07 April 2010

PERSEPSI

Dalam memandang sesuatu, manusia sebagai makhluk berpikir tentunya akan mempunyai sebuah penilaian yang berbeda-beda, apa yang dilihat dan dirasakannya kemudian akan diolah dalam pikirannya, kemudian respon yang ditunjukkannya adalah sebuah cara pandang, penilaian dari sudut pandang tertentu, tergantung bagaimana cara dia mengolah sesuatu informasi yang didapatnya, dan itu tidak terlepas dari padangan secara positif maupun pandangan secara negatif termasuk juga istilah pro dan kontra ketika memandang sesuatu yang sama, terlepas dari unsur politisasi dan lain sebagainya. Contoh kecil saja, ketika seseorang/pemerintah mengangkat sebuah isu tertentu lalu digulirkan kepada khalayak, maka bisa dipastikan tidak semuanya pro dan tidak pula semuanya kontra, akan selalu ada pro dan kontra, yang muncul karena atas dasar hasil olah informasi (termasuk isu) yang diterima lalu dicerna dan dimengerti.

Ada sebuah gambaran katakanlah sebuah cerita menarik tentang persepsi ini. Ada sebuah keluarga yang bisa dikatakan mapan secara ekonomi, sang ayah adalah seorang pengusaha yang sukses sedangkan istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, mempunyai dua orang anak laki-laki. Singkat cerita, pada suatu waktu saat seluruh anggota keluarga berkumpul, sang ayah berpesan atau semacam berwasiat pada kedua anaknya.

“anak-anakku sebelum bapak meninggal bapak akan memberikan dua buah toko makana yang tidak jauh dari rumah ini untuk kalian kelola dan bapak juga ingin berpesan pada kalian berdua. Yang pertama dalam menjalankan usaha kalian kelak adalah jangan pernah menagih hutang pada orang yang berhutang pada kalian, dan yang kedua saat pergi ke toko usahakan jangan terkena sinar matahari.”

Selintas kedua pesan itu adalah hal yang tidak terlalu memberatkan pikir kedua anaknya, tapi apa yang terjadi kemudian adalah bagaimana cara pandang dan pemahaman kedua anaknya akan pesan ayahnya tersebut.

Tiba pada waktunya, sang ayah pun benar-benar meninggal, tidak ada yang ditinggalkan bagi anak-anaknya selain dua buah toko dan pesannya.

Waktu pun berlalu kedua anak laki-laki itu masing-masing menjalankan toko yang diberikan oleh ayahnya. Namun sang ibu melihat perjalanan kedua anaknya dalam menjalankan usahanya itu sangat berbeda, apalagi dalam kehidupannya. Perbedaan itu terlihat dari si sulung yang usahanya yang semakin maju dan tambah kaya, sedangkan si bungsu usahanya semakin merugi dan mengindikasikan pada jatuh miskin. Lantas sang ibu pun tidak tinggal diam, dan bertanya terlebih dahulu pada si bungsu.

“nak kenapa usahamu seperti ini, apa kamu masih ingat pesan bapak?”

“masih bu, jangan pernah menagih hutang pada orang yang berhutang pada saya, dan jangan pernah terkena sinar matahari saat pergi ke toko.”

“lantas apa yang kamu lakukan selama ini?”

“saya sering sekali meminjamkan uang pada orang dan tidak pernah menagihnya bu, sehingga modal untuk produksi dari hari ke hari semakin menyusut, ketika terpaksa saya harus menagihnya, tetap saja mereka itu sulit untuk membayarnya. Kemudian saya selalu usahakan saat pergi ke toko tidak terkena sinar matahari, jadi walaupun sebenarnya untuk menuju toko itu bisa dengan berjalan kaki tapi karena tidak boleh terkena sinar matahari maka setiap hari saya selalu menggunakan becak, dan tidak terasa itulah pengeluaran saya setiap hari dan terus membengkak bu.” Cerita si bungsu, dan ibunya terdiam memahami cara berpikir si bungsu itu. Lalu bertanya pada si sulung.

“nak apa yang kamu lakukan dengan pesan bapak itu?”

“ya karena saya tidak boleh menagih hutang pada orang yang berhutang pada saya, maka saya tidak pernah meminjamkan uang pada orang, sehingga produksi bisa terus berjalan dan lancar, semantara saya selalu menghindari sinar matahari dengan pergi ketoko lebih pagi sebelum sinar matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam, sehingga orang-orang jadi tahu kalau toko saya bukanya lebih pagi maka toko saya tambah banyak pelangganya dan tambah laris.”

Begitulah sekilas cerita tentang bagaimana persepsi atau cara pandang terhadap sesuatu, semuanya itu tergantung bagaimana kita memandangnya, jika positif maka yang terjadi adalah baik, dan jika negatif maka yang terjadi adalah ketidak baikan.

12 Maret 2010

IDEALISME ADALAH KENIKMATAN

Sebagai manusia tentu mempunyai suatu keinginan yang dirasa nyaman dan pantas untuk dirinya, paling tidak untuk dinikmati oleh dirinya sendiri, dengan mengabaikan atau katakanlah tidak peduli terhadap segala penilaian dan pandangan orang lain. Namun tidak jarang pula apa-apa yang kita sukai dan kita kerjakan sesuka kita (terutama dalam berkarya), mendapat respon yang baik dari sebagian orang yang secara kebetulan memang menyukainya juga, itulah mungkin idealisme, sebuah perwujudan dari kehendak hati nurani yang di tuangkan kedalam berbagai bentuk dan ekspresi, tanpa adanya intervensi pihak luar, tidak terikat oleh aturan, selalu berbeda dengan keadaan yang sudah ada dan hanya terekspos oleh sebagian kecil massa baik perorangan maupun sebuah komunitas.

Adapun produk yang dihasilkan dari idealisme tidaklah monoton, variatif dan malah cenderung dan (menurut penulis) tidak membosankan. Idealisme diibaratkan pula sebagai eksprersi dari pemikiran dan curahan hati, maka ketika prosesnya berjalan hingga menjadi sebuah karya ada suatu kenikmatan tersendiri, berjalan mengalir apa adanya. Bisa kita bedakan, contohnya sebuah lukisan yang idealis dengan lukisan yang tidak idealis. Kadang lukisan idealis tidak terlalu mempertimbangkan aturan atau kaidah dalam melukis, komposisi dan yang menjadi objek lukisannya adalah apa yang sedang diinginkan baik realitas maupun imajiner, terkadang kritis dan terkadang pula mengesampingkan sejenak nilai-nilai estetis, akan tetapi tidak mengurangi maknanya sendiri. Dari sinilah titik kenikmatan bagi si pelukisnya, bebas dan tanpa adanya tuntutan ini dan itu, tidak peduli karyanya akan menjual atau tidak.

Begitu pula dalam hal musik, idealisme biasanya selalu dijadikan sandaran paling mendasar oleh musisi itu sendiri, baik dalam ranah independent ( yang sudah jelas sangat idealis) maupun ranah mainstream ( walaupun terkadang idelaismenya harus sedikit berkompromi dengan pemilik modal karena untuk kepentingan pasar ). Idealis dalam bermusik sering disebut juga sebuah kejujuran (dan juga kenikmatan ), terutama kejujuran dalam segi musikalitas itu sendiri, musiknya akan mengarah kemana dan akan menjadi apa itu tidak menjadi persoalan (kecuali jika memang untuk di konsumsi oleh khalayak banyak, biasanya ada banyak hal yang harus dipikirkan dari segi teknis dan non teknisnya), karena ketika sebuah karya musik sudah tercipta secara utuh oleh musisi, maka bentuk karya itulah yang telah memalui proses pemikirannya berdasarkan kemampuannya (mengenai adanya influence dari musik lain biasanya adalah sebagai bentuk referensi dan acuan saja). Akhirnya idealisme (khususnya musik) adalah tentang rasa dan cara pandang secara pribadi yang kemudian dituangkan kedalam sebuah karya (musik) yang merupakan salah satu media untuk menyampaikan segala pemikirannya, tentunya secara jujur dan nikmat!

08 Maret 2010

AKU DEKAT KAU BERPALING

Pagi, siang dan malam aku sengaja mengetuk dari pintu yang mudah rapuh dengan lembut.

Memberikan baris demi baris kata semerbak bunga.

Kau hirup tanpa kau cerna.

Kataku dijalur lurus sungguh.

Katamu menghadang dengan canda tawa.

Mungkin terhalang oleh layar kaca.

Sehingga tulisan tidak pernah menghantarkan suara.

Dimana jika kau tahu, jika tulisannya ku katakan akan terdengar lebih dalam dari yang kau kira.

Tapi tak mengapa jika hanya canda dan tawa yang selama ini kubaca.

Asal jangan amarah yang kau unggah, melalui kabel-kabel optik bawah tanah.

Karena jelas aku akan mengalah.

Mengalah bukan berarti menyerah dan benar-benar kalah.

Karena aku sudah terlanjur melukiskan wajahmu pada sebentang kanvas berwarna merah.

Kadang hidup ini seperti undian atau seperti sebuah kompetisi.

Siapa cepat dia dapat.

Tapi aku merasa yang cepat belum tentu lebih baik untuk didaptkan.

Yang sudah dapat, terkadang tidak peka dan tidak pernah peduli.

Ternyata engkau memilih pelari cepat secepat kilat yang sama sekali tak pernah kulihat.

Kau kembali tertawa, namun kali ini bahagia.

Padahal, dengan lambat jejakku mulai mendekat.

Namun kau berpaling pada jejak yang lebih dekat.

22 Februari 2010

MUDAH DITEBAK

Kalau boleh dibilang kehadiran film-film dalam negeri yang membanjiri bioskop-bioskop sudah sangat banyak, genrenya pun beragam dari komedi hingga misteri/horor. Namun jika diperhatikan, sepertinya film-film horor atau misteri dan yang sejenisnya ternyata lebih produktif dibanding genre lainnya, dari judulnya pun hampir-hampir serupa tapi tak sama, ada hantu inilah, hantu itulah dan hantu-hantu yang lainnya. Kenapa sih judul-judul yang berbau misteri ini lebih banyak? Jawabannya karena di negeri ini begitu sangat potensial untuk memproduksi film-film bertema hororrrr!!, “bahan baku” cerita-cerita misteri banyak tersedia di masyarakat kita bahkan boleh dikatakan melimpah ruah. Ya tapi bagaimanapun horror biarlah tetap menjadi horror, semakin banyak film horror yang diproduksi semakin mencerminkan keadaan yang ada dimasyarakat kita.

Ada satu hal yang cukup menarik dari sebagian film-film yang beredar, yaitu mengenai alur atau ceritanya, ada apa dengan ceritanya? Ini sebenarnya bukan pendapat saya loohh, karena jujur saja saya masih merasa sedikit malas sengaja pergi ke bioskop untuk menonton film-film Indonesia saat ini, bukannya tidak mendukung, tapi ya itu tadi malas bo!

Balik lagi kemasalah cerita atau alur, jadi suatu waktu ceritanya saya sedang duduk-duduk di sebuah halte untuk menyambut kedatangan bis kota, kemudian datanglah 3 orang pemuda menghampiri dan duduk tepat disebelah saya, dan salah satu diantara mereka mulai membuka pembicaraan, sebenarnya saya tidak terlibat langsung dengan mereka, hanya mendengarkan saja. Apa yang saya tangkap dari obrolan mereka itu, ternyata mereka sedang membahas film-film yang pernah mereka lihat, dan saya pun tidak begitu tahu film apa saja yang sudah mereka lihat itu, akan tetapi dari pernyataan mereka bertiga yang saya dengar ada semacam rasa kekecawaan, lalu saya dengarkan lebih lanjut, lantas dari mulut mereka masing-masing telontar sebuah “kesepakatan” bersama jika cerita-cerita dari film yang pernah mereka lihat, ternyata mudah sekali ditebak dan biasa saja. Ini jelas sekali mengindikasikan bahwa film-film dalam negeri kita ceritanya masih mudah ditebak dan diprediksi endingnya akan seperti apa.

Tapi sekali lagi ini bukan pendapat saya, saya hanya mendengar saja :D tapi jika memang seperti itu, ya untuk sementara ini dengan tidak mengurangi rasa homat, saya masih akan menonton film-film “Hollywood”, terutama film-film yang bertabur efek yang sudah jelas-jelas impossible namun sangat menghibur, yeah!!


17 Februari 2010

OBROLAN TENTANG PEKERJAAN

Saat pagi hari (sebuah pagi kebebasan) segera saja saya langkahkan kaki yang sudah lama tidak menikmati jalanan, tentunya dihari kebebasan setelah sekitar tiga minggu mengerjakan tugas-tugas yang membuat kaki ini tidak bisa melangkah kemana-kamana (maksudnya untuk keluar sekedar melihat pemandangan alam), yang ada hanya terpaku menatap pemandangan dari sebuah layar datar empat belas inci yang hanya bisa bergerak ketika tombol-tombol pada keyboard dan mouse ditekan dan digerakkan, yang menyebabkan terjadinya apa yang dinamakan pekerjaan.

Kali ini saya menyusuri sebuah pasar tradisional yang hanya berjarak beberapa kilometer saja dari rumah saya, bisa juga naik angkutan umum, tapi saya pikir sayang hanya sebentar, toh ibu-ibu yang berada disekitar rumah saya juga saya lihat biasa berjalan kaki jika hendak ke pasar tersebut, kacuali saat akan pulang, tidak mungkin rasanya dengan membawa belanjaan (biasanya lebih dari satu bungkusan belanjaan) yang cukup banyak bulang dengan berjalan kaki lagi.

Saat memasuki area pasar, saya perhatikan ternyata masih tampak sibuk, dan agak sedikit macet. Tapi hal itu sama sekali tidak saya keluhkan karena suasana seperti itu benar-benar khas sekali, semuanya berbaur. Ketika memperhatikan satu persatu para pedagang yang tengah sibuk melayani para pembeli yang kebanyakan ibu-ibu, sejenak saya pun berpikir, apa bedanya ya para pedagang itu dengan orang-orang yang bekerja dikantoran/menjadi karyawan? jika ditarik garis lurusnya, mungkin sama-sama mencari uang, hanya caranya dan penampilannya saja yang berbeda, dan juga pendapatan yang didapatnya. Tapi jika harus memilih saya cenderung lebih tertarik dengan suasana perdagangan seperti itu, sepertinya tidak tersekat oleh ruang, jika istilah dalam perbisnisan modernnya yaitu Freedom Financial (Kebebasan Finansial) saya jadi ingat kata-kata salah seorang teman dalam sebuah obrolan “berdagang itu enak, dapet duitnya tiap hari, beda dengan orang yang kerja kantoran, dapet duitnya mesti nunggu satu bulan, kadang belum juga sampai ke bulan berikutnya, gajinya sudah habis duluan ditengah jalan, terus untuk menyambungnya terpaksa pinjam sana pinjam sini.” memang ada benarnya juga sih pernyataannya itu, jika melihat kembali pada realita yang ada, teman-teman saya yang menjadi karyawan di berbagai berusahaan “hampir” seperti itu.

Tidak terasa matahari sudah merangkak naik, saya putuskan untuk mengunjungi rumah seorang teman, juga tidak jauh lokasinya dari pasar, beruntung teman saya sedang santai menikmati liburan dirumahnya dan sepertinya memang sedang tidak ada kerjaan. Obrolan pun mengarah pada hal-hal yang berbau pekerjaan, namun semakin lama terasa semakin membosankan, akhrinya kami pun dengan ngelantur mencetuskan sebuah ide untuk membuka lowongan pekerjaan yang cukup ekstrim namun penuh resiko yang tentunya ditanggung sendiri, mempunyai keberanian yang tinggi, siap bekerja pada malam hari atau tengah malam, tidak perlu pendidikan tinggi, pengalaman tidak diutamakan hanya kemauan dan tertarik pada hal-hal yang berbau klenik, mistis, dan dunia lain, apakah itu : menjadi operator lilin dan makhluk piaraannya (babi hutan)… JJ

15 Februari 2010

SEKILAS PASAR BARU, DAN BERAKHIR DI D.U. (DIPATI UKUR) DENGAN SEGELAS SUSU


Setelah beberapa saat ngobrol-ngobrol dengan seorang kawan via YM, awan diluar sana terlihat sudah mulai berubah, sedikit demi sedikit menampakkan raut muram alias mendung. Dan segera saja saya pun siap-siap menuju tempat kawan saya itu. Berjalan agak sedikit cepat, namun ditengah perjalanan menuju tempat mangkalnya angkutan umum, saya harus sedikit pasrah disirami air hujan yang masih cukup bersahabat di pagi menjelang siang itu, atau mungkin juga hujan merasa kasihan melihat saya yang berjalan setengah berlari sambil melihat kiri-kanan mencari tempat berteduh namun tak kunjung mendapatkannya, karena yang ada di kiri-kanan saya adalah rumah-rumah mewah yang selalu tampak sepi seperti tak berpenghuni.

Diujung jalan, tepatnya dijalan raya utama tempat saya menunggu angkutan umum, saya sudah ditunggu oleh sebuah angkutan umum yang masih kosong melompong, hanya pak supirnya saja yang ada di dalamnya yang tengah asik makan gorengan. Tapi tidak lama kemudian setelah beberapa penumpang naik, si pak supir tidak basa-basi lagi langsung tancap gas.

Tanpa halangan yang berarti saya pun sudah sampai di ruko kawan saya, di lantai dua, tepatnya sebuah toko yang sangat berbau metal, sebenarnya kawan saya menyuruh saya datang jam satu siang, tapi karena itu tadi, mendung dan hujan, maka saya berinisiatif untuk secepatnya datang ke tempat kawan saya itu, dan ternyata hujan pun tidak begitu lama sudah reda kembali dan masih menyisakan sebuah tanda tanya apakah akan hujan lagi atau tidak. Dan benar saja rolling door nya masih tertutup rapat, tapi saya ketuk saja karena saya tahu kawan saya itu masih sedang online di depan pc nya yang tepat menghadap rolling door.

Tidak lama setelah saya ketuk-ketuk beberapa kali, terdengar suara sedang membukakan kunci gembok dari dalam toko. Yang pertama terucap dari mulut saya dan kawan saya itu hanya kalimat “hey” saja. Akan tetapi setelah itu, kawan saya yang tanpa memakai baju dan hanya memakai celana boxer itu mengajak saya untuk mengantarnya pergi ke Pasar Baru, tepatnya jalan ABC untuk mengurusi kacamatanya yang baru, pasca pecahnya kacamatanya yang lama. Mendengar ajakannya itu saya pun segera menyetujuinya, karena kebetulan rasanya sudah cukup lama saya tidak melihat pasar baru dan sekelilingnya.

Setelah kawan saya selesai mandi, maka kami berdua segera meninggalkan ruko itu, didepan ruko karena lama menunggu bis kota yang tak kunjung tiba, kami pun terutama saya harus kembali menaiki angkutan umum menuju simpang dago, karena kebetulan di jalan ruko kawan saya itu untuk menuju langsung ke pasar baru ya hanya bis kota saja. Di simpang dago kami langsung naik angkutan umum lagi, yang menuju pasar baru. Tapi saat itu saya tidak terlalu khawatir akan cuaca, karena selepas hujan yang hanya sebentar walaupun masih menyisakan tanda tanya, sinar matahari kembali terang benderang, semakin mendukung saya dan kawan saya untuk “berpetualang”.

Tiba di seputaran pasar baru, kami langsung disuguhi pemandangan beberapa bis pariwisata yang tengah parkir memanjang. Sudah dapat dipastikan para wisatawan domestik itu tidak lebih untuk berbelanja. Entahlah, harga-harga barang di Bandung mungkin labih murah dari tempat asal para wisdom itu. Kami langsung saja menyusuri “koridor” pasar baru menuju jalan ABC, trotoar yang ada malah bukan sempit oleh orang-orang yang berjalan kaki, namun justru oleh para pedagang yang membuat trotoar itu menjadi terasa kecil. Ada Mie Bakso, Mie Ayam, Es Campur, dan jajanan-jajanan lainnya khas masyarakat kita. Tapi biarlah, mereka juga para pencari nafkah yang sebenarnya bukan ingin menambah semrawut kota, tapi karena mungkin sudah tidak ada lagi tempat yang dirasa cukup “strategis”. Akhirnya kami nikmati kepadatan yang ada, berjalan kaki serasa mengendarai motor dengan berjalan zig-zag untuk menghindari rintangan, yeah.

Tiba dijalan ABC, kami langsung menuju sebuah tempat, tepatnya sebuah toko optic dimana kawan saya membeli kacamatanya, namun tidak di duga percakapan kawan saya dengan staf toko itu hanya berlangsung sebentar saja, dan setelah itu kami segera kembali lagi ke ruko sambil berjalan agak cepat, karena ada sedikit kekhawatiran jika bis kota yang menuju ruko sudah meninggalkan kami. Tapi beruntung kami sedikit lebih cepat dan tidak menunggu lama, bis kota yang melewati D.U. pun tiba, bis yang tidak berhenti total itu kami kejar setangah berlari dan harus meloncat ringan untuk menaikinya.

di pertengahan jalan, para “seniman jalanan” mulai menaiki bis yang kami tumpangi, jujur saya jarang sekali naik bis kota, saya pikir “seniman jalanan” yang ada di tiap stopan dan di bis kota akan sama saja aksinya –mengamen-. tapi apa yang terjadi saat itu adalah sebuah pemandangan baru, dua orang yang berdiri ditengah-tengah bis itu mulai beraksi, ada sesuatu yang berbeda yang saya perhatikan, satu orang mengeluarkan sabuah buku dari tas ranselnya, kemudian membuka halaman demi halamannya, kemudian orang yang satunya lagi memilih-milih alat musik tradisional Sunda Baheula yang saya tahu itu adalah alat musik Karinding. Setelah beberapa saat memberikan kata sambutannya, kedua orang itu mulai beraksi, yang memegang buku mulai membacanya, dan temannya mulai mengeluarkan bunyi-bunyian dari alat musiknya yang begitu etnik. Saya mulai sadar kalau mereka “mengamen” dengan cara yang berbeda, yaitu membacakan puisi, entahlah itu buku kumpulan puisi dari siapa penulisnya, tapi yang pasti suara si pembacanya harus bertarung keras melawan suara bis kota yang sudah cukup tua itu yang tidak kalah kerasnya, agar setiap puisinya dapat benar-benar terdengar oleh para penumpang.

Karena saya dan kawan saya cukup menyukai karya-karya puisi, walaupun sebenarnya tidak begitu jelas terdengar apa yang dibacanya, tapi kami memberikan selembar ribuan pada mereka berdua sebagai bentuk apresiasi kami pada mereka yang sebenarnya tengah “berjuang”, dan belum tentu kami juga mau mebaca puisi ditengah-tengah penumpang bis kota yang penuh seperti itu.

Akhirnya kami tiba juga di D.U., tapi sebelum ke ruko saya mampir dulu ke sebuah rumah makan nasi padang, sedangkan kawan saya langsung menuju ruko karena harus segera membuka tokonya. Ternyata perjalanan yang bisa dibilang singkat itu cukup membuat perut kami kelaparan. Dan kami harus menghadapi sebuah kenyataan yang tak terelakkan lagi, bahwa kami harus segera makaaaannn….

Singkatnya, perut kami sudah terasa kenyang, dan tidak lama kemudian hujan pun turun, namun kali ini cukup deras. Dalam mengisi hari yang sepertinya akan diguyur hujan cukp lama, kami membicarakan banyak hal ini dan itu, sambil ditemai lagu-lagu lawas dari Rumahsakit. Hingga hari menjelang gelap, hujan masih turun, tapi kali ini tidak begitu deras, kami memutuskan untuk menaruh bangku memanjang di carport depan toko –maksdunya untuk nongkrong-nogkrong- walaupun view-nya hanya kepadatan jalan oleh kendaraan, tapi kami nikmati karena dibalik kepadatan kendaraan sesekali kami melihat perempuan cantik.

Susu murni dan gorengan cukup menemani acara “nongkrong-nongkrong” kami, dan hingga minuman dan makanan itu benar-benar habis dan jalanan yang saya lihat sudah cukup lengang, saya putuskan untuk segera pulang kerumah, untuk melepas lelah sambil mangantongi cerita singkat ini.

31 Januari 2010

BELATI

Sekilas wajah muram terlintas dalam awan gelap. Aku pandang semakin dalam, apakah dia teman ataukah penjahat kambuhan yang selalu menakut-nakuti dengan belati. Aku senang jika memang ia kawan dan aku benci jia ia tak punya hati yang selalu menyakiti. Sungguh aku tidak suka dengan makna-makna segumpalan awan hitam, mendung yang selalu menyampaikan pesan-pesan menakutkan dan menggambarkan wajah-wajah kegetiran tanpa air mata yang membuatku hanya terhenyak diam, terkesima kemudian memberikan tawaran-tawaran pada tubuhku untuk segera berlari ataukah diam kembali, karena mungkin dengan berlari aku dapat lebih banyak menemukan arti dari semua ini.

Aku berusaha dan mencoba untuk tidak peduli. Tapi ternyata tidak peduli hanya menambah beragam teka-teki. Tidak mendengar dari kerasnya suara petir mungkin lebih baik bagiku, dan mataku ini akan tetap terbuka. Namun wajahku akan berpaling dari awan gelap lalu memandangi sekumpulan wajah-wajah cerah tanpa resah hasil karya pelangi yang tidak pernah sendiri. Namun lagi-lagi pertanyaanku, apakah di terangnya matahari dan pelangi semua akan berakhir senang?

Melihat dari segala kenyataan itu, aku mencoba mengintip celah-celah cerah, melihat dan meraba dimana segala kejelasan akan terbaca, terkonversi menjadi sebuah arti yang begitu jelas seperti lagu-lagu yang terdengar mengalun indah. Ada banyak hal yang sebenarnya harus didengar, tentang perjalanan, tentang alam, tentang cinta dan tentang belati.

Dari sekian suara-suara yang diperdengarkan, ada yang harus kucerna, kupikirkan, aku ilustrasikan hingga segala maknanya dapat aku tangkap dengan jelas. Semakin jelas tertangkap, maka semakin menyeruak pertanyaan-pertanyaanku. Apakah kau lemah dan apakah kau kuat? Lalu dapatkah kau berdiri bersama pagi kemudian bernyanyi dengan sisa-sisa embun pagi?

Karena embun dan pagi adalah semangat hari. Walaupun selalu berganti. Cepat, sungguh cepat sekali melebihi jurus langkah seribu. Tapi berlalunya hari yang hanya sekejap mata, masih dapatkah aku menunggu? Menunggu hingga benar-benar rindu. Rindu akan segala yang akan datang. Hal-hal baru ataukah hal-hal yang sudah lama. Termasuk menunggu datangnya teman lama, untuk bertatap muka, bercerita dan bercanda.

Tapi mendung terlalu kuat untuk kusapu dengan kuas berwarna pelangi. Menunggu adalah terus menunggu, tapi teman yang tak kunjung tiba bukanlah kuasa dan bukan pula keinginan kita, sekalipun ada dalam damai. Biarlah aku menunggu, menunggu belati, kemudian berlari…