggiran jalan, entah kebetulan atau tidak, setiap saya lihat yang tertempel dibeberapa tiang listrik adalah informasi mengenai orang hilang, saya merasa cukup aneh dan juga turut bersedih terhadap keluarga yang merasa kehilangan salah satu anggotanya. 

Saya merasa aneh saja karena kok bisa sih orang sampai hilang begitu, tapi mungkin ada penyebabnya juga, yang pasti sih gak jauh-jauh mengenai permasalahan yang ada di keluarga. Tapi juga yang menjadi pertanyaan saya, apakah dengan cara menempel selebaran fotokopian di tiap tiang listrik akan berhasil menemukan anggota keluarga yang hilang? (semoga) sementara orang yang berlalu lalang di depan selebaran itu seakan tidak peduli, kalaupun ada yang melihatnya paling hanya mengangguk-angguk entah apa yang dipikirkannya (mungkin ikut bersimpati) :D . Tapi saya pun hanya bisa mendo'akan semoga orang yang pada hilang itu bisa kembali lagi, layaknya seperti presenter televisi yang seringkali menerima laporan orang hilang, namun hanya bisa memberikan harapan dan do'a... :D

Yaa mungkin hari-hari kedepan saya berharap ketika melihat tian-tiang listrik lagi, yang terpampang bukan lagi pengumuman tentang orang hilang, tapi pengumuman tentang para koruptor, apabila ada yang menangkapnya maka akan diberikan imbalan sebesar uang yang telah dikorupsinya...hehehe...  

     

20 Juni 2011

DIA (cerita bersambung) #6

Terlelap di Hamparan Awan Putih

Beruntung malam kali ini langit tidak menurunkan air hujannya seakan tahu Titan dan Nera tengah tersenyum, begitu pula dengan bulan yang membentukan bulatan penuh dan jutaan bintang yang silih berganti mengerlipkan sinarnya. Segalanya semakin menambah suasan bumi, langit dan hati mereka benar-benar menjadi indah, hampir tidak ada sama sekali yang mengalangi rasa bahagia mereka. Nera tiba dirumah dengan membawa labih dari berjuta rasa bahagia, begitu pula yang terjadi dengan Titan kali ini ia langsung menuju rumahnya, tidak ada lagi keinginannya untuk berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas, dan mungkin kali ini pula ia akan menikmati secangkir coklat hangat penuh kedamaian, sehingga mang Kodar tidak lagi harus tidur selarut malam-malam yang telah lalu.

Nera membawa berjuta warna kedalam rumahnya, warna-warni yang teramat indah dari jalan hidupnya dan mungkin kali ini ia tak akan lagi tertegun dan termenung memandangi cermin di meja riasnya, kotak cincin pemberian Titan kali ini tidak lagi menjadi sebuah misteri melainkan sudah benar-benar menjadi sesuatu yang berharga dan bermakna. Langkahnya tak lagi berat tapi lebih mantap, hingga pintu rumah yang tertutup pun ia buka dengan tanpa beban dan pemandangan yang terlihat dari wajahnya adalah cerah. Malam kali ini tidak ada yang menyambutnya, namun yang terlihat di kursi tamu adalah bapaknya yang sedang tertidur masih memakai kacamata bacanya, dan terlihat juga oleh Nera beberapa buku yang berada di meja dan satu buah buku yang masih dipegang oleh bapaknya, Nera hanya tersenyum memandangi bapaknya yang sedang terlelap dan cukup pulas walaupun hanya tidur dikursi, tapi disisi lain Nera juga begitu kagum pada bapaknya itu, dihari-hari tuanya masih gemar dan begitu semangat dalam membaca.

“pak…paak…”

“paaak.” Ucap Nera perlahan sambil mengusap lengan bapaknya membangunkan dengan hati-hati. Lalu tidak lama kemudian bapaknya terbangun, sedikit terheran karena bisa tertidur cukup pulas.

“eh kamu nak.” Ucapnya sambil membetulkan letak kacamata.

“iya pak, kok bapak tidurnya dikursi, dikamar saja pak, disini dingin.”

“iya tadi bapak keasyikan baca buku, enggak kerasa sampai ketiduran, ya sudah kalau begitu bapak terusin tidurnya di kamar, bukunya biarkan saja disitu, besok pagi mau bapak terusin.”

“iya…iya, bukunya enggak akan nera pindah kemana-mana, ayo bapak ke kamar saja.” Suruh Nera lagi. Dan kali ini bapaknya pergi berlalu menuju kamarnya, yang ada diruang tamu kini hanyalah buku-buku bacaan milik bapaknya. Tapi justru kali ini Nera yang malah terduduk dan hanya di temani oleh bayangan-bayangan indah yang sengaja ia hadirkan sendiri. Sambil memandang kearah langit-langit rumah, Nera sesekali tersenyum. Heningnya malam seakan dipenuhi oleh lantunan nada-nada yang merdu, dingin menjadi hangat oleh dekapan selimut kabut malam berwarna merah muda. Kebahagiaan hatinya melebihi luasnya dunia yang sedang di pijak. Bulan seakan mudah diraih dan bintang seakan mudah digapai. Tak ada lagi cerita kegelisahan yang terbawa angin malam lalu menguap ke angkasa yang kadang menjadi endapan air mata. Kali ini hanyalah hembusan bahagia, bahagia dan bahagia yang mungkin akan menjadi alur cerita baru bagi mimpinya. Dan karena esok pagi sudah pasti, maka Nera hanya ingin terlelap dengan membawa rasa cinta.

“loh aku kok jadi senyum-senyum sendirian sih?” ucapnya pelan sambil menengok ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya.

“apakah ini yang dinamakan bahagia?”

“ah biarkan saja, lebih baik aku tidur.”

Maka pergilah Nera, beranjak dari tempat duduknya menuju kamar tidur mengikuti mereka-mereka yang sudah terlelap lebih dulu. Namun sepertinya kali ini Nera tidak perlu lagi mengarahkan wajah dan pandangannya pada langit-langit hingga harus menembus angkasa yang paling tinggi, tempat tidur layakanya seperti awan putih dan lebih putih dari kapas, walaupun di beberapa tempat terlihat samar-samar mendung, namun tidak terlalu pekat warna gelapnya, bagi Nera tetap saja semua itu indah. Akan tetapi ketika Nera menyelam dalam lautan bahagia, ia harus segera naik ke permukaan lautan, teringat pada satu lagi pertanyaan Titan yang menginginkan pertemuan kedua keluarga. Namun keinginan Titan itu bukan lagi sesuatu yang memberatkan Nera, toh kedua orang tuanya pun sudah menyatakan setuju.

>>><<<

Minggu adalah sebuah rehat, namun tidak sedikit pula orang yang masih bekerja pada hari itu. Tapi bagi Nera minggu adalah malas, bukan malas untuk bergembira dan bersenang-senang tapi malas melihat tumpukan pakaiannya yang belum tercuci, ibarat melihat sebongkah batu yang cukup besar menghalangi jalan dan ia harus memindahkannya, tapi jika tidak segera dicuci itu artinya tidak ada pakaian untuknya bekerja, maka barulah jika ingat akan hal itu Nera segera menjadi giat, dan seperti biasanya minggu bagi keluarga Nera adalah mingu yang biasa-biasa saja hanya sedikit lebih santai. Padahal hari itu Nera mempunyai satu tugas yang mungkin saja akan mengubah hari minggu bersama keluarganya menjadi sedikit luar biasa – lahir dan batin.

Seluruh pakaian sudah Nera cuci dan sepenuhnya sudah ia jemur, kini tinggal satu tugas lagi belum ia tunaikan. Diruang tempat biasa Nera dan kedua orang tuanya menonton televisi, ia mendapati ibu dan bapaknya tengah bersanti di temani sepiring cemilan dan teh manis, kemudian Nera pun ikut bergabung.

“wah lagi pada nonton apa nih ibu sama bapak, pada serius banget.”

“enggak tahu nih bapak nonton apa, salurannya dipindah-pindah terus.” Jawab ibunya, dan yang menerima kritikan seakan tidak peduli.

“makanya beli tv nya sepuluh bu, biar bisa nonton semuanya ga dipindah-pindah kaya sekarang ini.”

“ah kamu ini ada-ada saja.” – tertawa. Dan bapaknya masih belum menyadarinya. Lalu tidak berapa lama bapaknya memandangi Nera sedikit merasa heran.

“sebentar…kok tumben kamu ikut ngumpul disini?”

“oh bapak tahu, pasti kamu lagi ada maunya, iya kan?”

“enggak juga pak nera pengen aja ngumpul bareng disini, emang enggak boleh ya pak?” Tersenyum malu karena maksud dan tujuannya hampir diketahui.

“bukan enggak boleh, cuma tumben-tumbenan saja.”

“iya nih kayanya ada sesuatu deh, ayoo ada apa?”

“ya udah deh nera terpaksa cerita.”

“tuh kan bu bener!.” Bapaknya langsung menyambar.

“kamu terpaksa cerita apa memang ada yang mau kamu ceritakan?”

“yaa pokoknya nera mau cerita, ibu sama bapak sementara jadi pendengar dulu ya?”

“iya..iya..” jawab ibu dan bapaknya bersamaan.

“jadi begini bu, pak, kemarin nera ketemu sama titan, terus titan nyuruh nera nanyain sama ibu sama bapak, kapan keluarga titan bisa datang kesini, begitu bu, pak.”

“terus dia maunya kapan?” ujar bapaknya serius, sambil tetap menonton televisi, sedangkan ibunya masih terus memperhatikan.

“ya kalau titan sih maunya secepatnya pak.”

“oooh jadi kamu juga udah kebelet mau nikah yaa?” ucap ibunya sambil tersenyum dan Nera hanya terdiam malu mendengar ucapan itu.

“jadi gimana pak, sekalian silaturahmi, lagipula kita juga kan belum pernah ketemu sama keluarganya titan.” tanya ibunya.

“yaa kalau bapak sih kapan juga tidak jadi masalah, kalau memang nera pengennya cepat, minggu depan juga bisa.”

“ya sudah minggu depan saja, gimana sayang?”

“boleh…boleh bu, lebih cepat lebih baik!”

“kaya calon presiden saja kamu, bilang kaya gitu.” – semua tertawa.

Maka segalanya telah jelas bagi Nera, semua itu telah membuatnya menikmati hari minggu dengan penuh suka cita, dan berharap menjadi kabar yang baik tentunya bagi Titan dan keluarganya. Lalu tanpa pikir panjang lagi saat itu juga Nera langsung memberi kabar pada Titan, dan setelah itu kembali meneruskan kehangatan berkumpul dengan kedua orang tuanya – minggu yang tidak biasanya.

12 Juni 2011

DIA (cerita bersambung) # 5

Kembali ke Kafe

Didalam mobil, Titan dan Nera benar-benar menghadirkan suasana yang menyenangkan, tentunya untuk mereka berdua, dari keduanya banyak cerita saling berbalas seolah tidak ada habisnya. Namun dari semua itu ternyata Titan mempunyai rencana yang sama sekali belum diketahui oleh Nera, akan tetapi lambat laun petunjuk dari rencana Titan itu lambat laun mulai terkuak sedikit demi sedikit oleh Nera, salah satunya jalan yang sedang dilalui oleh mereka berdua. Jalan itu sudah tidak asing lagi terutama bagi Nera dan pembicaraan pun sejenak terhenti, Nera berpikir dan bertanya-tanya kemana Titan hendak membawanya.

“mungkinkah ke kafe itu?” bisiknya dalam hati.

Titan yang berada disebelahnya sambil mengandalikan stir mobil ia sesekali melirik kearah Nera – dan Titan hanya tersenyum saja melihat Nera yang tampak sedang memikirkan sesuatu, mungkin Titan pun merasa sudah berhasil membuat Nera jadi bertanya-tanya, dan Nera tidak menyerah begitu saja dengan tidak menanyakannya pada Titan.

“sayang kenapa kok kamu kaya orang lagi bingung?”

“enggak, enggak ada apa-apa, cuma mengingat-ingat lagi pekerjaan di kantor, kalau-kalau ada yang terlewat.” Jawab Nera dengan mantap, namun jalan yang dilalui dan tempat yang dituju semakin dekat dan semakin meyakinyak Nera jika tempat yang dituju oleh Titan adalah tempat dimana ia pernah memberinya sebuah kotak cincin. Tapi pertanyaannya kali ini apa yang akan dilakukan oleh Titan kali ini di kafe penuh kenangan itu, dan pertanyaan itu kali ini Nera coba abaikan dan biarlah segalanya ia ketahui mengalir dengan apa adanya. Kemudian Nera berusaha mengurangi garis-garis kebingungan dan tanda tanya diseluruh wajahnya, bersikap biasa-biasa saja dan kembali mengajak Titan berbicara kesana kemari, tidak lupa juga selalu diselingi dengan canda.

>>><<<

Sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi sudah tampak dihadapan Nera, ya kafe yang benar-benar tidak akan pernah ia lupakan, Nera merasa seperti dejavu karena Titan membawanya kembali ke tempat itu. Tapi Nera pikir Titan tentunya akan memberikan sesuatu lagi atau akan bertanya sesuatu yang penting lagi.

Mobil pun sudah diparkir, lalu keduanya segera keluar – berjalan bersama menuju kafe itu. Lagi-lagi Nera seakan dipaksa untuk mengingat kembali peristiwa yang telah berlalu ditempat itu, penyebabnya tidak lain adalah Titan yang memesan meja persis ketika Nera menerima kotak cincin dari Titan, Nera kembali merasa was-was karena ia kali ini ada dalam keadaanya yang sedikit lelah jika harus kembali bergulat dengan batinnya – berdiskusi dengan hatinya. Titan yang masih menyimpan kata-katanya kemudian mempersilahkan Nera untuk duduk terlebih dahulu lalu Titan menyusul, seakan tak ingin di dahului oleh kedatangan pelayan kaf, sesaat beberapa menit saja terduduk di kursi yang saling berhadapan, Titan langsung melancarkan serangan menuju sasarannya. Kalimat-kalimat dari pesan singkat yang diterima benar-benar ingin Titan dengar langsung dari Nera. Mendengar permintaan itu Nera merasa malu dan merasa apakah belum cukup meyakinkan bagi Titan, namun dengan cepat pikiran Nera berubah karena takut semua ini akan kembali menjadi berlarut-larut, toh Nera pikir hanya mengatakan isi dari pesan yang dikirimkannya pada Titan. Dan akhirnya Nerap pun mengeluarkan pernyataannya seputar kotak cincin itu, lalu hasilnya dengan kalimat yang tidak lebih dari dua baris kalimat sudah cukup membuat Titan tersenyum lebar dan di mata Nera senyum Titan itu merupakan bagian kecil dri ungkapan rasa bahagianya, selain itu juga Nera merasa telah berhasil meyakinkan kekasihnya itu.

Diatas meja setelah acara “dengar pendapat” itu, tangan Titan kemudian menggenggam kedua tangan Nera – dan Nera pun gugup tertunduk dengan senyum. Meskipun yang terdengar hanya ucapan terima kasih, tapi bagi Nera ucapan yang singkat itu mempunyai kekuatan dan tentunya denga perasaan yang begitu dalam sehingga mampu menggetarkan saraf-saraf tubuhnya. Genggaman tangan Titan belum terlepas, namun bersamaan dengan itu ada sesuati yang membuat Titan masih belum sempurna, kemudian ia pandangi satu per satu jari tangan Nera dan ternyata cincin pemberiannya masih belum Nera pakai, Titan menduga mungkin benar saja Nera hanya sebatas membuka kotaknya saja tanpa memakaikan cincinnya, Titan kembali sedikit gundah, dan agar kegundahannya itu tidak terlalu meluas Titan segera menanyakannya pada Nera. Dan Nera yang sama sekali tidak merasa kaget dengan pertanyaan Titan itu dan seolah sudah mengetahui akan datangnya pertanyaan itu ia jawab dengan lugas dan juga diplomatis bahwa jika cincinnya ia pakai sekarang akan terasa biasa saja dan tidak begitu istimewa, Titan yang masih menggenggam tangan Nera bisa menerima alasannya, dan tanpa di duga oleh Nera ternyata Titan yang sama sekali tidak menanggapi alasannya itu langsung saja mengeluarkan mengeluarkan “serangan” berikutnya, ibarat menodongkan sebuah pistol disertai dengan ancaman. Titan bertanya kapan dirinya dan orang tuanya bisa datang ke rumah Nera untuk melamarnya dan kemudian menentukan tanggal pernikahannya dengan sesegera mungkin. Nera kembali dapat menjawab dengan singkat dan untuk sementara ini jawabannya membuat Titan terdiam, Nera menjelaskan jika dirinya akan merundingkannya terlebih dahulu dengan keluarganya.

Seakan sudah merasa lengkap dan jelas dengan semuanya, kemudian di menit-menit berikutnya yang terus berjalan adalah pembicaraan yang biasa-biasa saja tidak ada yang lebih mendalam hanya sebatas masalah-masalah pekerjaan masing-masing, semua hal yang sedang dan telah terjadi, dan segalanya yang dianggap menarik untuk dibahas.

Di kafe itu kali ini lebih singkat dari pada yang sebelumnya, setelah menghabiskan makanan lalu diam sesaat kemudian mereka berdua langsung saja meninggalkan kafe itu tanpa ada perasaan yang mengganjal sedikitpun di hati keduanya. Dan sepertinya untuk sementara Titan dan Nera tampak akan melupakan kafe itu setelah mereka berdua benar-benar telah menikah atau mungkin juga kafe itu akan menjadi tempat berpikir dan merenungkan segala masalah yang terjadi, atau mungkin sebagai tempat untuk menyendiri – lagi.

06 Juni 2011

DIA (cerita bersambung) #4

Pesan Singkat

Dibawah terik sinar matahari, angkutan kota yang ditumpangi oleh Nera berhenti tepat di depan kantor tempat kerjanya, sebelum keluar dari mobil Nera membuka dompetnya dan tiga lembar uang seribuan segera diberikannya pada sopir angkutan yang sopan itu.

“nuhun neng.” Ucap pak sopir.

“sami-sami pak.” Balas Nera, kemudian membuka pintunya dan keluar berlalu meninggalkan angkot dengan terburu-buru. Dan yang terasa oleh Nera siang itu saat berada di dalam mobil angkot dan saat keluar adalah sama saja – panas, Nera merasa ada sedikit kesalahan dengan pakaiannya, blazer berwarna hitam yang dikenakannya ternyata telah menambah rasa panas dan gerah, tapi bagaimanapun Nera tetap menyukai blazer dengan warna-warna gelap termasuk hitam. Merasa tidak mengikuti meeting Nera berjalan dengan tergesa-gesa, sampai-sampai satpam yang biasa disapanya kali ini ia abaikan, dan satpam yang berjaga pun tampak keheranan melihat Nera yang terburu-buru seperti itu. Dari lantai dua tampak beberapa orang laki-laki dan perempuan yang baru saja selesai mengikuti meeting di ruang utama – dan mereka juga teman kerja Nera, mereka menuruni tangga hendak beristirahat dan tentu saja Nera yang akan menuju ruang kerjanya yang juga ada di lantai dua secara pasti berpapasan dengan rekan kerjanya itu, Nera yang tampak sedikit malu karena tidak ikut meeting menghentikan langkah teman-temannya itu seraya menanyakan perihal materi pembahasan saat meeting, dan beruntung bagi Nera, teman-temannya itu tanpa sungkan menjelaskan intisari dari hasil meeting tadi – dan anak tangga pun penuh oleh mereka.

Saat melewati ruang meeting tampak pimpinan yang masih berkumpul dengan beberapa stafnya, Nera tidak mempedulikannya ia terus berjalan menuju ruang kerjanya yang tepat berada di sebelah ruang pimpinan, Nera yang tanpa memberi salam dan kata-kata apapun langsung memasuki ruangannya dan duduk di kursi kerjanya lalu meraih remote AC dan menyalakannya untuk menghilangkan rasa gerahnya. Sambil menikmati udara sejuk nan dingin yang keluar dari AC, Nera membuka-buka map yang tertumpuk disebelah kanan mejanya, mencermati tugas apa saja yang harus dikerjakannya saat itu. Dan akhirnya Nera baru tersadar betapa banyaknya pekerjaannya yang masih belum selesai karena terlalu sering ia tunda, kemudian ia tutup kembali tumpukan map-map itu, seolah semua pekerjaan yang menunggunya itu seperti hamparan ladang gersang yang harus segera di garap, namun betapa malasnya ketika harus menggarapnya seorang diri. Kemudian Nera lebih memilih untuk menengok telepon genggam yang berada di dalam tasnya, sejak keberangkatannya dari rumah hingga menuju tempat kerjanya belum pernah ia lihat keadaannya.

“lebih baik aku lihat dulu.”

Namun ketika Nera melihat layar telepon genggamnya, dengan mata setengah terbelalak merasa kaget dan tidak diduga ternyata di layar telepon genggamnya tercantum pemberitahuan enam kali panggilan tidak terjawab dan satu buah pesan yang jelas-jelas belum terbaca, dengan perasaan was-was Nera kemudian menelusuri siapa yang meneleponnya hingga enam kali berturut-turut, dan seketika itu pula Nera sedikit terhenyak karena rentetan panggilan tak terjawab itu semuanya dari Titan. Lalu Nera menduga satu pesan yang belum terbaca pun pasti dari Titan dan dengan segera Nera membacanya, dan benar saja sederet tulisan singkat yang dikirimkan oleh Titan itu kembali membuat Nera harus memutar otak untuk menjawabnya, tapi Nera tidak langsung menjawabnya ia biarkan beberapa saat pesan itu.

Sayang apakah kotak cincinnya sudah kamu buka.

Dan apa yang Nera rasakan adalah ternyata alasan selalu datang disaat yang tepat, sehingga mau tidak mau harus segera membalas pesan Titan itu, namun akhirnya Nera mempunyai sebuah pemikiran yang cukup bijak untuk dijadikan alasan, “jika hanya kotak cincin pemberiannya aku buka, dan titan menjadi bahagia, dan hanya itu kebahagiaannya, maka akan aku balas pesannya itu dengan kata-kataku yang bisa membahagiakannya” tutur Nera perlahan.

Sayang maaf pesannya baru aku baca, dikantor banyak banget kerjaan, tapi kotaknya sudah aku buka, bagus banget, makasih ya sayang.

Pesan pun terkirim, Nera berharap Titan bisa benar-benar bahagia dengan balasan pesannya itu, apakah pesannya itu akan dibalas kembali atau tidak oleh Titan, Nera sama sekali tidak peduli. Ia lebih memilih kembali beralih pada tumpukan map-map pekerjaannya sambil berharap samua pekerjaannya itu bisa ia selesaikan hari itu juga, terlebih lagi ia merasa malu karena tadi pagi tidak mengikuti meeting.

>>><<<

Disela-sela mengerjakan tugas-tugas kantornya yang masih cukup banyak itu, tiba-tiba telepon genggam Nera berdering tanda sebuah pesan masuk, ia tatap sejenak layar telepon genggamnya itu kemudian mulai membaca isi pesannya – dan ternyata balasan dari Titan.

Sayang terimkasih banyak, aku senang banget kamu sudah buka kotaknya, mudah-mudahan kamu juga senang, nanti sore boleh aku jemput?

Kali ini Nera tersenyum saat membacanya, Nera merasa dirinya sudah berhasil membuat kekasihnya itu bahagia, dan disaat yang sama pula hati Nera pun mulai terbawa arus kebahagiaan yang Titan rasakan, lebih jauh lagi Nera berpikir bahwa Titan bisa jadi benar-benar tulus mencintainya, dan pada detik itu pun Nera dan hatinya mulai merasa mantap untuk melangkah ke arah berikutnya untuk membuka lembaran-lembaran baru bersama Titan, dengan penuh rasa bahagia pula Nera segera membalas pesan itu.

Iya sayang sama-sama, aku juga bahagia banget, boleh, aku tunggu.

Karena keduanya mungkin sama-sama sudah menemukan titik kebahagiaanya, sehingga tidak perlu ada lagi penjelasan lainnya, atau mungkin juga Nera dan Titan sudah meleburkan segala kegundahan dan kegelisahannya, terutama bagi Nera hal itu seakan seperti menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sangat besar bahkan lebih besar dari pada pekerjaan di kantornya. Akibat dari rasa bahagia yang Nera rasakan saat ini, baginya merupakan sebuah energi yang menjadikannya seakan dapat berbuat apapun dengan mudah tidak terkecuali untuk menyelesaikan segala pekerjaannya yang semula dirasa tak kunjung selesai, segalanya terasa begitu lancar tanpa ada hambatan dan tanpa kebosanan sedikit pun. Kemudian disertai dengan rasa bahagia pula, pekerjaan yang menumpuk itu ia selesaikan satu persatu, para staf yang sering berlalu lalang pun tak dihiraukannya, Nera benar-benar menikmati harinya dan seakan menjadi pemandangan yang sangat jarang terjadi, ia kerjakan pekerjaannya dengan tersenyum.

Dalam keasyikannya itu seperti tak sadarkan diri sampai-sampai atasan Nera yang cukup lama memperhatikannya dan semula akan meminta pekerjaan yang sudah selesai tertegun menatap heran pada Nera, karena merasa baru pertama kali Nera bekerja begitu semangat – dan merasa belum berani untuk menegur. Namun karena sang manajer membutuhkan hasil pekerjaan Nera, maka dengan terpaksa ia pun bertanya walaupun ia tahu hal itu akan membuat Nera sedikit merasa malu.

“ehm, nera kamu baik-baik saja kan?” tanya manajer dari balik pintu.

“eh..mmm i…iya pak saya baik-baik saja, ada apa ya pak?”

“enggak ada apa-apa saya cuma mau minta laporan kerjaan kamu, sudah selesai semua belum?”

“aduh maaf pak belum, tapi sedikit lagi selesai kok, hehe.”

“oh ya sudah, kalau sudah selesai semua tolong kamu antarkan ke ruangan saya ya?”

“iya baik pak.” Jawab Nera masih menyimpan rasa malu.

>>><<<

Jam dinding di ruang kerja Nera sudah menunjukkan tepat di penghujung jam kerjanya, itu artinya Nera harus segera pulang, tapi ia ingat pesan Titan yang akan menjemputnya dan mengantarkannya pulang. Sambil menunggu Titan menjemputnya, Nera memilih untuk membereskan ruang kerjanya dari benda-benda yang dirasa masih berantakan dan sangat tidak nyaman dipandang oleh matanya. Meja yang masih berantakan oleh kertas bekas coretan-coretan Nera, lalu mematikan AC yang hampir saja ia lupa untuk mematikannya, dan tepat ketika Nera membetulkan letak figura foto dirinya bersama Titan yang tersimpan dimeja kerjanya, bersamaan itu pula sebuah kembali masuk menuju telepon genggamnya, Nera dengan tenang kemudian membacanya – pesan dari Titan.

Sayang aku sudah didepan kantor. Tanpa membalasnya Nera langsung bergegas pergi dengan sebelumnya menatap agak lama pada figura foto yang sudah ia betulkan letaknya, dan ia tinggalkan ruang kerjanya yang juga meninggalkan sederetan tugas yang telah ia selesaikan namun belum sempat ia serahkan pada atasannya.

“pak ruangan saya belum dikunci.” Ujar Nera pada salah seorang petugas keamanan yang sedang perdiri di depan pintu keluar.

“oh iya bu, baik nanti saya kunci.”

“terima kasih ya pak.”

Beberapa meter dari depan pintu masuk kantornya sudah terlihat jelas mobil Titan – dan Titan sedang memandanginya, Nera sambil melambaikan tangannya terus berjalan menuju dimana Titan berada. Saat semakin mendekat, Titan pun keluar dari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Nera, keduanya terlibat tegur sapa dan saling berbalas senyum, seolah sudah mengetahui rencana masing-masing di masa depan. Mobil Titan kembali dinyalakan dan kali ini disampingnya sudah terduduk orang yang paling disayanginya, senyum, canda dan tawa mulai menghiasi ruang mobil Titan, dan di sore itu dengan membawa perasaan bahagia pula mereka berdua perlahan meninggalkan kantor Nera yang hanya tinggal beberapa karyawan dan petugas keamanan.

31 Mei 2011

DIA (cerita bersambung) #3

SARAPAN PAGI

Diruang makan ibu dan bapak Nera sudah menunggu, di meja makan pun sudah tersedia oleh menu-menu khas sarapan, dan salah satu menu kesukaan keluarga itu – nasi goreng. Sambil menunggu Nera, ibunya bercerita pada suaminya perihal apa yang dilihatnya semalam, suaminya itu tampak serius mendengarkannya sambil mengumpulkan berbagai macam kesimpulan sebagai bentuk persiapan untuk menjawab jika saja di ujung cerita muncul berbagai macam pertanyaan “kalau menurut ayah bagaimana?”, namun sebelum semua makanan yang ada di meja menjadi dingin, cerita ibu yang semula akan sangat panjang ternyata berakhir juga, tapi benar saja pertanyaan yang tidak diharapkan kehadirannya akhirnya datang juga menghampiri.

“terus kalau menurut ibu gimana?” balik bertanya.

“loh kok bapak malah balik tanya sih?”

“ya kalau menurut bapak sih, bapak setuju-setuju saja kalau nera mau menikah sama titan, kalau memang sudah waktunya kenapa enggak bu.”

Merasa pikirannya sama ibu pun hanya tersenyum, terlebih lagi ibunya Nera sejak lama sudah memimpikan kehadiran seorang cucu di rumahnya, dan sepertinya hal itu akan segera terwujud, pikir ibunya. Kemudian di saat segala cerita dan tanya jawab itu selesai, di saat itu pula Nera muncul dari kamarnya berjalan menuju ruang makan, sedikit tergesa-gesa dan tampak sedikit merasa bersalah karena telah membuat kedua orang tuanya menunggu. Di tempat duduknya yang tepat menghadap ke arah ibunya, Nera tidak langsung mengambil makanan, tapi Nera merasa heran dengan raut wajah ibunya yang terlihat tersenyum lembut sambil sesekali melirik ke arah Nera, saat itu belum ada sesuatu hal yang perlu ditanyakan oleh Nera pada ibunya, sedangkan bapaknya terlihat santai-santai saja, yang ada saat itu bagi Nera adalah suasana yang tidak seperti biasanya, semuanya seakan-akan sedang merasakan sesuatu hal yang begitu membahagiakan, bahkan Nera merasa dirinya anek ketika ibunya meliriknya sambil tersenyum.

“pa bu ada apa sih, kok pada aneh begitu?”

“gak ada apa-apa kok.” Jawab ibunya masih terus tersenyum.

Lantas bapaknya yang melihat raut wajah anaknya yang sedikit tidak puas dengan jawaban ibunya, segera memotong tanya jawab ibu dan anak itu dengan mengajak keduanya untuk segera sarapan, maka satu persatu dari mereka mulai menikmati santapan di pagi hari itu.

>>><<<

Dua, tiga suapan sudah terlewati dan di pertengahan sarapan mereka yang belum habis, ibu Nera kali ini yang menatap heran pada anak semata wayangnya itu dan baru menyadari kalau pakaian Nera bukan pakaian yang biasa-biasa saja.

“loh nera kamu kok enggak kerja?”

“kerja bu, cuma hari ini ada meeting, nera enggak ikutan, males, jadi nanti siang saja nera ke kantornya.”

Apa yang Nera jelaskan seperti itu, kedua orang tuanya hanya menganggukan kepalanya perlahan dan meneruskan sarapan yang masih tersisa. Dan dengan sekejap pula ibunya berpikir bahwa inilah sebenarnya waktu yang tepat untuk sekedar ingin tahu tentang asal usul kotak cincin itu, lalu tanpa menunggu aba-aba dari siapapun ibunya langsung bertanya pada Nera yang sepertinya jiga terlihat sudah siap dengan segala pertanyaan yang akan segera menghampiri dirinya.

“nera waktu semalam ibu ke kamar kamu, ibu enggak sengaja lihat kotak cincin di meja rias kamu, saat itu ibu agak penasaran mau tahu tentang kotak cincin itu, tapi ibu pikir karena sudah malam jadi lebih baik ibu tanyakan saja besok, nah sekarang ibu cuma ingin tahu saja sayang, sebenarnya kotak cincin itu kamu dapat dari mana?”

“dari titan?”

“apa dia mau melamar kamu?”

“kapan dia ngasihnya?”

“kok kamu enggak bilang-bilang sama ibu?”

“berarti kamu sebentar lagi mau nikah ya?”

Mendengar serentetan pertanyaan dari ibunya itu, Nera hanya diam sambil menahan senyum, walaupun sebenarnya semua pertanyaan itu cukup berat untuk dijawab, tapi akhirnya Nera pun merasa tidak masalah dengan semuanya karena memang semuanya harus segera dijelaskan pada kedua orang tuanya. Bapaknya pun tersenyum mendengar pertanyaan borongan itu, lantas ibunya menjadi bingung sendiri perasaannya seakan-akan bersalah dan hampir saja berniat meinggalkan meja makan.

“memangnya pertanyaan ibu itu lucu ya?!”

“bapaknya juga sama malah senyam-senyum!” ujarnya lagi sambil melemparkan wajahnya ke arah suaminya, sedangkan yang menerima perkataan itu santai saja mengunyah makanan. Melihat suasana di meja makan yang kian “memanas” dan Nera juga merasa kalau ibunya itu sedikit kurang bisa di ajak bercanda, maka dengan segera menceritakan segala sesuatunya yang sangat ingin di ketahui oleh ibunya itu.

“habisnya ibu nanyainya kaya orang lari marathon saja.” Jawab Nera.

“ya sudah nera kasih tahu sama ibu, iya bu kotak cincin itu dari titan, dikasihnya tadi malam, secara enggak langsung sih itu bisa dibilang lamaran, dan secara terus terang juga titan ngajak nera buat nikah bu.”

“tuh kan apa ibu bilang juga, kalau memang begitu ibu sama bapak sih setuju-setuju saja sayang, titan juga kan orangnya baik, ya kan pak?”

“iya deh gimana ibu saja.”

“dasar bapak ini, susah ya kalau diajak bicara.”

Lalu meletuslah tawa dari Nera dan bapaknya, ibunya pun dengan terpaksa kemudian harus ikut tertawa lalu lambat laun suasana di meja makan semakin mencair dan menyatu. Selanjutnya Nera pun bercerita tentang segalanya bersama Titan selama ini, dan hal itu dilakukannya dengan maksud agar menjadi bahan pertimbangan kembali bagi orang tuanya untuk menerima Titan sebagai menantunya atau tidak.

Dan pagi hari saat berkumpul di meja makan itu menjadi seikit serius namun juga santai, Nera ceritakan semuanya dan mengalir apa adanya, tentu saja dengan sisi baik dan buruknya, tentang pasang surut hubungannya dan segala hal tentang jalinan cintanya. Segala saran dan masukan menjadi bagitu berarti bagi Nera, dan sejak sejak saat itu pula pesan-pesan bijak yang Nera terima sedikit demi sedikit dapat mengikis keraguannya dan juga dapat mendamaikan hatinya yang semula begitu resah. Namun bagi kedua orang tuanya semua keputusan sepenuhnya adalah hak Nera yang seharusnya tidak bisa dicampuri lebih jauh, karena mereka berprinsip bahwa kebahagiaan tidaklah bisa dipaksakan begitu pula dengan Nera, selain dirinya yang ingin merasakan bahagia, segala keputusannya justru ingin lebih membahagiakan kedua orang tuanya.

27 Mei 2011

DIA (cerita bersambung) #2

Secangkir Teh Hangat

Tepat didepan pagar rumah berwarna hijau muda, Nera sedikit terburu-buru keluar dari mobil Titan, disambut oleh rintik hujan yang turun dengan mendadak, singkat saja kata yang terucap oleh Nera pada Titan sebagai simbolisasi bahwa ia sudah sampai dirumah – akan pulang dan berpisah, Titan pun membalasnya dengan tidak kalah singkat, yang juga sebagai simbolisasi respon terhadap kekasihnya agar tidak mengecewakannya, walaupun dengan senyuman namun senyuman Titan itu terkesan dingin, sedingin sambutannya pada rintik-rintik hujan. Suara bunyi klakson mobil Titan menjadi pertanda perpisahan mereka, dari dalam mobilnya Titan melambaikan tangannya kemudian Nera yang menutupi rambut panjangnya dari siraman hujan oleh tas nya yang cukup lebar membalas lambaian tangan dari kekasihnya, dan Titan pun perlahan bergerak maju membawa mobilnya dengan meninggalkan Nera di depan pagar rumahnya – seorang diri. Nera pun segera membalikkan tubuhnya menghadap pagar, dengan tergesa-gesa pula Nera membuka kuncinya karena merasa pakaiannya mulai terasa basah oleh tetesan air hujan. Beberapa meter dari pagar Nera setengah berlari menuju pintu masuk rumahnya, dilihatnya gordyn masih terbuka begitu juga dengan lampu di ruang tamu yang masih menyala.

“tumben jam segini pada belum tidur.” Tutur Nera perlahan sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan jam sepuluh, kemudian Nera menyeka kedua lengannya yang juga basah, lalu mengetuk-mengetuk pintu. Tiga ketukan saja sudah cukup membuat pintu rumahnya itu terbuka, ternyata ibunda Nera yang lebih bersedia membukakan pintu.

“loh, nera kamu kehujanan ya?!”

“sedikit kok bu, pas sampai depan rumah pas turun hujannya.” Jawab Nera seraya mencium tangan kanan ibunya, Nera pun kemudian tidak berlama-lama berdiri didepan pintu dan langsung memasuki rumah, dimana ia sedikit demi sedikit mulai merasa kedinginan, langkahnya diikuti oleh ibunya yang terlebih dahulu menutup pintu kemudian menguncinya dan menutupi kaca depan rumah dengan merapatkan gordyn.

Nera segera menuju kamarnya yang berada di lantai dua dan segera pula mengganti pakaian basah yang dikenakannya oleh pakaian tidur. Seperti sudah lelah dan malas untuk berbuat apa-apa lagi, ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang dibalut sprei bermotif garis-garis melintang dengan warna-warna pelangi, tempat tidur kesayangannya itu pun menjadi salah satu saksi bisu segala keluh kesah saat mengurung diri dikamarnya. Disaat Nera merebahkan tubuhnya itu dengan tangan telentang, matanya memandang lurus ke atas menuju angkasa menembus langit-langit rumahnya, mengingat-ingat kembali, mencerna, merenungkan lebih dalam apa yang baru di lewatinya bersama Titan di kedai kopi tadi. Namun di tengah-tengah lamunannya itu Nera seperti teringat pada sesuatu, dan pikirannya kembali tertuju pada kotak cincin itu, ia pun terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju meja riasnya dimana tas yang menyimpan kotak cincin itu tersimpan disana. Dihadapan cermin meja riasnya, Nera perlahan merogoh kedalam tas kulitnya yang juga pemberian dari Titan, lalu diambilnya kotak cincin itu, Nera kembali hanya bisa menatapnya tanpa membukanya sedikit pun walau untuk hanya bisa sekedar mengintip isinya seperti apa tidak terpikirkan olehnya. Wajahnya yang semula tertunduk memandang kotak cincin lalu ia arahkan ke arah cermin, ia kembali berpikir dan sebenarnya apa yang Nera pikirkan bukanlah mengenai bagaimana bentuk cincin, terbuat dari apa, harganya dan lain sebagainya, Nera benar-benar tidak peduli dengan semua itu, dan sebenar-benarnya yang menjadi pertanyaan Nera apakah Titan itu laki-laki yang tepat untuk menjadi suaminya kelak?

Tok…tok…tok…

Suara ketukan dari luar pintu kamar Nera seakan menjadi jawabannya, ketukan itu kemudian diikuti oleh suara ibunya yang memanggil-manggil Nera yang masih memandangi wajahnya sendiri di cermin.

“masuk saja bu, tidak di kunci.” Ucap Nera terdengar datar, dan pintu kamarnya segera terbuka tampat ibunya dengan senyum hangat membawa sebuah cangkir kecil yang beralaskan piring kecil mengepulkan asap dimana minuman itu belum di ketahui oleh Nera. Nera yang masih terduduk dan masih menggenggam kotak cincinnya menoleh ke arah ibunya dan raut wajahnya segera berubah kembali dengan sedikit berseri dan antusias ketika mengetahui ibunya membawa secangkir minuman hangat.

“repot-repot segala bu bawain aku minuman, ngomong-ngomong yang ibu bawa itu minuman apa?”

“ini teh hangat sayang, biar badan kamu juga hangat, kamu tadi kan kehujanan.” Jawab ibunya lalu memberikan secangkir teh itu pada Nera. Dengan berdiri di sisi kiri Nera, ibunya dengan tersenyum menatap anaknya itu yang sesekali meminum teh buatannya, sambil mengelus-elus kepala Nera di saat yang bersamaan pula tatapan mata ibunya kemudia tertuju pada kotak cincin yang tersimpan di meja rias, dihadapan Nera. Sedikit mengerutkan dahi, pikiran ibunya coba menelusuri makna dari kotak cincin yang baru dilihatnya itu namun hal itu tidaklah berlangsung lama, lalu selebihnya ibu dan anak yang tidak ditemani sang ayah karena sudah terlelap lebih dahulu, hanya berbincang-bincang dengan topik yang ringan-ringan saja khas obrolan malam dan kadang ditemani oleh tawa, namun tak sedikitpun ibunya mengeluarkan pertanyaan yang mengarah pada keberadaan kotak cincin itu.

Waktu pun terus merambat menelusuri perjalanan malam, begitu pula air teh yang semula penuh berada di dalam cangkir sudah tak bersisa lagi, entah sudah berapa ratus bahkan mungkin ribuan kata yang sudah mereka ucapkan untuk bercengkrama hingga mengantarkannya melebihi tengah malam, yang terasa kemudian adalah kantuk, mereka berdua sudah mempunyai pikiran yang sama untuk menyudahi segala pembicaraannya, dan hingga akhir pembicaraan dengan ibunya Nera sama sekali tidak mengutarakan dan mencurahkan segala apa yang sedang berputar-putar dalam kepalanya, pun demikian dengan ibunya yang tidak menyinggung keberadaan kotak cincin itu, meskipun kepekaan seorang ibu sudah mengetahui apa yang sedang dipendam dan dirasakan oleh anaknya, namun nampaknya sudah terlalu malam untuk membahas hal-hal yanag tampaknya akan menguras seluruh pikiran anaknya. Ibunya memutuskan untuk bertanya esok hari disaat Nera sudah benar-benar tenang. Ibunya langsung mengambil cangkir teh yang sudah kosong itu, tak lupa membelai kembali kepala Nera dan menyuruhnya dengan kelembutan dan kasih sayang untuk segera tidur, Nera menatap kepada ibunya membalasnya dengan senyuman dan ucapan terima kasih yang tulus. Lalu dengan langkah perlahan ibunya berlalu meninggalkan Nera, dan beberapa saat kemudian Nera pun segera beranjak dari tempat duduk meja riasnya, memalingkan wajahnya ke arah tempat tidur, bantal dan selimut yang terlihat olehnya sangat begitu menggoda untuk segera terlelap didekap oleh malam dan membawanya berpetualang berfantasi dalam dunia mimpi.

>>><<<

Ditengah malam yang sudah dinikmati oleh sebagian orang dengan terlelap begitu juga dengan Nera, Titan baru saja sampai dirumahnya karena setelah mengantarkan Nera menuju rumahnya, Titan tidak lantas pulang ia langsung berkeliling kota tanpa ada maksud dan tujuan yang jelas – hanya berkeliling saja sambil mencari sebuah jawaban. Disepanjang jalan saat mengelilingi kota Bandung yang sangat lengang dan dingin, yang ada dalam pikiran Titan hanyalah kata “mengapa”, “mengapa” dan “mengapa” atau “apakah nera masih belum siap menjadi istriku?”. Masih di tengah perjalanan dan dengan perasaan yang setengah gamang, silih berganti tawaran-tawaran yang seolah sebagai solusi dan jawaban-jawaban semu berkelebatan dalam pikirannya – klab malam, alcohol, cinta semalam dan sejuta solusi lannya, tapi Titan coba menahan itu semua dan terus meyakinkan dirinya bahwa harapannya bersama Nera kelak bisa terwujud.

Titan terduduk di sofa, ia pandangi langit-langit memikirkan apa yang sebenarnya akan terjadi dengan masa depannya, sampai-sampai untuk melepaskan sepatunya Titan begitu malas, pikirannya benar-benar sudah menguras sebagian tenaga dalam tubuhnya. Namun angin malam selepas hujan yang masuk melalui pintu yang sengaja Titan biarkan sedikit terbuka cukup memberinya kesejukan ditengah-tengah kepenatannya, dan sesekali ia menarik nafas panjang.

“den ini minumnya.” Ucap mang Kodar, pembantu yang sudah sepuluh tahun bekerja di keluarga Titan, yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang dimana Titan duduk, lalu meletakkan secangkir teh hangat di meja tepat di hadapan Titan.

“loh mang kodar belum tidur?” tanya Titan sedikit kaget.

“belum den, kan mamang nungguin aden pulang, ya sudah den kalau begitu mamang tidur duluan ya.”

“oh iya…iya mang makasih, biar gerbang sama pintunya saya aja yang nguncinya.” Ucap Titan yang selalu merasa tidak tega jika melihat mang Kodar, apalagi di tengah malam seperti itu Titan semakin tidak tega untuk menyuruh mang Kodar mengunci pintu gerbang.

Sebelum menikmati secangkir teh hangat itu, Titan beranjak dari sofa menuju ke depan rumah unruk mengunci pintu gerbang, dan hawa dingin membuatnya untuk segera kembali masuk kedalam rumah dan menikmati secangkir teh hangat menjadi tujuan utamanya. Ditengah-tengah suasana pikiran dan jiwa yang sudah tersugesti menjadi santai oleh secangkir teh, kemudian Titan meraih telepon genggam yang terletak di meja, dalam benaknya ada keinginan untuk menghubungi Nera, namun ia berpikir bahwa itu tidaklah baik, lalu Titan mencoba untuk mengirimkan pesan singkat, tapi lagi-lagi pikirannya menolak, “jangan-jangan pesan ku itu akan menambah tekanan bagi nera”. Akhirnya benar-benar sudah tidak ada lagi celah baginya, dan segera menekan tombol switch off pada telepon genggamnya kemudian ia letakkan lagi pada tempatnya semula, dan kembali meminum dan menghabiskan teh yang hanya tinggal sekali teguk itu. Akhirnya Titan kembali bersandar pada sofa, dengan perlahan matanya mulai terpejam, membuatnya sudah tidak mungkin untuk pergi menuju kamar tidur, mungkin di sofa pun Titan tetap berharap bisa berbincang-bincang dengan Nera, walaupun itu hanya dalam mimpi.