04 Januari 2011
PAYUNG DADANG
Liburan sekolah Dadang masih panjang, dan Dadang sedikit merasa bingung, bingung hari-hari liburnya itu akan Dadang isi dengan apa yang tentunya bermanfaat. Dan tepat di hari pertamnya saat hari menjelang siang, Dadang keluar dari rumahnya hendak menuju rumah temannya tepat di belakang sekoahnya yang juga tidak jauh dari rumah Dadang, dan cukup hanya dengan berjalan kaki saja untuk menempuhnya – Dadang pun berpamitan pada ibunya.
Diatas trotoar yang Dadang susuri, mata Dadang hampir tak pernah lurus kedepan, sesekali ia jelajahi keadaan di sekelilingnya, mungkin maksud Dadang siapa tahu ada sesuatu yang positif yang bisa ia tiru.
Tok…tok…tok…
“ceeep!!!” panggil Dadang setengah teriak di depan rumah Cecep.
“ceceeep!!” dan di panggilan yang keduanya itu pintu rumah tampak mulai terbuka dan munculah sesosok anak berperawakan kurus kecil dan berambut sedikit acak-acakan, dialah Cecep sahabat Dadang.
“wooiii dang!!” balas Cecep sambil melambaikan tangan dan berjalan menuju pagar depan, untuk mempersilahkan Dadang masuk ke rumahnya.
“dari tadi kamu dang disini?”
“engga juga cep, baru datang ko.”
“oh ya sudah, ayo kita kedalam kebetulan saya beli komik baru dang.” Dan Dadang hanya mengangguk. Lalu mereka berdua masuk kedalam rumah Cecep yang lumayan cukup luas, Cecep adalah penggemar berat komik, Dadang pun yang semula tidak suka, lama-kelamaan menjadikannya cukup tertarik untuk membaca komik, namun tidak lantas menjadikannya pecandu berat.
Halaman demi halaman dari buku komik telah Cecep baca dan tak terasa cukup lama juga Dadang berada di rumah Cecep, lalu pemandangan langit di luar sana yang semula cerah dan terang, kemudian berganti menjadi mendung, Dadang yang melihat pergantian warna langit dan awan itu berfirasat jika sebentar lagi akan turun hujan, tanpa pikir panjang lagi Dadang segera meninggalkan keasyikannya membaca komik dan berpamitan pada Cecep.
“cep saya pulang dulu ya, takut keburu hujan besar, dirumah cuma ada ibu dan adik-adik saya, kalau nanti hujan besar dirumah suka bocor, jadi kalau saya gak pulang kasina mereka cep.”
“oh begitu dang, baiklah dang tidak apa-apa dang, baca komik lain kali bisa di sambung lagi.”
“iya terima kasih ya cep.!”
“iya sama-sama dang.!” Dadang pun bergegas keluar dari rumah Cecep.
Belum juga Dadang sampai menuju rumahnya, ditengah perjalanan ternyata hujan lebih cepat turun dari pada langkah Dadang. Apa boleh buat Dadang harus mencari tempat berteduh, dan kebetulan pula saat Dadang berjalan ia tengah melewati sebuah rumah sakit dan beberapa pertokoan, tapi Dadang lebih memilih untuk berteduh di pelataran rumah sakit itu, dimana di pelataran itu juga terdapat beberapa orang yang sedang berteduh. Dalam diamnya menunggu hujan reda, tidak berapa lama datanglah beberapa anak-anak yang tidak jauh umurnya dengan Dadang bahkan diantara anak-anak itu ada yang lebih muda umurnya dari Dadang, yang membuat Dadang menarik dan bertanya-tanya adalah anak-anak itu masing-masing membawa payung, dan itu adalah sebuah pemandangan yang benar-benar baru bagi Dadang dan tampak belum mengerti dengan maksud dan tujuan anak-anak itu dengan membawa payung saat hujan dan mendatangi rumah sakit. Mata Dadang tak hentinya memperhatikan seraya ingin mengetahuinya. Kemudian orang-orang yang semula berteduh bersama dengan Dadang yang hampir semuanya adalah orang tua, beberapa diantaranya kemudian ada yang memanggil-manggil anak berpayung itu.
Payung..payung!!
De sini de payung!!
Begitulah sahut mereka pada anak-anak berpayung itu. Dan yang dipanggil tanpa berebut segera berlarian menghampiri orang-orang yang memanggilnya. Payung pun diberikan pada yang membutuhkan dan anak-anak itu mengantarkannya hingga orang yang menyewa payung itu tiba dan kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu dari balik kaca mobil itu keluarlah beberapa lembaran uang pecahan ribuan. Lambat laun Dadang mulai mengerti dengan apa yang anak-anak itu kerjakan, Dadang menilai tidak ada yang salah denga apa yang mereka kerjakan, justru itu adalah pekerjaan yang mulia dan juga membantu orang lain. Dadang mengerti ternyata anak-anak itu menyewakan jasa payung. Dari apa yang dilihatnya itu, dalam hati Dadang merasa tertarik dan juga seakan tergerak untuk melakukan hal yang serupa, “lumayan siapa tahu bisa membantu ibu bapak” bisiknya dalam hati.
>>><<<
Langit yang kembali cerah dan hujan yang reda membuat Dadang senang, itu artinya Dadang dapa kembali meneruskan perjalanan pulang menuju rumah yang sempat terhenti. Namun Dadang sempat berpikir untuk kembali lagi ke rumah Cecep untuk meneruskan membaca komik. Tapi akhirnya Dadang putuskan untuk pulang saja karena ia pikir siapa tahu ibunya aka keluar rumah sehingga ia harus menjaga kedua adiknya.
Disepanjang perjalanan Dadang terus berpikir tentang niatnya untuk menjadi orang yang menyewakan jasa payung, Dadang sama sekali tidak merasa malu untuk mengerjakannya, hanya yang ia pikirkan apakah hal itu akan membuat kedua orang tuanya merasa malu jika suatu saat melihat dirinya. Akan tetapi ia segera buang jauh-jauh pikiran itu, dan tekad Dadang sudah bulat karena Dadang merasa itulah mungkin pekerjaan termudah yang yang bisa dilakukan oleh anak sesusianya. Dengan segala apa yang tengah dipikirkannya membuat perjalannya pulang begitu terasa cepat dan tak terasa ia pun segera masuk kerumah, didapatinya ibu sedang asik menonton tivi dan kedua adiknya yang sedang bermain.
“eh dang sudah pulang lagi kamu?”
“iya bu tadi dadang dari rumah cecep terus sepertinya mau turun hujan, dadang langsung saja pulang tapi hujan sudah keburu turun tapi untung dadang bisa berteduh di rumah sakit.”
“oh gitu ya, ya sudah kamu makan dulu sana.”
Mendengar perintah ibunya itu, Dadang yang memang juga merasa agak lapar segera berjalan menuju dapur dan kenyataannya yang Dadang lihat di atas piring lauk pauk hanya ada goreng tempa, tapi Dadang tidak peduli ia tetap memakannya, justru yang ia pikirkan adalah payung dengan ukuran yang cukup besar agar dapat dengan segera melaksanakan niat dan keinginannya menyewakan payung. Selepas makan dan perutnya seudah terasa kenyang, Dadang kemudian menuju setiap ruangan hanya untuk mencari payung, hal itu sama sekali tidak dihiraukan oleh ibunya, begitu pula dengan Dadang yang memang sengaja tidak ingin bertanya pada ibunya apakah mempunyai payung atau tidak, dan disisi lain Dadang tidak ingin ibunya menjadi bertanya-tanya. Seisi rumah sudah ia periksa tapi ternyata payung yang ia harapkan tak pernah ada di drumahnya, dan baru Dadang sadari jika bapak dan ibunya tidak pernah mempunyai payung. Dan tanpa putus asa Dadang terpaksa meminjam kepada ibu Amy tetangganya. Usaha Dadang tidaklah sia-sia dan membuahkan hasil, gayung pun bersambut Dadang diperbolehkan meminjam payung milik bu Amy kapan saja Dadang mau, maka Dadang pun semakin mantap dan sudah tak sabar untuk menunggu hari esok yang Dadang harapkan esok ada hujan yang turun.
>>><<<
Pagi keesokan harinya, dimana matahari terbit seperti biasanya namun cahanya agak terhalang oleh sekumpulan awan tebal, Dadang yang memandangi langit dari teras rumahnya berharap jika yang dilihatnya adalah mendung yang kemudian menurunkan air hujan. Hingga matahari merangkak menuju siang, Dadang masih bertahan di teras seraya terus menunggu adanya tanda-tanda akan turunnya hujan seperti tetesan-tetesan air yang kecil seperti kerikil.
“daaang sedang apa kamu diluar?” tanya ibunya dari dalam rumah.
“sedang diam saja bu.”
“daripada diam diluar, mendingan kamu tolongin ibu angkat jemuran di belakang sana.”
“iya baik bu!” ucap Dadang sambil berlalu menuju kedalam rumah dan terus menuju belakang rumah untuk mengangkat jemuran.
Pakaian kesatu, kedua, dan ketiga sudah Dadang angkat dan tidak ia sadari saat Dadang akan mengangkat jemuran yang keempat pada tangan Dadang tertetesi oleh air-air kecil yang jatuh dari langit. Tetes demi tetes air itu semakin banyak dan semakin terasa oleh Dadang, dan benar saja itu adalah air tanda-tanda turunnya hujan, hujan yang Dadang tunggu-tunggu, lalu Dadang mempercepat mengangkat jemurannya, sambil setengah berlari mebawa tumpukan jemuran menuju ruang tengah rumah dan menyimpan semua jemuran dengan sedikit terburu-buru, sedangkan ibunya hanya memandanginya dengan heran karena milhat anaknya yang seperti ada suatu urusan, dan entah lupa atau mungkin juga tidak ingat Dadang langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu pada ibunya. Dadang berlari menuju rumah bu Amy. Hujan pun tampak akan seperti deras, Dadang tak henti mengetuk pintu rumah bu Amy. Tidak lama kemudian bu Amy muncul dari pintunya dan seperti sudah mengetahui jika yang mengetuk pintu itu adalah Dadang langsung saja memberikan payung miliknya kepada Dadang.
“terima kasih bu!” ucap Dadang langsung berlari dari hadapan bu Amy, dan bu Amy yang melihat Dadang hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Hujan pun semakin deras dan Dadang tidak peduli, ia terus berlari menuju rumah sakit dimana tempat itu adalah salah satu temapt yang baru ia ketahui banyak anak yang menyewakan jasa payung. Dengan pakaian yang cukup basah kuyup tidak berapa lama Dadang sampai juga di pelataran rumah sakit, dan beruntung hari itu tidak terlalu banyak anak-anak yang menyewakan payungnya, jadi Dadang kali ini merasa tidak terlalu banyak saingannya. Namun keberuntungan memang sedang berpihak pada Dadang, hal itu terbukti karena belum juga Dadang akan berteduh dan menawarkan jasa payung, ia sudah ada yang memanggil untuk menyewa payungnya dan meminta diantarkan menuju tempat dimana mobil penyewa itu diparkirkan.
“de…de…payungnya de!”
“oh iya pak ini payungnya.” Balas Dadang dengan senang, karena payungnya yang cukup besar Dadang dan bapak itu berjalan bersama menuju tempat parkir mobil yang juga tidak jauh dari pelataran rumah sakit. Saat bapak penyewa payung itu sudah masuk kedalam mobilnya belum ada tanda apa-apa karena kaca mobilnya masih tertutup, ada rasa cemas dalam hati Dadang dan ia pun hanya bisa diam karena tidak berani meminta ongkos atau imbalan. Namun dengan segera kecemasannya itu hilang saat kaca mobil itu tiba-tiba terbuka dan bapak itu bertanya singkat pada Dadang.
“nak kamu kelas berapa, terus bapak dan ibu kamu kerja dimana?”
“saya masih kelas enam pak, kalau bapak saya kerjanya sebagai tukang parkir di perkantoran, sedangkan ibu saya kadang suka mencuci pakaian orang lain, kadang juga memijat.” Ucap Dadang apa adanya, mendengar jawaban dari Dadang itu entah apa yang dipikirkan oleh bapak yang seperti dokter itu, namun yang terlihat oleh Dadang bapak itu sedang merogoh saku celananya kemudian bapak itu memberi Dadang uang cukup besar, tiga puluh ribu.
“ini de ambil saja.”
“tapi pak ini besar sekali.”
“ah gak apa-apa de..ayo ambil saja, kalau gak mau kamu gak boleh menyewakan payung disini lagi.” Ucap bapak itu sambil tersenyum
“i…i…iya baik pak terima kasih!”
“ya sudah kamu pulang sana, jangan hujan-hujanan.”
Dan Dadang hanya menjawabnya dengan anggukan. Dari satu pelanggan itu, Dadang merasa imbalan dari bapak tadi sudah lebih dari cukup, dan memutuskan untuk langsung pulang walaupun hujan belum sepenuhnya reda, tapi Dadang senang kali ini ia bisa memberikan uang jajan bagi kedua adiknya dan sisanya akan ia belikan payung.
OGN.
01 Januari 2011
13 Desember 2010
SAJAK MELAWAN WAKTU*
Cerita lama selalu menjadi kekuatan bagi kita, ketika semua sudah tertulis dan menjadi ada, segalanya pasti akan ada yang hilang dan tertinggal, semuanya mempunyai tempo antara cepat dan lambat, hanya ada dan ternikmati jika diam tak melangkah, menggoreskan segala keinginan kita hingga benar-benar memenuhi arah yang masih kosong. Yang kita pikirkan ke depan jelas sudah adalah perubahan, kesombongan akan menyeringai jika kita lalai, namun aku lapangkan hati dan raga ini agar perjalanan menjadi seimbang. Karena kita sadar yang tidak terbawa oleh asa tidak kita inginkan untuk musnah sekalipun kita tak beriringan. Namun akan kita ingat sebagai sesuatu yang telah mengisi jalan kita. Tetapi waktu akan terus mendesak kita untuk berjalan dan yang telah berjalan kita rasa tidak berubah dan luntur oleh segala terpaan.
Adakalanya ketika jauh dalah lupa dan awal yang dahulu adalah saling tidak tahu. Ketika perjalanan kita yang semakin sulit terbendung seringkali mematahkan apa yang telah saling kita ketahui. Nama dan raga, aku yang sudah melangkah di jajaran paling depan, lambat laun bayang-bayangmu mulai tergantikan dan terhisap oleh waktu lalu yang telah kutinggalkan. Awalnya kau dan aku hanyalah jarak yang tak terpandang tak ada nama dan tanpa suara. Saling berlari kencang berharap untuk dipertemukan pada satu tempat yang mau tak mau akan menjadi titik pertautan. Tatapan kita adalah awal dari kata yang bernama singkat dan tak bisa dihentikan, memaksa kau dan aku untuk saling memusnahkan segala ucapan dan jabatan tangan yang erat. Dipenghujung jalan yang baru aku kembali tak mengenalmu seperti yang telah lalu saat kita belum bertemu.
Kelemahan pikiran adalah tak bisa mengita dan menduga akan sebuah kepergian, bagitu banyak mata, hati dan nalar ini terhalang oleh gerak-gerik yang begitu ramai. Selangkah pun aku pergi sepertinya takkan bisa menjangkau dunia luas ini dan tempat-tempat yang akan kau singgahi, kekuatanku hanyalah menyimpan hati. Dan berpetualanglah kau ke tempat yang tidak bisa kutemui untuk dapat melawan waktu menggenggam dunia. Jawabanku pada tiap-tiap daun yang jatuh hanyalah entah dan tidak bisa tahu, yang benar-benar tak bisa dipercaya olehmu. Maka segalanya telah kurekam sepenuh hati ketika kau pergi.
Mungkin saat ini kita sudah berada di jalan dan tempat yang berbeda, melupakan segalanya yang cerah dan terang, walaupun begitu berjauhan pernahkah kita berpikir dan bertanya pada hati kita sendiri, bahwa keramaian dunia takkan pernah mengubah isi hati kita yang paling kita rasa dan ketahui. Apa yang aku dank au rasa yang paling dalam adalah bukan sakit dan benci, tapi sebenarnya adalah hampa, hampa yang semakin melanda dan tak bisa diganggu gugat. Langkah jarum detik yang begitu cepat bukan menambah jauhnya bayangan kesendirian, akan tetapi semakin menambah nyata tentang segala keinginan dan kelemahan kita. Kau yang berada disana ku rasa takkan pernah berbeda, akan selalu mengerti dan kita pahami. Karena kehampaan bukanlah sebuah ilusi dan fantasi, tapi dia ada walau tak kasat mata. Ada dan hadir disaat sendiri dalam gelap yang dibalut oleh terang. Hampa adalah sebuah kenyataan yang semakin hari tersinari dan tersirami, semakin terasa kenyataannya oleh kita, ia tak pernah pergi bahkan terus semakin menghampiri.
Tapi langkah-langkah kita haruslah terus berjalan mendekati segala kemungkinan. Kau dan aku tak mungkin mematahkannya dan menghancurkannya hingga berkeping-keping. Kita akan lihat sejauh mana hampa akan mengantarkan segala keinginan. Tepian demi tepian harap telah terjamah kerinduan, terus mencari letak pijakan yang benar. Jalan kita terlalu panjang untuk disingkirkan dari garis-garis telapak kaki kita. Maka ketika sadar berkuasa jangan pernah berhenti untuk menatap satu titik jauh didepan, dan setiap anak tangganya yang sunyi. Waktu akan terus bergerak melaju seperi waktu-waktu yang telah lalu.
Aku mencoba untuk terbangun dari keringat cerita masa dulu yanag berat. Berat untuk melangkah dan bergerak. Entahlah hati ini begitu sibuk mengendalikan segala keinginan arah perjalanan yang masih tak ku mengerti dari sekian perjalanan yang penuh dengan asa. Tapi pikiran ini tak bisa menunggu dengan diam, aku harus mencari dan mencoba mencari segala harapan lama yang pernah terpendam begitu dalam, dimana saat itu adalah saat kurasakan sebuah sakit, dan yang terlihat olehmu bukanlah aku yang terbarig, tapi aku sakit karena berdiri sendiri sperti yang telah lalu. Dan ketika semuanya telah kau ketahui, maka relaknlah aku seperti aku, dan relakanlah semuanya sehingga aku takkan lagi lupa mencari harap.
22 November 2010
BUKA
Dulu adalah dimana penuh dengan lika-liku, pasang surut kebahagiaan dan keceriaan di antara kita, adalah yang paling indah. Saat pertama aku hadir dan menyapa, kita sudah sama-sama berjalan beriringan saling bersenandung, bernyanyi dan berdendang, tertawa lepas menghibur menghilangkan duka, karena bisa hadir dimana-mana menyusup ke dalam setiap telinga dan menyelinap ke dalam hati, semua itu seolah-olah kita anggap akan menjadi lama dan perjalanannya mungkin saja panjang dalam ruang kebersamaan dimana yang terdengar saat pagi tak pernah sepi dan malam tak pernah padam. Tempat kita berlari begitu luas, dan hampir setiap akhir pekan kita berjumpa, kau membawa cerita sedangkan aku memberi nada-nada yang sungguh tidak terpaksa – dan ternyata hari adalah indah, karena kita masih satu rasa dalam gerak dan pikiran, dimana jika direnungkan perjalanannya cukup panjang, namun tanpa terasa lelah. Setiap jejaknya meninggalkan kesan yang dalam dan bermakna, hingga yang terjadi diantara kita adalah rindu yang menggebu.
Semua itu adalah dulu, dimana kita kadang ingin saat ini merasa sama dengan dahulu, tapi kita ingat dan sadar pada waktu dan arah angin – waktu yang terus menghapus masa lalu dan arah angin yang mengubah langkah kita. Kini kita memang harus bersatu walaupun dengan raut wajah dan nada bicara yang berbeda, akan tetapi setelah sekian lama yang terlupakan itu masihkah kita berada dijalan yang sama? Jika ya, mungkin hanya sedikit bergeser saja, dan jika tidak maka kita biarkan saja seperti warna-warni bunga yang ternyata masih bisa berdampingan, karena kita tidak bisa pungkiri bahwa kita tidak sendiri.
Segalanya telah tertancap dalam benak kita. Kita genggam semua kenangan dengan erat dan kuat hingga tidak akan pernah terlepas walau sehelai. Tak ada yang pernah tertutup dan saling bersembunyi, mata dan hati saling terbuka sehingga tak ada nada yang bernama curiga, maka langkah kita menjadi ringan dengan selalu lepas tertawa. Semua itu begitu sedikit dari setiap bagian langkah kita yang begitu banyak untuk di kisahkan, hingga mungkin kita lelah untuk menceritakannya. Namun semua itu telah kita dapat dan rasakan dengan banyak gambaran-gambaran tentang keindahan dan semua telah kita simpan dalam segala suasana yang kita jamin semua itu takkan pernah hilang dan terlupakan, semuanya tidak bisa kita pungkiri bahwa kita tidak sendiri.
NYALA
Jauh dimana waktu kaki melangkah, tak jarang ada bagian dalam jalur hidup ketika langit terasa terus menerus berwarna hitam, semu bukan keinginan, semu adalah jalan. Tak pernah berhenti terus mencari titik dimana keberadaan awan yang putih dan lembut, yakin bahwa itu bukanlah semu yang selalu membuat ragu, terbangkan pikiran sejauh-jauhnya hingga pasti menemui yang sedang tersembunyi, menunggu hingga terpanggil oleh suara-suara yang tak bergetar. Pertemuan dengan perih selalu menyapa ketenangan hati, membuai dan terlena dibuatnya hingga mata terpejam melihat hitam. Dalam mimpi memaknai jatuh demi jatuh, pada rangkaian langkah-langkah yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Memikirkan adakah cahaya disana, di tempat yang berlainan arah? Jawabannya adalah membisu. Tapi jika saja dapat kembali kearah yang dianggap suram, maka sudahlah terasa rasanya seperti apa. Tetapkan agar percaya bahwa terang akan segera datang dan disaat yang tidak pernah terduga sebelumnya oleh aura panca indera.
Langit diatas sana selalu menyala, menerangi yang tegak berdiri menghirup hembusan keinginan untuk keluar dari kubah yang menutup rapat setiap catatan perjalanan. Tanah tempat berpijak tidak selamanya bungkam, ketika basah tersirami oleh air hujan, akar-akar begitu bahagia, dan ketika disinari sinar matahari segalanya seperti terasa hangat, langit begitu dekat karena terlihat, burung-burung saling bersahutan melayang membawa kutipan sepatah kata dari kumpulan awan dan segenap alam untuk untuk dihantarkan pada malaikat yang berada diatas bumi yang sedang tersenyum lepas.
Semua telah mempercayaiku, walalu mereka terkadang merasa sulit, yang terasa adalah hujaman dan tikaman dari perkataan dan sumpah serapah melilit raga. Tapi biarlah aku mengurung benci, karena tanah sudah mempersilahkanku dengan luas untuk melangkah dengan sederhana, karena anginpun menunjukkan arah padaku dengan hembusannya yang terbuka lepas, lepas…aku harus segera lepaskan sebuah jangkar raksasa di pundakku, dimana karatnya berceceran menahan laju agar aku tetap berdiam diri menunggu dijilati api penghancur mimpi dan harapan. Sekalipun rapuh aku takkan menelan ludah, agar tubuh ini dengan perlahan-lahan dapat merasakan keyakinan yang bertambah yang setetes demi stetes mengendap pada celah-celah kecil dalam tubuhku, sehingga ketika telah terkumpul dapat memancarkan dunia baru yang bias lebih kumengerti dan kupahami. Dan aku percaya pada semua bahwa waktu akan mengantarkan pada saatnya yang akan tiba, dan pada waktunya nanti yang kulihat adalah nyala, terang benderang lalu semua akan beterbangan.
Nyala panas yang membelenggu, membakar tapak jejak yang telah membuat semua bertambah suram. Gerah menjadi perangkap untukku tetap menerima uap dari bara pembuat dan pencipta luka. Menunggu hujan untuk segera turun adalah mungkin dan tidak mungkin. Aku hanya bias berdiri, wajah menengadah tanpa suara diantara riak-riak fatamorgana yang tampak bergelombang. Mata semakin kuat terpejam, namun tubuh terasa lunglai oleh desakan berbagai macam aroma uap tanah yang semakin memanas, aku hanya bisa menahan dan menunggu sekawanan pelari tanpa suara yang bergerak cepat mengelilingi pikiran-pikiran penuh dengan tanda tanya. Karenanya kata-kata adalah sebuah harap dan yang selanjutnya adalah kenyataan yang benar. Keringatku mulai luluh lantak berjatuhan tanda panas dan gerah telah mengalah pada hembusan angin yang berselancar mengarah ke berbagai arah, perlahan-lahan mendinginkan beribu-ribu rasa kecewa yang telah tertanam dalam asa.
Pertanyaanku kali ini, adakah tempat yang lebih luas untukku merenung, memikirkan berbagai rencana yang penuh cita-cita, adakah lapang yang lebih luas untuk berlari, untuk meninggalkan segala beban serpihan kecewa. Dan akhirnya ketika daratan dan lautan telah sesak oleh kenyataan, maka dimanakah kita akan berpijak, berteriak dan terus melangkah ke depan, memandang segala kemungkinan yang belum tampak namun pasti dan tanpa ada segala ingatan lama untuk ikut terbawa kembali yang dapat mematahkan segala asa.


