08 Januari 2010

TELEPATI JILBAB HITAM

Setiap hari sabtu pagi, menjadi salah satu hari yang khusus bagiku untuk duduk-duduk santai sekedar menikmati segarnya udara pagi di taman-taman kota di kotaku yang katanya semakin panas dan katanya selalu macet jika akhir pekan tiba atau pada saat libur panjang. Tapi aku sama sekali tidak begitu peduli dengan segala kemacetan di hari sabtu atau minggu, habis mau apalagi. Yang penting taman kota harus selalu ada, apalagi hutan kota yang menjadi paru-paru kotaku, yang katanya juga akan berubah menjadi bangunan-bangunan mewah. Harusnya jangan pernah diganggu, karena jika alam diganggu, kemarahannya akan menjadi bencana bagi banyak orang, ya aku hanya berpikir menurut teori-teori yang sederhana saja.

Setiap kali aku berada si sebuah taman, selalu banyak orang-orang yang beraktifitas disana, aku hanya sendirian saja untuk pergi ke taman, aku selalu merasa malas untuk mengajak siapa pun. Banyak sekali yang dilakukan orang-orang di taman, ada yang berdiskusi santai, ada yang hanya jalan santai, yang sedang mengerjakan tugas beramai-ramai pun ada dan tidak jarang pula ada yang selalu berlatih sesuatu, salah satunya yang pernah kulihat dan sekaligus menarik perhatianku adalah sekumpulan siswa-siswa SMU yang berlatih semacam akting atau juga teater, dan bukan hanya aku saja yang ikut memperhatikannya tapi orang-orang yang ada di taman pada saat itu kebanyakan memperhatikan pula akting anak-anak sekolah itu.

Namun, dari sekian kali aku mengunjungi taman-taman kota setiap sabtu, pernah suatu waktu taman yang aku kunjungi tampak sepi, hanya ada beberapa orang pedagang makanan kecil dan seorang penual koran yang lalu lalang, tapi justru aku lebih leluasa untuk memilih dimana aku akan diam dan duduk, saat itu aku memilih tempat duduk di sebelah pojok taman karena di tempat duduk itu terdapar sebuah meja permanen dari semen, ternyata walaupun agak sepi suasananya lebih tenang dan lebih nyaman untuk menulis, menggambar ataupun membaca koran. Kemudian aku pun merasakan suasana yang membuatku terasa tidak kalah anehnya dan antara sadar dan tidak, tidak biasanya aku berbincang-bincang dengan seseorang ditaman, apalagi dengan seorang perempuan, lalu proses percakapannya itu yang aku anggap aneh karena percakapan itu dilakukan secara tidak lazim. Jika orang-orang pada umumya berbicara atau mengobrol dengan seseorang dan saling berhadapan tentunya akan mengeluarkan suara serta gerak tubuhnya sebagai ekspresi dari apa yang dibicarakan, gerakan bibirnya terlihat jelas bahwa seseorang itu tengah berbicara. Tapi justru apa yang aku lakukan tidak seperti itu, aku berbicara tidak mengeluarkan suara dan bibirku pun tertutup rapat.

Jadi ceritanya pada saat itu hari masih belum terlalu siang, dan aku masih sendirian di taman itu, aku keluarkan satu persatu buku catatan, balpoin, air mineral dan sebungkus kacang polong dari dalam tas ku, aku pun mulai menulis sesuatu tanpa tema apapun. Mengalir. Suasana yang benar-benar membuatku mengalir untuk menulis, lalu aku pun tidak lupa menuliskan teori yang baru kutemukan ini. Jika ingin menulis carilah tempat yang sejuk dan tidak terlalu ramai.

Angin perlahan-lahan mulai berhembus mengitariku, namun baru sejenak saja aku rasakan kesejukannya, angin yang baru saja datang itu ternyata tidak hampa, secara reflek aku menoleh kesebelah kananku dan sedikit terkesima tatkala yang aku pandangi adalah seorang perempuan berjilbab hitam kemudian berjalan dihadapanku, aku kira-kira usianya sekitar 23 tahunan, cerah, santai sambil berjalan menjinjing tas laptopnya. “hmm...jadi ini yang dibawa oleh angin” bisikku dalam hati. “begitulah alam diciptakan tidak pernah sia-sia” bisikku lagi. Perempuan berjilbab hitam itu kemudian duduk tepat dihadapanku, hanya berjarak kira-kira tiga meter saja dari tempatku duduk. Sebenarnya hal itu biasa-biasa saja dan tidak terlalu berpengaruh bagiku seandainya perempuan itupun duduk disebelahku. Tapi itulah aku pun tidak mengerti, sejak perempuan itu duduk dan membuka laptopnya, ada sesuatu yang menggangguku dan membuyarkan segala konsentrasi yang sudah dibangun. Aku kalah. Dan sesekali aku ingin memperhatikannya.

Pada awalnya, raut wajahnya tampak cerah menikmati kesejukan taman, sama halnya sepertiku. Tiga, empat kali aku perhatikan masih saja tampak cerah dan semangat mengutak-atik laptopnya, tapi ternyata tempat yang tidak begtu ramai membuatku sedikit banyak dapat mendengar suara-suara yang kecil dan terdengar jauh, hanya suara semut dan kawan-kawannya saja yang tidak bisa aku dengar. Itu terbukti dari suara dering telepon genggam perempuan itu, sepertinya dering sms pikirku sambil kembali memperhatikannya. Dan benar saja perempuan itu segera mengambil telepon genggamnya dan membaca smsnya dengan seksama, serius. Namu lambat laun wajahnya berubah menjadi seperti sebal pada isi sms itu, kecewa, kesal dan sedikit marah, dan setelah selesai membaca smsnya, perempuan itu serta erta mebantingkan telepon genggamnya ke meja di sebelah laptopnya, kemudian meminum softdrink yang terdapat pula dimejanya. Aku perhatikan lagi wajahnya masih menyimpan kekesalan.

Raut wajahnya itu kemudian membuatku merasa peduli dan menyimpan tanda tanya, apakah yang sedang terjadi pada perempuan itu? Semakin kuat keinginanku mengetahui masalahnya, pikiranku yang paling dalam lalu terbang menghampiri perempuan itu, dan pikiran perempuan itu pun sedang terbang kemana-mana karena rasa kesalnya, dan kesempatan itu segera tidak aku sia-siakan.

“selamat pagi...kenalkan, saya ramlan.”

“pagi juga, maaf ramlan siapa ya? Kayanya kita baru ketemu ya?” jawabnya agak ketus.

Ada sedikit keengganan untuk melanjutkan percakapan dengan perempuan itu, tapi aku mengerti mungkin ia masih begitu kesal setelah membaca smsnya itu.

“i...iya saya memang bukan siapa-siapa, ya kita memang baru ketemu.”

“saya yang duduk disana.” Sambil menunjuk tempat dimana aku duduk.

“oh yang disana!”

“dari tadi saya juga lihat kamu sering memperhatikan saya.” Lanjutnya seraya membuatku sedikit terkejut dan malu, karena ternyata dia juga tahu aku sedari tadi sesekali memperhatikannya.

“i..iya.” lagi-lagi kata-kataku tertahan.

“kalau boleh tahu naman kamu siapa?” tanyaku sedikit memberanikan diri dan hati-hati.

“penting ya namaku buat kamu?.” Jawabnya sambil tersenyum mempermainkanku. Ah ini dia yang aku tunggu senyumnya, membuatku sedikit lega.

“mmm...enggak juga sih tapi apa salahnya kan saya tahu namanya.”

“ya udah namaku husna!.” Jawabnya singkat.

“ada yang mau kamu tanyakan lagi?!”

“enggak sih...sebenernya cuma ingin tahu aja...kenapa ko selesai baca sms jadi marah-marah?”

“yaa barangkali saja ada yang bisa saya bantu gitu?”

“rasanya saya nggak perlu bantuan kamu deh, lagian ini juga bukan urusan kamu!”

Hanya ada satu kata bagiku – sabar.

“oh ya sudah kalau begitu..bagaimana kalau kita bicara yang lain saja, setuju?” ajakku pada perempuan itu.

Belum juga menjawab pertanyaanku itu, tiba-tiba saja dari arah belakang perempuan itu terdengar suara laki-laki memanggil-manggil namanya

“husna...husna sayang!” teriaknya sangat jelas.

“maafin aku ya, aku nggak bermaksud seperti itu, aku cuma...aku cuma...”

“cuma apa??”

bla...bla...bla......................

Dari percakapannya itu, aku segera kembali kedalam diriku sendiri dan segera menepuk kedua pipiku sampai aku benar-benar tersadar dari semuanya. Inikah yang dinamakan telepati?!.

ARUS

Waktu...

Apakah benar kau perjalanan hidup?

Apakah benar kau angka-angka dalam almanak?

Apakah benar kau perputaran jarum dalam sebuah jam dinding?

Waktu...

Ternyata kau tetap bis!

Baiklah aku bantu kau menjawabnya

Waktu...kau adalah arus.

Arus yang deras.

Menghantam siapa saja yang diam bertopang dagu.

Menghantar siapa saja yang mempunyai perahu.

Teori picik mengatakan

Jika diam akan jatuh miskin.

Jika bergerak akan kaya raya.

Memang ada benarnya!.

Yang membantah tidak kalah asyik.

Diam memang tidak bergerak, jatuh miskin karena hanya tidak di beri kesempatan.

Bursa aktifitas selalu membludak.

Tapi yang berhasil beraktifitas tidak begitu membludak.

Bergerak memang lebih baik dari diam..

Menjadi kaya (mendapat uang) karena uluran tangan.

Seorang sopir angkot pun berkata

Inilah arus kehidupan.

Materi menggeledah jati diri.

Arus yang miskin ya semakin miskin.

Arus yang kaya ya semakin raya.

Karena arus tak bisa bendung.

Maka seperti itulah panoramanya.

Aku terpaksa lupa menjadi kaya.

Biarlah menjadi miskin tapi kaya oleh kata-kata.

Kata-kata, katanya bisa melawan arus kezaliman!.

Bandung, 2009

10 Desember 2009

MENCARI BENAR

Inilah mungkin yang sudah tertulis di negeriku

Palsu dan salah.

Merajalela menjerat menikam kebenaran.

Dicari masih tetap gelap.

Terbukti malah senang terbahak-bahak.

Kuasa ada pada tangan-tangan berlembar hingga lembaran itupun hilang.

Dicari seperti jarum dalam jerami.

Terbukti saling menyalahkan silih berganti.

Pencuri asyik berlari-lari.

Kita marah disini tidak berarti.

Mata kita sudah lelah melihat.

Telinga kita sudah lesu mendengar.

Air kebenaran segeralah tersiram dibumi ini.

Agar segala amarah, kemunkaran dapat padam dan mati terkubur hingga lapisan bumi yang paling dalam bersama akar-akar kejahatan pengikutnya.



07 Desember 2009

GITAR SAMUN

Setiap aku menatap gitar yang tergantung dikamarku dan kemudian memainkannya, aku selalu langsung teringat pada pemberi gitar itu, dia tidak lain sehabatku yang paling pemberani – berani bersuara lantang, Samun. Tapi sayang Samun kini telah tiada. Samun dulu tinggal persis dibelakang rumahku, sejak dari seolah dasar hingga lulus SMU kami selalu satu sekolah, pergi dan pulang bersama, main bola dan main layang-layang bersama. Namun saat memasuki bangku SMU Samun mulai menampakkan pikiran-pikiran kritisnya, aku pun cukup kagum pada Samun, karena kemampuannya mengemukakan pendapat-pendapatnya setiap kali diadakan diskusi di kelas, tapi aku tidak heran karena Samun senang sekali membaca buku dan Koran, sedangkan aku dan teman-teman sebayanya masih senang bermain-main dan malas sekali membaca, itulah mengapa Samun sedikit lebih mengetahui perkembangan sekitarnya. Beberapa kali ia pun dicalonkan untuk menjadi ketua OSIS, tapi Samun selalu menolaknya tanpa alasan yang jelas, bahkan ia pun sering menyanggah materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, terutama pelajaran PPKn.

Selepas SMU, bapak Samun yang bekerja sebagai sopir truk, meninggal dunia setelah terjadi kecelakaan di Jalur Pantura, saat itu Samun merasa kehidupannya semakin berat, karena satu-satunya orang yang membiayai sekolahnya dan keluarganya yaitu bapaknya, apalagi ibu samun yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, kadang menjadi buruh cuci pakaian atau bekerja serabutan lainnya, tapi masih beruntung Samun adalah anak satu-satunya , jadi Samun tidak terlalu dipusingkan untuk membiayai seorang atau dua orang adik, tapi tetap saja Samun mempunyai tanggung jawab untuk tetap membahagiakan ibunya dan juga mempunyai kewajiban untuk terus melanjutkan hidupnya.

Suatu waktu Samun pernah bercerita padaku kalau dia tidak akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

‘san sepertinya kita tidak bisa sama-sama lagi.” Ucap Samun padaku.

“kamu mungkin tahu sendiri keadaanku setelah bapakku meninggal.” Lanjutnya lagi.

“lalu rencana kamu kedepan apa sam?”

“bukannya kamu dapat beasiswa untuk kuliah?”

“bukannya aku menolak san, tapi sepertinya kalau aku tetap kuliah, aku tidak akan konsentrasi, karena memikirkan ibuku, ya aku juga belum tahu renacanaku kedepan seperti apa mungkin bekerja, kuli atau apa sajalah asal dapat membantu ibuku.”

Percakapan dengan dibelakang rumah Samun itu benar-benar membuatku sedikit menahan nafas, merasa bersedih dengan keadaan yang harus Samun hadapai, tapi apa daya aku pun hanya bisa memberinya dukungan secara moril, keadaanku yang juga susah membuatku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatku itu, aku pun kuliah karena keinginan bapakku walaupun harus meminjam uang sana-sini.

Selanjutnya yang aku tahu kemudian Samun memilih jalan hidup sebagai pengamen, tapi hal ini sudah aku duga sebelumnya, sebab yang aku tahu Samun tidak suka bekerja dikantor-kantor, dengan sifatnya yang berontak, Samun tidak begitu suka dengan hal-hal yang mengakang, salah-salah berargumen dengan atasannya kemungkinan terbesarnya Samun bisa saja dipecat, itulah mengapa aku memaklumi keputusan Samun untuk mengamen, mungkin ia bisa lebih bebas bersuara, mengkritik keadaan-keadaan di sekitarnya yang dinilainya timpang dan tidak adil. Kesukannya pada lagu-lagu Iwan Fals mungkin salah satu yang menginspirasinya.

Namun lambat laun aku dan samun pun masih bisa bersama-sama, walalupun tidak didalam kelas. Setiap pagi sambil membawa gitarnya dengan semangat selalu datang kerumahku, dengan maksud untuk mengejarku pergi bersama-sama, jadwal kuliahku setiap hari yang selalu pagi membuatku tidak bisa menolak ajakannya, walaupun hanya didalam bis kota. Meskipun baru pertama kali mengamen, apa ladi didalam bis kota yang selalu penuh dengan penumpang Samun tampak sudah tidak malu-malu dan tidak gemetar mengahadapi “audiens” nya tampak seperti seorang pengamen yang sudah sekian tahun menjalani profesinya. Lagu demi lagu dari Iwan Fals ia lantunkan dengan sempurna dan hamper tanpa cela, membuat orang-orang yang berada didalam bis kota yang aku lihat cukup kagum pada Samun dan tidak segan memberikan recehannya.

Memasuki tingkat II, jadwal kuliahku agak sedikit longgar, paling dalam seminggu tiga sampai empat kali kuliah dan itupun tidak setiap hari, untuk mengisi hari kosongku, aku memutuskan untuk menemui Samun mengamen, maksudku sambil sekalian ingin mengatahui bagaimana rasanya menjadi pengamen, dan hal itu tidak menjadi masalah bagi Samun, malah Samun senang dengan keinginanku untuk menemaninya. Pada perjalanannya Samun pun mulai dikenal dikalangan para penumpung bis kota, kemudian Samun pun mengekspenasi daerah operasinya dari semula hanya dari bis ke bis, kini Samun mulai memasuki gerbong kereta api kelas ekonomi yang selalu berdesakkan dan bertumpuk hingga atap kereta, karena menurut Samun pula, mengamen di dalam kereta itu memberikan tantangan tersendiri, yaitu bagaimana caranya kita bermain gitar ditengah-tengah penumpang yang cukup padat dan berkeringat pula.

Lama-kelamaan aku seringkali merasa bosan dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh Samun aku coba memberinya masukan agar ia mulai menciptakan lagu-lagu, siapa tahu penumpang bis atau kereta yang sering melihat dan mendengarnya merasa bosan sama halnya denganku. Dan baru kali ini Samun menyetujui pemikiranku tanpa menginterupsinya. Kemudian kreatifitas Samun ternyata benar-benar membuatku terkejut sekaligus kagum, bayangkan saja kurang dari sebulan Samun sudah menciptakan sepuluh lagu, dan aku yang pertama mendengarkan lagu-lagunya. Luar biasa kepekaan Samun ternyata semakin terasah pikirku, terbukti dari lirik-lirik nya yang sama sekali tidak puitis namun tegas penuh dengan kritik tajam dan sesekali pedas. Aku pun sudah membayangkan kalau Samun tidak akan membuat lagu-lagu bertema cinta, selingkuh, patah hati dan lain sebagainya, semuanya benar-benar mewakili jeritan suara rakyat jelata. Kemudian Samun mulai menyelipkan satu dua lagu miliknya disetiap kali ia mengamen, dan ternyata para penumpang yang tidak sengaja mendengarkan merespon lagu-lagu karya Samun itu, bahkan tidak jarang meminta Samun untuk menyanyikannya lagi, aku pun bangga pada Samun.

Rasa banggaku pada Samun bukan hanya disitu saja, Samun yang semakin dikenal karena lagu-lagunya yang kritis tidak pelak menjadi perhatian beberapa media ceta hingga pada suatu waktu profil Samun pun dimuat di sebuah media cetak dengan judul “Samun Pengamen Pedas” , atas dasar pemuatan Samun di media cetak, Samun kemudian agak sedikit “sibuk”, ia sering diminta untuk mengisi acara pada acara-acara diskusi seni, budaya dan bahkan politik, dan tentunya semakin produktif menciptakan lagu-lagu. Semakin digemarinya lagu-lagu Samun, tidak sedikit orang yang menyukainya dan membencinya, terutama kalangan politisi dan para pejabat yang selalu menjadi bahan baku dalam lirik-lirik lagunya. Ada yang senang dan ada yang merasa gerah, ada yang memuji dan ada yang kupingnya memerah panas, begitulah. Tapi Samun tidak lantas meninggalkan dunia bis kota dan kereta api dan tetap menganggap dirinya sebagai orang biasa yang masih terus berjuang dalam menjalani hidup, hingga akhirnya ia pun merasakan segala ketidak nyamanan dalam hidupnya, ancaman, intimidasi menjadi sebuah resiko yang harus dia terima. Tapi Samun tidak pernah gentar dengan semua itu, ia masih terus bersuara dari hati dan jiwanya.

Seringkali Samun bercerita padaku, setiap kali pulang mengamen, kalau dia beberapa kali mendapat ancaman dari orang-orang yang tidak dikenal dan entah suruhan siapa, baik itu di bis kota maupun di kereta, aku pun sering menyarankan pada Samun sebaiknya berhenti dulu mengamen untuk beberapa waktu hingga keadaanya membaik.

“tidak san, aku tidak pernah berhenti melawan kebusukan, kebobrokan dan segala kemunafikan.”

Sebagai sahabat yang sudah mengathui jalan pikirannya, aku pun hanya bisa mendukungnya dan itulah mungkin jawaban terakhir dari suara Suman yang pernah aku dengar, hingga sampailah pada peristiwa yang sangat memilukanku dan terutama bagi ibunya yang sangat terpukul atas apa yang terjadi pada Samun. Samun ditemukan meninggal sambil memegang gitarnya ditengah-tengah semak dekat lintasa kereta, setelah sebelumnya ditemukan oleh seorang pemuda yang juga seorang penggemar Samun, sontak saja kejadian ini segera menjadi sebuah berita besar dan banyak mendapat simpati dari berbagai kalangan terutama para seniman, ibu Samun pun mengizinkan kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki sebab-sebab kematian Samun.

Dan hasilnya cukup mengejutkan aku dan mungkin banyak orang – Samun meninggal karena diracun, itu terbukti dari sisa-sisa makanan yang terkahir kali Samun santap mengandung racun mematikan nomor satu. Peristiwa ini benar-benar meninggalkan tanda Tanya besar bagiku dan mungkin bagi siapapun yang menyayangi Samun, terutama bagi ibunya, ia hanya bisa mengikhslaskan kepergian anaknya, karena sebagai orang kecil menuntut seseorang adalah hal yang mustahil lagi pula ibu samun akan menuntut siapa? Harta benda, termasuk uang pun tidak punya untuk membayar pengacara, pelakunya pun tidak pernah ditemuakn, mungkin mereka sedang tertawa terbahak-bahak, tertawa kencang bahagia karena sudah tak ada lagi yang bersuara lantang.

Suatu hari ibu Samun mendatangi rumahku sambil membawa gitar milik anaknya.

“nak harsan, kedatangan ibu kesini hanya ingin menyampaikan amanat dari anak ibu.”

“a..amanat apa bu?!”

“sebelum kepergiannya, samun pernah bercerita pada ibu, katanya kalau dia sukses nanti, dia ingin memberikan gitar ini pada nak harsan, jadi ibu harap nak harsan mau menerimanya.”

Aku semakin terharu dan sedih mendengar cerita dari ibu Samun itu, aku tidak menyangka kalau Samun begitu baik pada sahabatnya.

“baiklah bu kalau begitu saya terima gitar ini, saya akan jaga dan rawat dengan baik.”

“terima kasih nak harsan, kalau begitu ibu pamit dulu” Ibu samun dengan segera dari rumahku.

“iya baik bu.”

Sejenak aku memperhatikan gitar kesayangan Samun itu dan kemudian hatiku berbicara

“baiklah sam, sahabatku jasadmu memang telah tiada, tapi semangat dan keberanianmu tidak pernah mati, jika perlu aku yang akan melanjutkan suaramu lebih lantang dan lebih keras, karena aku tahu kau titipkan gitar ini padaku, agar aku meneruskan perjuanganmu.”

HUKUM ALTERNATIF

Jika seseorang mempunyai penyakit dan ingin menyambuhkannya, maka langkah pertama yang dilakukannya adalah memeriksakan penyakitnya itu kepada dokter baik langsung dating ke rumah sakit atau dokter-dokter spesialis yang membuka praktik. Setelah melalui tahapan pemeriksaan atau mendiagnosa suatu penyakit, maka dokter pun akan menyarankan kepada si pasien langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengobati penyakitnya, entah itu hanya memberikan resep obat, apakah harus dirawat inap atau rawat jalan dan lain sebagainya. Namun ketika si pasien menjalani segala apa yang disarankan oleh dokter, dan merasa penyakit yang dideritanya tidak ada kemajuan yang berarti dalam arti tidak menemukan kesembuhan, lantas apa yang terjadi adalah rasa ketidak puasan pada system pengobatan secara medis.

Seiring dengan tumbuh kembangnya pengobatan-pengobatan alternative yang menawarkan berbagai macam menu-menu penyakit yang dapat disembuhkan lengkap dengan berbagai macam metode penyembuhannya, mulai dari yang berbau magis hingga yang tradisional. Kemudian hal ini menjadi semacam “pelarian” bagi yang merasa tidak puas dengan pengobatan medis.

Ilustrasi diatas sedikit memberikan gambaran tentang realita hokum kita dan apa yang terjadi pada sebagian masyarakat kita. Seperti kita tahu gonjang-ganjing masalah hukum yang sedang terjadi dinegeri ini tengah disimak oleh semua lapisan masyarakat, terutama pada beberapa kasus yang sedang hangat dan banyak dibicarakan saat ini, masalah hukum yang sempat memanas yaitu perseteruan antara KPK dan Polri, pada dasarnya yang menyebabkan kakacau balauannya adalah masalah korupsi dan suap menyuap. Kita mungkin sempat mendengarkan sebuah bukti rekaman hasil sadapan KPK, betapa uang itu membuktikan bukan hanya dapat mempermainkan tapi juga dapat mengatur segalanya. Hukum dengan mudah dapat diputarbalikkan faktanya, lalu hukum pun menjadi abu-abu, nampak samar dan dengan mudah diinjak.

Kemudian masalah hukum menganai pembunuhan seorang pimpinan sebuah perusahaan BUMN yang juga masih belum menemui titik terang, dan yang tidak kalah menariknya adalah mengenai skandal bank Century hingga hak angket DPR pun beraksi, namun hukum keduanya masih buntu. Dengan kenyataan seperti ini lantas penulis membayangkan jika perasaan marah, kecewa, geram, muak dan mungkin masih banyak lagi perasaan-perasaan lainnya yang pernah menghinggapi kita atas kebenaran dan keadilan yang ditikam, ditambah lagi dengan beigut mudahnya seseorang dijebloskan ke dalam penjara hanya karena “mencari” (memungut, itupun menurut pengakuan pelaku meminta ijin terlebih dahulu) tiga buah biji kakao, itu pun untuk dijadikan bibit. Sementara para pengeruk uang (yang tentunya untuk keperluan perutnya sendiri) yang juga penyebab banyaknya kemiskinan di negeri ini jarang sekali mendapat hukuman yang benar-benar telak dan diproses dengan cepat, maka jika ingin mencuri, mencurilah seperti Robinhood.

Seperti yang sudah diilustrasikan seorang pasien yang tidak puas atas pengobatan medis dan mencari alternative pengobatan maka sebagian masyarakat kita yang merasa tidak puas pada hukum yang ada, merefleksikan rasa ketidak puasannya pada hukum yang alternative (salah satunya hukum jalanan). Seperti pernah penulis saksikan di televisi, beberapa orang warga disuastu daerah mengejar sebuah mobil yang sebelumnya melakukan tabrak lari, warga tersebut dengan menggunakan beberapa motor, akhirnya mobil itupun dapat dihentikan setelah sebulnya terjadi aksi kejar-kejaran, dan tanpa tedeng aling-aling lagi sopir mobil itu pun menjadi bulan-bulanan warga yang mengejar, pukulan demi pukulan dilayangkan tanpa henti pada sopir itu, hal itu dilakukan mungkin saja demi segera tegaknya keadilan, karena memang sopir itu sudah bersalah. Dalam hukum pun seharusnya demikian, yang salah adalah salah, dan bersalah. Terbayang jika para koruptor yang tertangkap dan hukumnya diserahkan kepada massa. Maka hendaknyalah hukum tidak bisa ditundukkan dan dipermainkan oleh siapapun dan oleh apapun termasuk uang, maka ketika uang sudah dapat mengendalikan semua lini kehidupan, jangan biarkan sila pertama Pancasila berubah menjadi “keuangan yang maha kuasa”, semoga dengan adanya hari anti korupsi sedunia menjadi tonggak pemberantasan segala macam bentuk korupsi hingga ke akar-akarnya secara merata dan tanpa kompromi, termasuk pemberantasan para mafia peradilan dan para makelar kasus (markus).

SETIAP HARI ADALAH MUSIK

Ya disadari atau tidak, dalam keseharian kita tidak pernah lepas dari yang namanya musik. Terlepas dari apakah seseorang itu menyukai musik atau tidak. Tapi setidaknya keinginan untuk mendengarkan atau untuk membicarakannya tidak dapat dihindari. Lihat saja, seorang sopir taksi untuk membunuh rasa bosannya, dengan sengaja membuka pintu mobilnya kemudian memutar musik dari tape mobilnya, mahasiswa dan mahasiswi di biskota sering terlihat telinganya terpasang earphone dari gadget-gadget pemutar musik ataupun dari handphone, sebuah flashdisk pun disamping berisi file data-data seringkali terselip beberapa folder musik dan masih banyak lagi yang sering kita jumpai, bahkan penulispun mengakui ketika bertemu dengan seorang teman apa yang penulis bicarakan selalu terselip pembicaraan tentang musik dan itupun sambil diiringi dengan musik, dan sepertinya memang tidak bisa dihindari.

Mungkin, musik sudah menjadi bagian hidup banyak orang dan rasa-rasanya belum pernah saya mendengar seseorang dalam hidupnya sama sekali tidak pernah mendengarkan musik, karena musik itu unik dan sebenarnya, benar-benar tidak pernah kita lihat bentuk dari musik itu sendiri selain mendengarkannya. Dari sisi pelakunya ya memang terlihat seperti adanya grup band atau seorang penyanyi, tapi bagaimanapun audio visual tidak dapat dipisahkan. Musik juga diakui atai tidak disamping buku dan film, pengaruh musik pada emosi seseorang lebih mengena. Hal itu penulis rasakan saat menulis tulisan ini sambil mendengarkan musik dan tidak jarang musik cadas dan gahar menjadi penganatar pembakar adrenalin, hingga musik shoegaze pun sering menemani kesendirian saya (jadi curhat gini ya :p).

Btw, musik tidak akan habis dan tidak akan pernah habis, akan terus mewarnai hari-hari kita terlepas dari segala hal-hal yang selalu menyertainya dan selalu menjadi polemic didalamny, perbedaan genre, kualitas, orisinalitas hingga plagiat. Musik selama ada yang berkarya aka nada pula yang mendengar, jadi sudah siap untuk mendengarkan musik ?!!