15 Februari 2010

SEKILAS PASAR BARU, DAN BERAKHIR DI D.U. (DIPATI UKUR) DENGAN SEGELAS SUSU


Setelah beberapa saat ngobrol-ngobrol dengan seorang kawan via YM, awan diluar sana terlihat sudah mulai berubah, sedikit demi sedikit menampakkan raut muram alias mendung. Dan segera saja saya pun siap-siap menuju tempat kawan saya itu. Berjalan agak sedikit cepat, namun ditengah perjalanan menuju tempat mangkalnya angkutan umum, saya harus sedikit pasrah disirami air hujan yang masih cukup bersahabat di pagi menjelang siang itu, atau mungkin juga hujan merasa kasihan melihat saya yang berjalan setengah berlari sambil melihat kiri-kanan mencari tempat berteduh namun tak kunjung mendapatkannya, karena yang ada di kiri-kanan saya adalah rumah-rumah mewah yang selalu tampak sepi seperti tak berpenghuni.

Diujung jalan, tepatnya dijalan raya utama tempat saya menunggu angkutan umum, saya sudah ditunggu oleh sebuah angkutan umum yang masih kosong melompong, hanya pak supirnya saja yang ada di dalamnya yang tengah asik makan gorengan. Tapi tidak lama kemudian setelah beberapa penumpang naik, si pak supir tidak basa-basi lagi langsung tancap gas.

Tanpa halangan yang berarti saya pun sudah sampai di ruko kawan saya, di lantai dua, tepatnya sebuah toko yang sangat berbau metal, sebenarnya kawan saya menyuruh saya datang jam satu siang, tapi karena itu tadi, mendung dan hujan, maka saya berinisiatif untuk secepatnya datang ke tempat kawan saya itu, dan ternyata hujan pun tidak begitu lama sudah reda kembali dan masih menyisakan sebuah tanda tanya apakah akan hujan lagi atau tidak. Dan benar saja rolling door nya masih tertutup rapat, tapi saya ketuk saja karena saya tahu kawan saya itu masih sedang online di depan pc nya yang tepat menghadap rolling door.

Tidak lama setelah saya ketuk-ketuk beberapa kali, terdengar suara sedang membukakan kunci gembok dari dalam toko. Yang pertama terucap dari mulut saya dan kawan saya itu hanya kalimat “hey” saja. Akan tetapi setelah itu, kawan saya yang tanpa memakai baju dan hanya memakai celana boxer itu mengajak saya untuk mengantarnya pergi ke Pasar Baru, tepatnya jalan ABC untuk mengurusi kacamatanya yang baru, pasca pecahnya kacamatanya yang lama. Mendengar ajakannya itu saya pun segera menyetujuinya, karena kebetulan rasanya sudah cukup lama saya tidak melihat pasar baru dan sekelilingnya.

Setelah kawan saya selesai mandi, maka kami berdua segera meninggalkan ruko itu, didepan ruko karena lama menunggu bis kota yang tak kunjung tiba, kami pun terutama saya harus kembali menaiki angkutan umum menuju simpang dago, karena kebetulan di jalan ruko kawan saya itu untuk menuju langsung ke pasar baru ya hanya bis kota saja. Di simpang dago kami langsung naik angkutan umum lagi, yang menuju pasar baru. Tapi saat itu saya tidak terlalu khawatir akan cuaca, karena selepas hujan yang hanya sebentar walaupun masih menyisakan tanda tanya, sinar matahari kembali terang benderang, semakin mendukung saya dan kawan saya untuk “berpetualang”.

Tiba di seputaran pasar baru, kami langsung disuguhi pemandangan beberapa bis pariwisata yang tengah parkir memanjang. Sudah dapat dipastikan para wisatawan domestik itu tidak lebih untuk berbelanja. Entahlah, harga-harga barang di Bandung mungkin labih murah dari tempat asal para wisdom itu. Kami langsung saja menyusuri “koridor” pasar baru menuju jalan ABC, trotoar yang ada malah bukan sempit oleh orang-orang yang berjalan kaki, namun justru oleh para pedagang yang membuat trotoar itu menjadi terasa kecil. Ada Mie Bakso, Mie Ayam, Es Campur, dan jajanan-jajanan lainnya khas masyarakat kita. Tapi biarlah, mereka juga para pencari nafkah yang sebenarnya bukan ingin menambah semrawut kota, tapi karena mungkin sudah tidak ada lagi tempat yang dirasa cukup “strategis”. Akhirnya kami nikmati kepadatan yang ada, berjalan kaki serasa mengendarai motor dengan berjalan zig-zag untuk menghindari rintangan, yeah.

Tiba dijalan ABC, kami langsung menuju sebuah tempat, tepatnya sebuah toko optic dimana kawan saya membeli kacamatanya, namun tidak di duga percakapan kawan saya dengan staf toko itu hanya berlangsung sebentar saja, dan setelah itu kami segera kembali lagi ke ruko sambil berjalan agak cepat, karena ada sedikit kekhawatiran jika bis kota yang menuju ruko sudah meninggalkan kami. Tapi beruntung kami sedikit lebih cepat dan tidak menunggu lama, bis kota yang melewati D.U. pun tiba, bis yang tidak berhenti total itu kami kejar setangah berlari dan harus meloncat ringan untuk menaikinya.

di pertengahan jalan, para “seniman jalanan” mulai menaiki bis yang kami tumpangi, jujur saya jarang sekali naik bis kota, saya pikir “seniman jalanan” yang ada di tiap stopan dan di bis kota akan sama saja aksinya –mengamen-. tapi apa yang terjadi saat itu adalah sebuah pemandangan baru, dua orang yang berdiri ditengah-tengah bis itu mulai beraksi, ada sesuatu yang berbeda yang saya perhatikan, satu orang mengeluarkan sabuah buku dari tas ranselnya, kemudian membuka halaman demi halamannya, kemudian orang yang satunya lagi memilih-milih alat musik tradisional Sunda Baheula yang saya tahu itu adalah alat musik Karinding. Setelah beberapa saat memberikan kata sambutannya, kedua orang itu mulai beraksi, yang memegang buku mulai membacanya, dan temannya mulai mengeluarkan bunyi-bunyian dari alat musiknya yang begitu etnik. Saya mulai sadar kalau mereka “mengamen” dengan cara yang berbeda, yaitu membacakan puisi, entahlah itu buku kumpulan puisi dari siapa penulisnya, tapi yang pasti suara si pembacanya harus bertarung keras melawan suara bis kota yang sudah cukup tua itu yang tidak kalah kerasnya, agar setiap puisinya dapat benar-benar terdengar oleh para penumpang.

Karena saya dan kawan saya cukup menyukai karya-karya puisi, walaupun sebenarnya tidak begitu jelas terdengar apa yang dibacanya, tapi kami memberikan selembar ribuan pada mereka berdua sebagai bentuk apresiasi kami pada mereka yang sebenarnya tengah “berjuang”, dan belum tentu kami juga mau mebaca puisi ditengah-tengah penumpang bis kota yang penuh seperti itu.

Akhirnya kami tiba juga di D.U., tapi sebelum ke ruko saya mampir dulu ke sebuah rumah makan nasi padang, sedangkan kawan saya langsung menuju ruko karena harus segera membuka tokonya. Ternyata perjalanan yang bisa dibilang singkat itu cukup membuat perut kami kelaparan. Dan kami harus menghadapi sebuah kenyataan yang tak terelakkan lagi, bahwa kami harus segera makaaaannn….

Singkatnya, perut kami sudah terasa kenyang, dan tidak lama kemudian hujan pun turun, namun kali ini cukup deras. Dalam mengisi hari yang sepertinya akan diguyur hujan cukp lama, kami membicarakan banyak hal ini dan itu, sambil ditemai lagu-lagu lawas dari Rumahsakit. Hingga hari menjelang gelap, hujan masih turun, tapi kali ini tidak begitu deras, kami memutuskan untuk menaruh bangku memanjang di carport depan toko –maksdunya untuk nongkrong-nogkrong- walaupun view-nya hanya kepadatan jalan oleh kendaraan, tapi kami nikmati karena dibalik kepadatan kendaraan sesekali kami melihat perempuan cantik.

Susu murni dan gorengan cukup menemani acara “nongkrong-nongkrong” kami, dan hingga minuman dan makanan itu benar-benar habis dan jalanan yang saya lihat sudah cukup lengang, saya putuskan untuk segera pulang kerumah, untuk melepas lelah sambil mangantongi cerita singkat ini.

31 Januari 2010

BELATI

Sekilas wajah muram terlintas dalam awan gelap. Aku pandang semakin dalam, apakah dia teman ataukah penjahat kambuhan yang selalu menakut-nakuti dengan belati. Aku senang jika memang ia kawan dan aku benci jia ia tak punya hati yang selalu menyakiti. Sungguh aku tidak suka dengan makna-makna segumpalan awan hitam, mendung yang selalu menyampaikan pesan-pesan menakutkan dan menggambarkan wajah-wajah kegetiran tanpa air mata yang membuatku hanya terhenyak diam, terkesima kemudian memberikan tawaran-tawaran pada tubuhku untuk segera berlari ataukah diam kembali, karena mungkin dengan berlari aku dapat lebih banyak menemukan arti dari semua ini.

Aku berusaha dan mencoba untuk tidak peduli. Tapi ternyata tidak peduli hanya menambah beragam teka-teki. Tidak mendengar dari kerasnya suara petir mungkin lebih baik bagiku, dan mataku ini akan tetap terbuka. Namun wajahku akan berpaling dari awan gelap lalu memandangi sekumpulan wajah-wajah cerah tanpa resah hasil karya pelangi yang tidak pernah sendiri. Namun lagi-lagi pertanyaanku, apakah di terangnya matahari dan pelangi semua akan berakhir senang?

Melihat dari segala kenyataan itu, aku mencoba mengintip celah-celah cerah, melihat dan meraba dimana segala kejelasan akan terbaca, terkonversi menjadi sebuah arti yang begitu jelas seperti lagu-lagu yang terdengar mengalun indah. Ada banyak hal yang sebenarnya harus didengar, tentang perjalanan, tentang alam, tentang cinta dan tentang belati.

Dari sekian suara-suara yang diperdengarkan, ada yang harus kucerna, kupikirkan, aku ilustrasikan hingga segala maknanya dapat aku tangkap dengan jelas. Semakin jelas tertangkap, maka semakin menyeruak pertanyaan-pertanyaanku. Apakah kau lemah dan apakah kau kuat? Lalu dapatkah kau berdiri bersama pagi kemudian bernyanyi dengan sisa-sisa embun pagi?

Karena embun dan pagi adalah semangat hari. Walaupun selalu berganti. Cepat, sungguh cepat sekali melebihi jurus langkah seribu. Tapi berlalunya hari yang hanya sekejap mata, masih dapatkah aku menunggu? Menunggu hingga benar-benar rindu. Rindu akan segala yang akan datang. Hal-hal baru ataukah hal-hal yang sudah lama. Termasuk menunggu datangnya teman lama, untuk bertatap muka, bercerita dan bercanda.

Tapi mendung terlalu kuat untuk kusapu dengan kuas berwarna pelangi. Menunggu adalah terus menunggu, tapi teman yang tak kunjung tiba bukanlah kuasa dan bukan pula keinginan kita, sekalipun ada dalam damai. Biarlah aku menunggu, menunggu belati, kemudian berlari…

LABIRIN

Bahagia terkadang membuat lupa. Jejak-jejak yang telah lalu seakan sirna. Tubuh berubah menjadi kuat. Membangun rasa dan hati yang menyala. Tidak peduli akan segala cerita. Hilir mudik entah kemana. Merangkai pola-pola keangkuhan. Menginjak suara teriakan nyata. Tertawa bahagia hampa. Segala tingkah laku tidak pernah jenuh. Hany nikmat yang seakan terasa panjang. Semakin panjang hati akan keras membatu dan rasa menjadi buta. Dimana akan kau hancurkan?

Ucapan selalu kita telan sebulat bulan purnama. Seperti terang, namun sekelilingnya gelap gulita. Lantas kita merdeka. Menunggu segala apa kira-kira yang akan diterima. Jutaan tangan menengadah menunggu datangnya perekat yang sederhana. Mulut terbuka tanpa suara karena haus dahaga. Dalam berita nyata kaum kosong menerima tanda menurun, lalu menanjak, lalu turun, kemudian merata. Berkali-kali berteriak namun tak pernah tertangkap. Selalu begitu dan begitu. Menghantar untuk menghempaskan percaya diujung waktu. Dan kita pun akkhirnya lelah percaya.

Keadaan ini benar-benar telah terserang oleh sakit. Sakit yang mulai menjangkit. Menyebarkan virus resah dan gelisah. Menggulirkan berbagai wacana kehidupan muram. Gambaran-gambaran mencekam akan masa depan telah menyebar. Aku gerah, aku pengap. Kita marah dan kita juga gerah. Gejalanya yang terasa hanyalah menambah parah. Hinggap dan menetap pada terminal darah. Mungkin ini adalah demam atau hanya panas biasa. Membiarkannya hanyalah tindakan sia-sia. Melawannya dengan sehelai kain dingin delam genggaman tangan kita adalah tindakan luar biasa. Maka cepatlah hilang dan segera pergi dengan sejauh-jauhnya segala sakit ini. Agar dapat kembali mengumpulkan segala daya dan upaya untuk melawan pikir yang tersihir. Yang telah membakar dengan puas.

Diri kita dua alam sedih dan bahagia. Peperangan selalu merebut bahagia. Dan iblis perang hancurkan sedih. Lalu raga menjadi hampa. Karena canda dan tawa telah habis didalamnya. Tanah yang luas seakan pagarnya mendekat dan menyampit. Apakah karena segala tidak percaya? Hingga gelap menyertainya. Penampakkanku seakan telah lelah. Karena merasa sekat pemisah semakin rapat. Merapat menemani tubuh yang lelah dan terkurung oleh gelap. Tangan-tangan yang saling menghancurkan adalah pemandangan gelap dan terang. Ancam-mengancam semakin tanpa perhitungan. Kata membalas kata. Tangan dibalas tangan. Hilang rasa dan akal. Berubah menjadi hewan ganas yang saling terkam. Habis sudah segala rasa kemanusiaan. Berputar dan silih berganti. Karena zaman telah memperkirakan batasnya. Karena alam selalu tidak diam dengan kekuatan alaminya. Maka ketika angin berhembus sangat kencang, suara petir menggelgar, air laut berkecamuk meninggi, tanah-tanah membentuk garis-garis menganga. Menjadikan raut wajah dengan segala urusannya. Akan hilang lenyap terkubur umur.

Yang tidak mengenal berita biarkanlah. Mungkin saja sudah menutup mata dan telinganya. Karena tawanya takkan mengubah apa-apa. Bertopang dagu, dan tumpang kaki sesekali menjadi solusi basi. Tidak pernah peduli akan segala deretan narasi. Hatinya membiarkan yang luka tetap luka. Yang mengiba tetap mengiba. Yang bersaksi hanya lelah hati yang telah buta. Buta oleh segenap gemerlap fatamorgana. Menipu namun menyenangkan. Biarkanlah mereka rasakan kenikmatan. Kenikmatan menikmati hati yang buta dan rasa yang membatu.

Menunggu segalanya agar segera berkesudahan, adalah sebatas ucap harap. Layar televisi yang buram pun dapat berwarna kembali oleh sang ahli. Dan waktu hanyalah waktu yanag itu dan seperti itu terus. Cepat dan lambat adalah bagaimana kita yang selalu menatap jalan cerita. Mengukur kehancuran akan sampai kemana. Adakah ini akan berakhir, ataukah adalah akhirnya…

26 Januari 2010

HAPPY, CONFUSE!

Manakala kita mendapat pinjaman uang, tentulah bahagia karena bisa menyambung hidup.

Namun membingungkan di kemudian untuk membayar.

Ketika tetangga memberi semangkuk penuh sup ayam buatannya, tentunya kita bahagia karena tiba-tiba saja mendapat makanan yang istimewa.

Namun membingungkan dikemudian, ketika akan dikembalikan, akan diisi dengan apa mangkuk tetangganya itu. Karena tidak bisa membuat masakan yang lebih enak dari masakan tetangganya itu.

Mendapatkan gaji di awal bulan sangatlah membahagiakan.

Tapi bagi sebagian yang menerimanya membingungkan, karena harus “terima kasih”

Terima gaji lalu dikasihkan kepada barang-barang serba kredit.

Maka habislah gajinya.

Pastilah membahagiakan manakala seseorang terpilih menjadi orang terpandang.

Tapi bagi sebagian orang ternyata membingungkan, karena melihat kelakuannya harus memicingkan mata.

Sungguh senang melihat seseorang yang bersahaja,mempunyai pekerjaan yang biasa dan dengan jebatan yang biasa-biasa pula dan mempunyai keluarga yang bahagia.

Namun sedikit membingungkan tatkala melihat isi rumahnya penuh dengan barang-barang mewah dan berjejer mobil yang harganya wah.

Alangkah senang dan membahagiakannya melihat angka-angka statistik yang menunjukkan angka pengangguran dan kemiskinan menurun.

Tapi lagi-lagi membingungkan dari mana angka-angka itu didapat? Apakah dari acara-acara reality show yang sukses membantu banyak kaum tak berpunya? Apakah seringnya digelar acara-acara bursa kerja?

Maka berbahagialah sekalipun keadaan membingungkan.

Dan nikmatilah sesuatu yang membingungkan itu dengan rasa bahagia.

Bandung, 2009

DENGAN TANGAN HAMPA

Kedua tanganku yang seolah selalu bekerja.

Hampir saja aku tak mengenal siang dan malam.

Bahkan aku tidak memikirkan balasan apa yang akan aku terima dari sekian liter keringat yang keluar dari kedua tanganku.

Mungkin memang benar.

Menggerakan kedua tangan dan kaki menuju sentra-sentra ruang persaingan dengan aktifitas yang hampir sama.

Adalah semata-mata untuk menggenggam harta yang siap untuk terbang kembali mengahmpiri benda-benda bisu yang bergerak.

Mengorbankan dan membunuh segala keinginan untuk berkarya.

Bertindak nyata untuk dirinya.

Mereka menganggap berkarya adalah sia-sia.

Seperti bekerja tapi dengan tangan hampa.

Maka jika ingin mendapatkan sepasang sepatu baru aku terpaksa atau dipaksa memenuhi hasrat warna-warni yang sudah dikenal di hamparan berjuta-juta warna popular.

Aku tersisih, tapi aku harus terus berjalan.

Memandang dunia tidak perlu dengan mikroskop.

Karena dunia bukan mikroba yang harus dipandang oleh kesempitan ruang.

Aku tidak dianggap apa-apa, tapi aku masih bisa berbuat.

Karena langakahku sudah tidak selaras dengan yang berdasi dan berjas.

Aku masih bangga dengan kaos usang hasil karya orang-orang yang terus berjuang.

*banyak cara untuk mencari uang, banyak cara untuk bersenang-senang.

Karena membuktikan karya besar dengan tangan hampa bukanlah sia-sia.

Tapi akan berharga dan tidak pernah terlupa.

Bandung, 2009

12 Januari 2010

BUTA HUKUM

Maksudku bukan untuk menyaingi buta ijo atau buta yang lainnya.
Tapi ini memang mataku buta pada hukum.
Kadang mengerti, tapi kadang tidak mengerti.
Ah pusing.

Seperti yang serius, tapi juga seperti yang bermain-main.
Kadang dibolak balik.
Kadang juga terbalik.

Maling besar dapat ruang besar.
Maling kecil dapat ruang kecil.

Jadi mana yang benar?

Bandung, 2010

BU, JANGAN PAKSA AKU JADI PRESIDEN

Surat ibuku dari bandung sudah aku terima sore hari
Dengan ditemani secangkir teh hangat seplang kuliah aku buka surat itu perlahan.
Surat itu terasa hangat, sehangat sapaan ibu, dan beberapa pertanyannya di awal tulisan surat itu.
Aku segera membacanya.

Bandung, 14 Februari 2004
Anakku sayang, bagaimana kabarmu nak?
Bagaimana dengan kuliahmu?
Lancarkah?
Oh iya, ibu lupa nak, kamu sudah semester berapa sekarang?
Tapi yang penting kamu harus ingat pesan ibu, harus rajin kuliah, dan jadilah yang terbaik.
Dan harapan ibu yang terbesar, kelak kamu harus jadi presiden! Seperti cita-citamu waktu kecil, Karena ibu pun yakin kalau kamu bisa memimpin negara ini.

Ibunda.

Selesai membacanya, aku lipat lagi surat itu dengan perlahan.
Beberapa saat aku tersenyum setelah membaca surat dari ibu itu.
Ternyata ibu masih saja tidak berubah.
Masih saja menginginkanku untuk menjadi presiden.
Kalau mau dibilang aku disini juga sudah dipusingkan dengan segala macam masalah perkuliahan, apalagi harus mengurus negara ini.
Ya tapi apapun keluh kesahku, aku tetap harus segera membalas surat ibuku itu.
Hanya sekedar memberinya kabar gembira saja.
Karena aku tidak mau ibuku menunggu lama surat balasan dariku.
Tapi sebelum aku menulis surat, aku habiskan dulu tehnya.

Yogyakarta, 15 Februari 2004
Alhamdulillah saya sehat bu, dan semuanya baik-baik saja.
Kuliah saya juga lancar tidak ada hambatan apapun.
Saya sekarang sudah semester enam bu, jadi seperti lagi sudah memasuki semester akhir, saya juga minta do’anya dari ibu mudah-mudahan bisa cepat lulus, saya juga sudah kangen sama Bandung bu.
Bu, memang waktu kecil saya pernah bercita-cita ingin menjadi presiden, tapi itu kan hanya angan-angan seorang anak kecil, toh banyak juga kan yang sewaktu kecilnya bercita-cita ini dan itu, tapi setelah dewasa, pekerjaan mereka kadangkala tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakannya.
Begitu pula dengan saya bu, saya sudah punya cita-cita yang lain selain presiden.
Bukannya apa-apa bu, tapi untuk jadi pemimpin apalagi memimpin sebuah bangsa, itu tidak mudah bu, pertanggunga jawabannya dunia dan akhirat bahkan lebih berat.
Sekarang saja masih banyak yang hidupnya serba kekurangan, apalagi kalau saya jadi presiden, bisa saja malah bertambah, murka Allah sudah pasti menunggu saya bu.
Sekali lagi saya mohon maaf bu, kalau surat balasan dari saya ini ternyata mengecewakan ibu.
Tapi ibu tidak usah berkecil hati, walalupun saya tidak menjadi presiden, saya tetap akan ikut membangun bangsa ini bu, mohon do’anya saj bu.

Ananda kesayangan ibu.

Selesai menulis surat blasan untuk ibu.
Aku baca ulang lagi.
Aku rasa sudah cukup, memberi alasan bagi ibu.
Aku harap ibu tidak kecewa dan mengerti.
Lalu kulipat surat itu dan memasukannya kedalam amplop putih bersih.
Untuk esok pagi aku kirimkan.

Bandung, 2009