02 Desember 2011

Perut Kembung...

Teman 1: "gua teh yah sebenernya masih pengen dapet lebih di dunia ini, tapi belum dapet-  dapet,,kunaon atuh nyaa.."

Teman 2 : "dukaa atuuh nyaaa.."




01 Desember 2011

Pas Belokan 100!

Tatangga : "ari make motor biasana sok gancang tara?"


Urang : "ah kadang tarik kadang laun, kunaon kitu?"


Tatangga : "alusna mah keur jalan biasa mah cukup 20, tah pas belok 100"



(Cihampelas,12-2011, sebelum berangkat kerja)

29 November 2011

Naha Embungeun?!

Teman 1 : "eh babaturan urang bobogohana geus 2 tahun, tapi si awewena nepi ka 
ayeuna embungeun diajak ka imah lalakina, aneh pan? tah ceuk maneh kumaha? "


Teman 2 : "nya ceuk urang mah awewena can hayangeun kawin weh"



20 November 2011

Akhirnya Belajar Juga Cukil Kayu (woodcut)

Yeahh...Minggu 20 november 2011 sepertinya menjadi hari dimana mimpi saya jadi kenyataan ( sepertinya terlalu berlebihan :D ), tapi bisa dibilang ada benarnya juga, karena apa yang selama ini saya inginkan bisa terwujud juga. Jika dirunut kembali, sejak dulu saya sering sekali mendengar kata-kata seni grafis (walaupun sebelumnya saya memang interest terhadap dunia seni), karena yang sering saya dengar sebelumnya adalah desain grafis, lantas apa bedanya? dari situlah letak kepenasaran saya, benar-benar ingin tahu apa itu seni grafis. Karena begitu sulit saya ingin bertanya pada siapa, akhirnya sebagai pelarian mencari ilmu adalah kepada Mbah Google :)) dan hasilnya ternyata tidak terlalu buruk. Namun itu semua rasanya belumlah cukup untuk sedikit saja memahami bentuk dari seni grafis itu sendiri. Secara teori okelah banyak artikel-artikel yang menarik, namun secara perwujudan karya dari seni grafis itu sendiri masih tetap membuat saya sangat penasaran dan bertekad kelak jika sudah mengetahuinya saya ingin juga berkarya dalam lingkup seni grafis itu. 

Singkat cerita Akhirnya sedikit demi sedikit saya tahu beberapa hal tentang seni grafis (kalau boleh saya bilang itu produknya) dan salah satunya yang begitu menarik perhatian saya adalah berkarya lewat proses cukil kayu (woodcut) ( karena kecantikan karya yang dihasilkannya lebih cantik dari seorang wanita :p ) dari situlah keinginan saya semakin menjadi-jadi untuk bisa belajar seni grafis --> cukil kayu.


Dan seperti kata-kata mutiara "dimana ada keinginan pasti selalu ada jalan" akhirnya di hari minggu itulah bersama seorang kawan, saya pergi menuju sebuah pameran, diskusi, peluncuran buku, dan workshop dari sebuah komunitas seni dari Yogyakarta yang bernama Taring Padi, dan kabar yang saya terima dari kawan saya yaitu tentang adanya wokrshop cukil kayu, otomatis kabar tentang workshop itu membuat jantung saya semakin berdegup dengan kencang dan terpacu untuk segera mengikutinya.

Saat acara dimulai dan dibuka oleh salah seorang dari komunitas Taring Padi yang ternyata acara pertama adalah WORKSHOP CUKIL KAYU!! dan semakin menambah ketidak sabaran saya. Beberapa menit saja penjelasan tentang cukil kayu pun selesai dan saatnya para peserta untuk mempraktekannya, alat-alat pun dibagikan, lalu saya dan para peserta lainnya mulai berkarya. Proses itu pun benar-benar saya nikmati, setiap cukilan seakan memberikan semangat tersendiri bagi saya, karena memang mengasyikan apalagi ketika proses mentransfer gambar atau dicetak diatas kertas,,dan ternyata hasilnya AKU BISA!! akan tetapi belajar dan berlatih sepertinya menjadi hal yang wajib dalam mendalami suatu ilmu, dan tentunya saya ucapkan juga terima kasih juga pada semua yang sudah dengan sukarela mengajarkannya tanpa pamrih. :)     

 

12 Oktober 2011

Keluh dan Kesah


Keluh dan kesah, atau orang sering mengatakan keluh kesah, berkeluh kesah dan lain sebagainya, apa sih sebenarnya keluh kesah? (maaf, jikalau dalam tulisan ini saya tidak mencantumkan definisi-definisi ilmiah yang dicatut dari sana sini, bukan apa-apa,,hanya malas saja :D dan hanya ingin mencurahkan persepsi saya saja) menurut saya keluh kesah itu adalah sebuah ucapan dari sebuah perasaan yang bisa dikatakan tertekan atau tidak nyaman, tidak sejalan dengan keadaan dan apapun yang sekiranya tidak mencerahkan hati dan pikiran, ya mungkin bisa dikatakan hampir serupa dengan curhat alias curahan hati. Berkeluh kesah itu biasanya diucapkan dalam arti ada lawan bicaranya, namun bisa juga seseorang itu berkeluh kesah melalui hal-hal yang dianggapnya tepat untuk menumpahkan segala apa yang dirasakannya, seperti halnya curhat pun begitu, ada yang melalui tulisan atau melalui karya-karya yang lainnya.

Menurut saya tidak ada salahnya untuk berkeluh kesah, karena bisa jadi keluh kesah itu menjadi obat atau semacam terapi untuk kembali menenangkan hati, seperti halnya menangis jika dirasa menangis itu membuat tenang maka menangislah dan begitu pula dengan keluh kesah.  Terkadang sebagian orang menilai bahwa seseorang yang berkeluh kesah itu adalah ciri orang yang lemah, lembek tidak kuat menghadapi tantangan, terlalu penakut dan lain sebagainya, padahal sebagai manusia hal itu adalah lumrah dan kalau boleh saya katakan bahwa keluh kesah itu MANUSIAWI BANGET!! :D tapi jangan terlalu didramatisir seolah-olah seperti yang memang menderita sekali, atau berkeluh kesah dengan tujuan-tujuan tertentu : ingin dibelaskasihani atau membayangkan akan dibantu secara materi, ih memalukan. Tak akan pernah ada yang melarang, karena sekali lagi keluh kesah itu MANUSIAWI BANGET!! :) karena saya yakin didunia ini tidak ada orang yang tidak mempunyai masalah!! dan ketika bermacam-macam masalah menerpa, setidaknya ingin sekali ada yang mendengar tentang masalah-masalah kita, dan silahkanlah berkeluh kesah ibarat ketika kita menuliskan kata-kata di pasir pantai, maka tidak berapa lama biarkan saja kata-kata itu terhapus dan tersapu dengan sendirinya oleh tarikan air.

Ada banyak sekali ragam masalah didunia ini yang bisa menjadi sumber untuk berkeluh kesah, masalah pekerjaan, keluarga, pertemanan dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menghindar dan tidak bisa lari begitu saja, namun sebaliknya semua yang kita terima dan rasakan maka harus kita terima dan rasakan pula, karena semua yang datang kepada kita adalah tentunya menjadi milik kita, tidak bisa permasalahan yang sedang kita hadapai, kita alihkan kepada orang lain, karena belum tentu mereka yang menerima permasalahan kita akan dengan kuat menghadapinya. Jadi ketika suatu masalah itu datang maka kita dianggap KUAT dan MAMPU untuk menghadapinya, dan keluh kesah bukan berarti menyerah tapi untuk mendatangkan dan menghimpun kekuatan baru untuk bisa segera menyelesaikan suatu masalah.

07 Oktober 2011

Selebaran Orang Hilang

Sudah beberapa hari saat menyusuri jalanan menuju tempat kerja, dan sudah beberapa kali pula saya tidak sengaja memperhatikan tiang listrik yang ada di pinggiran jalan, entah kebetulan atau tidak, setiap saya lihat yang tertempel dibeberapa tiang listrik adalah informasi mengenai orang hilang, saya merasa cukup aneh dan juga turut bersedih terhadap keluarga yang merasa kehilangan salah satu anggotanya. 

Saya merasa aneh saja karena kok bisa sih orang sampai hilang begitu, tapi mungkin ada penyebabnya juga, yang pasti sih gak jauh-jauh mengenai permasalahan yang ada di keluarga. Tapi juga yang menjadi pertanyaan saya, apakah dengan cara menempel selebaran fotokopian di tiap tiang listrik akan berhasil menemukan anggota keluarga yang hilang? (semoga) sementara orang yang berlalu lalang di depan selebaran itu seakan tidak peduli, kalaupun ada yang melihatnya paling hanya mengangguk-angguk entah apa yang dipikirkannya (mungkin ikut bersimpati) :D . Tapi saya pun hanya bisa mendo'akan semoga orang yang pada hilang itu bisa kembali lagi, layaknya seperti presenter televisi yang seringkali menerima laporan orang hilang, namun hanya bisa memberikan harapan dan do'a... :D

Yaa mungkin hari-hari kedepan saya berharap ketika melihat tian-tiang listrik lagi, yang terpampang bukan lagi pengumuman tentang orang hilang, tapi pengumuman tentang para koruptor, apabila ada yang menangkapnya maka akan diberikan imbalan sebesar uang yang telah dikorupsinya...hehehe...  

     

20 Juni 2011

DIA (cerita bersambung) #6

Terlelap di Hamparan Awan Putih

Beruntung malam kali ini langit tidak menurunkan air hujannya seakan tahu Titan dan Nera tengah tersenyum, begitu pula dengan bulan yang membentukan bulatan penuh dan jutaan bintang yang silih berganti mengerlipkan sinarnya. Segalanya semakin menambah suasan bumi, langit dan hati mereka benar-benar menjadi indah, hampir tidak ada sama sekali yang mengalangi rasa bahagia mereka. Nera tiba dirumah dengan membawa labih dari berjuta rasa bahagia, begitu pula yang terjadi dengan Titan kali ini ia langsung menuju rumahnya, tidak ada lagi keinginannya untuk berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas, dan mungkin kali ini pula ia akan menikmati secangkir coklat hangat penuh kedamaian, sehingga mang Kodar tidak lagi harus tidur selarut malam-malam yang telah lalu.

Nera membawa berjuta warna kedalam rumahnya, warna-warni yang teramat indah dari jalan hidupnya dan mungkin kali ini ia tak akan lagi tertegun dan termenung memandangi cermin di meja riasnya, kotak cincin pemberian Titan kali ini tidak lagi menjadi sebuah misteri melainkan sudah benar-benar menjadi sesuatu yang berharga dan bermakna. Langkahnya tak lagi berat tapi lebih mantap, hingga pintu rumah yang tertutup pun ia buka dengan tanpa beban dan pemandangan yang terlihat dari wajahnya adalah cerah. Malam kali ini tidak ada yang menyambutnya, namun yang terlihat di kursi tamu adalah bapaknya yang sedang tertidur masih memakai kacamata bacanya, dan terlihat juga oleh Nera beberapa buku yang berada di meja dan satu buah buku yang masih dipegang oleh bapaknya, Nera hanya tersenyum memandangi bapaknya yang sedang terlelap dan cukup pulas walaupun hanya tidur dikursi, tapi disisi lain Nera juga begitu kagum pada bapaknya itu, dihari-hari tuanya masih gemar dan begitu semangat dalam membaca.

“pak…paak…”

“paaak.” Ucap Nera perlahan sambil mengusap lengan bapaknya membangunkan dengan hati-hati. Lalu tidak lama kemudian bapaknya terbangun, sedikit terheran karena bisa tertidur cukup pulas.

“eh kamu nak.” Ucapnya sambil membetulkan letak kacamata.

“iya pak, kok bapak tidurnya dikursi, dikamar saja pak, disini dingin.”

“iya tadi bapak keasyikan baca buku, enggak kerasa sampai ketiduran, ya sudah kalau begitu bapak terusin tidurnya di kamar, bukunya biarkan saja disitu, besok pagi mau bapak terusin.”

“iya…iya, bukunya enggak akan nera pindah kemana-mana, ayo bapak ke kamar saja.” Suruh Nera lagi. Dan kali ini bapaknya pergi berlalu menuju kamarnya, yang ada diruang tamu kini hanyalah buku-buku bacaan milik bapaknya. Tapi justru kali ini Nera yang malah terduduk dan hanya di temani oleh bayangan-bayangan indah yang sengaja ia hadirkan sendiri. Sambil memandang kearah langit-langit rumah, Nera sesekali tersenyum. Heningnya malam seakan dipenuhi oleh lantunan nada-nada yang merdu, dingin menjadi hangat oleh dekapan selimut kabut malam berwarna merah muda. Kebahagiaan hatinya melebihi luasnya dunia yang sedang di pijak. Bulan seakan mudah diraih dan bintang seakan mudah digapai. Tak ada lagi cerita kegelisahan yang terbawa angin malam lalu menguap ke angkasa yang kadang menjadi endapan air mata. Kali ini hanyalah hembusan bahagia, bahagia dan bahagia yang mungkin akan menjadi alur cerita baru bagi mimpinya. Dan karena esok pagi sudah pasti, maka Nera hanya ingin terlelap dengan membawa rasa cinta.

“loh aku kok jadi senyum-senyum sendirian sih?” ucapnya pelan sambil menengok ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya.

“apakah ini yang dinamakan bahagia?”

“ah biarkan saja, lebih baik aku tidur.”

Maka pergilah Nera, beranjak dari tempat duduknya menuju kamar tidur mengikuti mereka-mereka yang sudah terlelap lebih dulu. Namun sepertinya kali ini Nera tidak perlu lagi mengarahkan wajah dan pandangannya pada langit-langit hingga harus menembus angkasa yang paling tinggi, tempat tidur layakanya seperti awan putih dan lebih putih dari kapas, walaupun di beberapa tempat terlihat samar-samar mendung, namun tidak terlalu pekat warna gelapnya, bagi Nera tetap saja semua itu indah. Akan tetapi ketika Nera menyelam dalam lautan bahagia, ia harus segera naik ke permukaan lautan, teringat pada satu lagi pertanyaan Titan yang menginginkan pertemuan kedua keluarga. Namun keinginan Titan itu bukan lagi sesuatu yang memberatkan Nera, toh kedua orang tuanya pun sudah menyatakan setuju.

>>><<<

Minggu adalah sebuah rehat, namun tidak sedikit pula orang yang masih bekerja pada hari itu. Tapi bagi Nera minggu adalah malas, bukan malas untuk bergembira dan bersenang-senang tapi malas melihat tumpukan pakaiannya yang belum tercuci, ibarat melihat sebongkah batu yang cukup besar menghalangi jalan dan ia harus memindahkannya, tapi jika tidak segera dicuci itu artinya tidak ada pakaian untuknya bekerja, maka barulah jika ingat akan hal itu Nera segera menjadi giat, dan seperti biasanya minggu bagi keluarga Nera adalah mingu yang biasa-biasa saja hanya sedikit lebih santai. Padahal hari itu Nera mempunyai satu tugas yang mungkin saja akan mengubah hari minggu bersama keluarganya menjadi sedikit luar biasa – lahir dan batin.

Seluruh pakaian sudah Nera cuci dan sepenuhnya sudah ia jemur, kini tinggal satu tugas lagi belum ia tunaikan. Diruang tempat biasa Nera dan kedua orang tuanya menonton televisi, ia mendapati ibu dan bapaknya tengah bersanti di temani sepiring cemilan dan teh manis, kemudian Nera pun ikut bergabung.

“wah lagi pada nonton apa nih ibu sama bapak, pada serius banget.”

“enggak tahu nih bapak nonton apa, salurannya dipindah-pindah terus.” Jawab ibunya, dan yang menerima kritikan seakan tidak peduli.

“makanya beli tv nya sepuluh bu, biar bisa nonton semuanya ga dipindah-pindah kaya sekarang ini.”

“ah kamu ini ada-ada saja.” – tertawa. Dan bapaknya masih belum menyadarinya. Lalu tidak berapa lama bapaknya memandangi Nera sedikit merasa heran.

“sebentar…kok tumben kamu ikut ngumpul disini?”

“oh bapak tahu, pasti kamu lagi ada maunya, iya kan?”

“enggak juga pak nera pengen aja ngumpul bareng disini, emang enggak boleh ya pak?” Tersenyum malu karena maksud dan tujuannya hampir diketahui.

“bukan enggak boleh, cuma tumben-tumbenan saja.”

“iya nih kayanya ada sesuatu deh, ayoo ada apa?”

“ya udah deh nera terpaksa cerita.”

“tuh kan bu bener!.” Bapaknya langsung menyambar.

“kamu terpaksa cerita apa memang ada yang mau kamu ceritakan?”

“yaa pokoknya nera mau cerita, ibu sama bapak sementara jadi pendengar dulu ya?”

“iya..iya..” jawab ibu dan bapaknya bersamaan.

“jadi begini bu, pak, kemarin nera ketemu sama titan, terus titan nyuruh nera nanyain sama ibu sama bapak, kapan keluarga titan bisa datang kesini, begitu bu, pak.”

“terus dia maunya kapan?” ujar bapaknya serius, sambil tetap menonton televisi, sedangkan ibunya masih terus memperhatikan.

“ya kalau titan sih maunya secepatnya pak.”

“oooh jadi kamu juga udah kebelet mau nikah yaa?” ucap ibunya sambil tersenyum dan Nera hanya terdiam malu mendengar ucapan itu.

“jadi gimana pak, sekalian silaturahmi, lagipula kita juga kan belum pernah ketemu sama keluarganya titan.” tanya ibunya.

“yaa kalau bapak sih kapan juga tidak jadi masalah, kalau memang nera pengennya cepat, minggu depan juga bisa.”

“ya sudah minggu depan saja, gimana sayang?”

“boleh…boleh bu, lebih cepat lebih baik!”

“kaya calon presiden saja kamu, bilang kaya gitu.” – semua tertawa.

Maka segalanya telah jelas bagi Nera, semua itu telah membuatnya menikmati hari minggu dengan penuh suka cita, dan berharap menjadi kabar yang baik tentunya bagi Titan dan keluarganya. Lalu tanpa pikir panjang lagi saat itu juga Nera langsung memberi kabar pada Titan, dan setelah itu kembali meneruskan kehangatan berkumpul dengan kedua orang tuanya – minggu yang tidak biasanya.