22 Oktober 2018
Karyawan
16 Oktober 2018
Marketing Capuccino
Cie ciee judul tulisannya kaya kenal, kaya pernah liat dimana gitu ya, atau memang ada yang belum tau judul itu diambil dari mana? Ok buat yang udah tau kalem aja ya, hehe. Buat yang belum tau saya mau ngasih tau nih, kalau judul tulisan saya itu diambil atau tepatnya terinspirasi dari blog nya seorang pebisnis, pengusaha, usahawan, businessman, entreupreneur atau apapun itulah sebutannya, yang saya lihat do'i cukup sukses dan masih muda pula. Tau gak sama tempat makan namanya Warunk Upnormal? Cabangnya udah banyak, Wiss Khususnya yang ada di Bandung siapa sih yang gak kenal sama tempat ini, nah judul tulisan ini diambil dari blog pribadinya beliau, namanya Rex Marindo.
Okey akan saya luruskan dulu niat dan tujuan saya nulis kaya gini, pertama : apa yang saya tulis ini bukan untuk menjadi motivator bisnis, kedua : ini cuma curhatan saya yang kagum aja sama kang Rex Marindo, terlebih lagi kagum setelah baca baca di blog nya yang lebih banyak curhatan tentang bisnis, hehe...tapi buka curhatan aja sih, ada juga tips tips dan rahasia rahasia yang ada dalam dunia bisnis. Jadi sekali lagi disini saya gak akan nulis tentang seluk beluk bisnis, walaupun saya sendiri sedang usaha kecil kecilan tapi rasanya belum bisa nulis bisnis kaya kang Rex Marindo.
Secara umumnya saya suka kagum kalau baca tulisan seseorang yang bisa menginspirasi, apalagi bisa menginspirasi buat diri sendiri, khususnya tulisan tulisan tentang dunia usaha, dan kebetulan juga saya cukup tertarik dengan dunia usaha berusaha. Setelah berjalan ikut grup grup whatsapp tentang bisnis, mulai dari bisnis konveksi sampai yang baru baru ini grup bisnis kuliner, by the way saya akhir akhir ini sedang melirik dan tertarik pada usaha kuliner, karena menurut saya bisnis kuliner itu cukup menjanjikan dibanding bisnis lainnya, ya pokonya keliatannya asik lah...keliatannya yaa.. Haha, maka bergabunglah saya di grup bisnis kuliner itu karena dengan maksud saya ingin mencari ilmunya dulu, ingin tau awalnya seperti apa, memulainya seperti apa pokonya A sampai Z nya lah, karena saya selalu ingat sama sebuah kalimat yang maknanya mendalam, terutama dari sisi agama atau secara syari'at Berilmu sebelum Berdagang, intinya bagaimana berilmu sebelum berdagang secara syari'at Islam dan sesuai apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihiwasalam. Ya singkat cerita lalu admin grup bisnis kuliner itu itu membagikan link yang mengarahkan ke sebuah blog dengan judul tulisan kurang lebih seperti ini : 10 Golden Rules dalam Bisnis Kuliner, ketika membacanya dalam hati saya "Wah ini nih satu lagi ilmu yang penting banget nih, sesuai sama apa yang saya butuhin,,,ilmu ilmu dan ilmu...kalau udah dapet ilmunya modal mah ngikutin...hehe, bayangin ternyata cuma 10 loh aturan yang harus dipegang dan dijalanin dalam bisnis kuliner, makin penasaran akhirnya saya klik link itu.
Singkat cerita tulisan di blog itu sudah saya baca, dengan gaya bahasa yang enak dibaca, gak berat dan cara menulis yang mengalir namun powerfull bikin saya suka sama blog itu, lalu balik ke grup wa ternyata udah rame aja ngebahas itu blog siapa, dan si admin grup pun memberikan bocoran kalau blog itu milik bos nya Warunk Upnormal.... Wow!!! MasyaAlloh sekali...udah deh speechless dengernya, karenanya saya jadi teringat pernah dalam satu kesempatan sekitar pertengahan tahun 2017 dalam sebuah kajian namun dibentuk dengan format talkshow bertempat di Masjid Istiqomah, Bandung, acaranya cukup bagus dan menyita perhatian khususnya buat kalangan usahawan, kalau gak salah acaranya membahas tentang usaha yang bebas dari riba, keren ga tuh? Kereen pisaan...salah satu narasumbernya ya itu kang Rex Marindo itu, dari penjelasannya tentang seluk beluk bisnis, kiat kiatnya, sampai visi nya tentang dunia bisnis oke punya, makanya ketika baca tulisan di blognya pantesan aja sik asik dan anteng buat dibaca. Sekalipun saya suka nulis tapi kayanya gak sebagus apa yang ditulis sama Rex Marindo, karena apa yang saya baca semuanya bersumber dari berbagai pengalamannya di dunia bisnis dari nol banget sampai seperti sekarang ini ditambah sama kepribadiannya yang rendah hati, makin pol aja deh do'i... Hehe..Lah saya pengalaman bisnis juga masih gini gini aja, masih malu malu buat di share.. Hehe, dalam hati kecil pengen bikin tulisan tulisan kaya kang Rex Marindo, tapi masih belum pede mengingat kapasitas dan kondisi yang ada sekarang ini belum memungkinkan untuk menulis seperti itu. Tapi saya yakin suatu saat di mulai dari saat ini InsyaAlloh bisa bikin tulisan tulisan yang inspiratif seperti itu, pasti ga akan sama tapi minimal mendekati lah ya, karena ide ga akan pernah bisa ditiru dengan sama, jadii saya harus jualan apa nih yang cocok biar bisa buka cabang dimana mana kaya Warunk Upnormal? Hehe.
Ditulis berpindah pindah tempat sambil nyari mood buat nulisnya... Hehe
14 Oktober 2018
KOMENTATOR
Masih jadi pertanyaan buat saya sendiri, kenapa sih orang bisa berkomentar? Perlu ya mengomentari sesuatu? Apalagi mengomentari sesuatu yang gak perlu dikomentari, kayanya kalau tulisan ini kebaca sama ahli bahasa, pasti dikomentari juga nih, soalnya tatanan bahasanya kacau, mungkin yaa, tapi gak apa apa lah, bebaskeun!
Mungkin perlu penelitian lebih lanjut, yang pasti ditelitinya bukan sama saya yah, akumah apa atuh, penelitian dan riset itu butuh biaya yang besar you know apalagi ini untuk meneliti sisi lain manusia, yaitu mengenai komentar, pengajuan proposal penelitiannya bisa sampai berapa M tuh?. Jadi yang ingin saya ketahui sebenernya orang mengomentari orang lain itu apakah sebuah kebiasaan, sifat atau memang software yang sudah ter-install dari sananya? Saya sering denger seseorang ngeluh ke temennya "uh dasar kamu mah, apa apa dikomentarin" , kebayang kan kalau udah apa apa dikomentarin, liat baju orang warna nya ga matching dikomen, pesen makan terus makanannya ga sesuai sama foto yang ada dibuku menu langsung dikomen malah di komplen, ujung ujungnya minta diskon atau gratis sekalian *boke mah boke ajah meureun gak usah nyari nyari alesan buat dapet diskon atau gratisan, liat rambut orang gondrong dikomen padahal sendirinya plontos, pokonya apa apa dikomentar deh, kebayang cape kan jadi orang yang suka komentar ini itu, cape otak, perasaan dan mulut, kalau terlalu sering ngomentarin dan udah jadi kebiasaan rutin, jatuhnya jadi ke iri, dengki, ghibah, gossip dan segala penyakit hati lainnya, mungkin? Mungkin aja.
Kecuali Rendra Sudjono, kalau do'i memang profesinya sebagai komentator jadi ga usah kita komentarin lagi, ngapain juga ngomentarin orang yang kerjaannya komentator, apalagi komentator sepakbola, di komentar balik baru tau rasa...hehehe, udah lah daripada saling komen, mending kita saling berbagi rezeki, tapi tanpa dikomentari juga ya.. Hehe.
Ditulis diruang tamu sebelum pergi kerja
25 September 2018
Sepakbola : kadang kesel tapi butuh
Sebagian membidik liga tarkam (antar kampung) demi membuat dapur terus ngebul.
15 Agustus 2018
Nge-Blog Kembali
okey okey saya mulai sadar, kalau udah kaya gini hanya ada satu kata "Lawan!"...eh maksudnya Ikhlaskan!, mau ngutak ngatik juga percuma ga tau apa yang harus dibenerin, awalnya darimana juga gak ngertiii, secara pakar web juga bukan, ahli internet juga bukan...okelah mungkin dibalik semua ini ada hikmah yang bisa mencerahkan musibah ini, dan saya mulai berpikir, berarti saya harus belajar lagi nulis yang bener *walaupun sampai sekarang gak tau nulis yang bener itu kaya gimana, terlalu pusing mempelajarinya,,ah bisa nulis blog lagi kaya gini juga udah uyuhan (gak tau padanan katanya apa), atau mungkin juga harus meningkatkan lagi skill dalam menggambar dan mendesain yang masih gini gini aja.
Jadi intinya sih yang saya rasain setiap pengen nulis di blog, semangat di awal tapi terganjal masalah teknis seperti ini, dan Alhamdulillah sekarang sudah bisa aktif kembali, dengan bantuan teman yang seorang IT, bagaimana caranya bisa kembali sign in lagi? teman saya itu cuma nyobain sign in pakai account saya dan ternyata gak ada kata kata wrong lagi, cuma itu aja...weeewwww!!!
29 Agustus 2017
Jika Momen Tak Tertulis
Ada beberapa orang teman yang suka jalan-jalan tapi mereka bukan traveller ataupun backpacker, namun ketika telah usai berjalan-jalan selain oleh-oleh yang dibawa mereka juga tentunya akan menceritakan tentang pengalaman perjalanan mereka sekalipun tanpa ditanya, bagaimana segala keseruan yang terjadi bahkan perbedaan budaya dan juga bahasa menjadi cerita tersendiri yang cukup menarik, udah kebayang dong kalau abis jalan-jalan pasti diceritainnya akan panjang lebar dan memakan waktu, hehe. Saya yang sangat jarang jalan-jalan cuma jadi pendengar saja, apa yang teman-teman saya ceritan meninggalkan kesan tersendiri, karena setiap orang menceritakannya dengan cara gaya bertutur yang berbeda-beda, ada yang membawakannya secara rinci dan detail layaknya seorang tour guide, ada juga yang ngebawain ceritanya secara lucu, seru, ramai dan lain sebagainya. Dan bagaimana pun cara meraka menceritakannya, mendengar semua itu yang harus saya garis bawahi adalah ternyata Indonesia itu seru, asik dan luar biasa! Semoga saya bisa keliling di negara saya sendiri sebelum mengunjungi negara lainnya..aamiin.
Tapiii...nah ada tapinya, dari satu cerita ke cerita lainnya sebenernya ada yang saya sayangkan dari beberapa teman saya itu, bukan karena jelek ceritanya, hanya saja apa yang mereka ceritakan pada akhirnya menguap keudara dan terbawa angin begitu saja entah terbang kemana, ingin rasanya memberikan saran mendingan cerita jalan jalannya ditulis saja dan akan lebih menarik lagi coba di bagikan di media sosial berikut dengan foto fotonya, kalau dari sekian perjalanan ceritanya dikumpulkan kemudian ditulis, bukan tidak mungkin bisa dibukukan kaya buku buku tentang traveling yang selalu laris.
Tapi saya ga maksa ko, itu balik lagi ke pribadi masing masing mau ditulis mangga silahkan, mau ga juga ga apa apa. Kembali lagi ke cara pandang seseorang, ada yang sukanya mendokumentasikan sesuatu ya salah satunya dengan menuliskannya atau juga dengan tangkapan kamera, ada juga yang hanya menceritakannya saja, yang pasti setiap momen berharga biasanya tak terlupakan.
27 Agustus 2017
Pengguna Aplikasi, Rating dan Komentar
Belum lama ini saya akhirnya ngerasain juga gimana jadi seorang driver ojek online. Awalnya sih iseng iseng daftar online juga susuganan weh (siapa tau aja) keterima, dan eh ternyata respon dari pihak operatornya cepet juga, padahal ini gratisan loh. Lalu saya dapet panggilan harus dateng esok harinya buat ngikutin training dan aktivasi akun di aplikasi drivernya yang udah saya unduh sebelumnya, training ini dimaksudkan untuk pengetahuan tentang tata cara menggunakan aplikasi dan simulasi jika ada orderan . Wah saya sebentar lagi bakal jadi driver nih pikir saya. Persoalan yang timbul adalah jadwal trainingnya berbeturan dengan jam saya kerja di kantor, tapi ini cuma butuh trik ijin cuti saja untuk satu hari demi posisi driver ojek online yang asik itu.
Singkat cerita ikutlah saya di training sebagai driver ojek online, saya pikir cuma sedikit yang ikutan, eh ternyata banyak pisan yang datang buat ikut training hari itu, luar biasa! Saya berpikir ternyata teknologi transportasi berbasis online ini dapat menyedot peminat yang cukup membludak untuk mencoba mengais rejeki di jalur ini, dan yang membuat saya merasa senasib sepenanggungan bahwa kebanyakan dari mereka yang pada hari itu ikut training ternyata seprofesi dengan saya yaitu pekerja dan karyawan, analisis saya ini semata mata sebagai mata pencaharian sampingan, sebagai tambah tambah uang saku dan pengisi waktu senggang yang menghasilkan. Akhirnya setelah training dan aktivasi akun saya pun resmi menjadi seorang driver ojek online yang siap antar jemput penumpang di Bandung, hehe.
Orderan pertama datang saat pulang kerja, ah ini saatnya sekalian tes aplikasi apakah berjalan dengan baik atau tidak. Ternyata Alhamdulillah titik kordinat gps si peng-order cukup tepat dan perjalanan pun lancar selamat sampai tujuan, dan konsekuensi nya adalah uang didapat, dan jujur saja pekerjaan seperti menjadi candu tanpa kenal waktu, hehe...tapi saya tau diri fisik harus tetaplah terjaga karena esok harus tetap masuk kerja.
Hingga satu minggu berjalan sebagai pengguna aplikasi berjalan baik baik saja dan menurut saya lancar lancar saja. Namun apa yang saya rasa baik baik saja ternyata belum tentu buat pengguna yang lainnya, ketika masuk ke update-an aplikasi saya iseng iseng liat liat komentar orang tentang aplikasi yang saya gunakan, ternyata komentar komentarnya berkonotasi negatif sekalipun aplikasi itu ber rating empat koma sekian, terlebih dari itu komentar yang ditujukan bukan ke aplikasinya tapi justru lebih menyalahkan kepada operator penyelenggaranya, tentang aturan main, kebijakannya dan lain sebagainya yang menyangkut hak hak para driver, entahlah saya belum merasakan ada sesuatu ketidak adilan dalam proses perjalanannya, mungkin karena saya menjalaninya dengan enjoy kali ya ga mikir sampe kesana...hehehe...kadang saya suka mikir, orang orang kenapa juga pake aplikasi tapi aplikasinya malah ga bener terus malah bikin komen komen ga bener juga menjurus kasar, kalo aplikasinya udah dirasa ga bener salah satu cara untuk ngilangin kesel ada baiknya di uninstall saja..hehe.

