14 September 2009

Project of Ngabandungan Bandung - Bagian I : PUDARNYA KESEJUKAN

Sebenarnya saya tidak terlalu mengetahui dengan pasti kapan Bandung mulai terasa panas, dan juga tidak ada data-data yang pasti mengenai perubahan suhu di Bandung. Tapi sebagai pengingat saja, dulu sekitar tahun 90-an dimana saya masih berada dalam masa-masa menjalani pendidikan alias sekolah, setiap hari berangkat ke sekolah saya tidak pernah lepas dari yang namanya mengenakan jaket. Pada saat itu sepertinya menjadi hal yang lumrah dan menjadi semacam keharusan bagi siapapun di Kota Bandung pada pagi hari untuk memakai jaket atau pakaian hangat lainnya, mengingat udaranya yang sejuk dan dingin dalam arti yang sebenarnya. Kemudian pada siang haripun saat pulang sekolah saya masih merasa nyaman memakai jaket, senyaman saya memakai kaos untuk bermain. akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, tepatnya ketika saya sudah menyelesaikan segala urusan pendidikan dan dari hari kehari, saat keluar rumah ada semacam rasa malas untuk memakai jaket lagi, kecuali saat mengendarai motor dan malam hari. Namun tidak jarang sekarang ini saat malam hari pun ada sedikit rasa gerah.

Merasakan keadaan seperti ini, secara sadar atau tidak kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya “naha jadi panas kieu?” apa yang sebenarnya terjadi dengan keadaan alam Bandung ini?. Dan juga saya sebagai bagian dari warga Kota Bandung bukannya tidak merasa peka dan tidak peduli dengan keadaan kotanya, namun tetapi akan muncul banyak sekali dugaan-dugaan, dimana menurut saya Kota Bandung ini begini dan Kota Bandung itu begitu, lantas kemudian akan banyak sekali yang dipersalahkan, panas karena inilah dan panas karena itulah. Tapi pada suatu waktu saya pernah beranggapan jauh sebelum saya mengenal istilah perubahan cuaca atau iklim dan pemanasan global yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya dikampanyekan, jangan-jangan Bandung sejak lama sudah mengalami yang namanya perubahan iklim dan pemanasan global tersebut. Jikalau memang benar adanya, maka kota ini benar-benar ada dalam taraf yang mengkhawatirkan jika tidak ada langkah-langkah yang nyata dari kita untuk memperbaiknya.

Kemudian pada suatu kesempatan, setelah saya berkeliling-keliling dijalanan sambil melihat-lihat mall-mall yang sedang dibangun, akhirnya saya pun tergiur juga untuk masuk kedalam salah satu mall yang didalamnya sedang dibangun sebuah bangunan yang menjulang tinggi entah itu hotel atau apapun mungkin juga sekedar mempercantik atau mungkin juga untuk lebih memanjakan para pengunjungnya, namun menurut saya bangunan itu jika ditujukan untuk melihat keindahan alam sekitarnya, rasa-rasanya agak kurang nyaman dan kurang seusuai adanya, karena mengingat disekeliling mall itu adalah pemandangan pemukiman penduduk yang cukup padat, sedangkan gunung-gunung yang terlihat masih begitu jauh dari pandangan. Kemudian secara tidak sengaja didalam mall itu saya terlibat obrolan dengan seorang karyawan di sebuah tenant, yang kemudian saya ketahui dia adalah seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di tenant itu, dan kebetulan pula dia itu bukan asli dari Bandung, namun dia sudah sekitar empat tahun tinggal di Kota Bandung. Saat saya bertanya mengenai kondisi Bandung sekarang ini, dia pun menjawab menurut pandangan dan apa yang dirasakannya saat ini, bahwa Bandung sekarang ini sudah tidak dingin lagi, didalam hati saya pun setuju dengan pernyataan itu, lebih lanjut dia pun menambahkan Bandung sekarang ini lebih panas dibandingkan ketika ia pertama kali datang ke Bandung empat tahun yang lalu, untuk yang ini sebenarnya saya tidak begitu yakin kalau Bandung empat tahun yang lalu masih menyisakan kesejukan, mungkin saja ya mungkin saja tidak.
Dari obrolan dengan satu orang saja, saya dapat menyimpulkan bahwa apa yang saya rasakan sekarang ini setidaknya ada suatu kesamaan, dan mungkin saja ketika saya bertanya kepada beberapa orang, bisa jadi ucapan yang terlontar dari mereka adalah kata-kata “panas”, “sudah tidak sesejuk dulu”, “panas banget” dan lain sebagainya.

Namun demikian pada kenyataannya, seperti dari angkot ke angkot sering pula saya melihat ekspresi yang menandakan kegerahan dari sebagian orang-orang yang berada didalamnya. Seperti ketika seorang penumpang yang baru saja masuk ke dalam angkot saat duduk langsung membuka kaca yang berada disebelahnya, walaupun sebenarnya banyak sekali kacanya yang susah untuk dibuka, kemudian ada juga seorang bapak yang duduk dipojok mengipasi dirinya dengan koran, lalu ada juga seorang ibu yang sesekali menyeka keringat anaknya yang masih kecil, yang saya lihat sepertinya keringat dari wajah anak itu tidak pernah berhenti, begitu pula dengan saya, saya lebih memilih untuk duduk didepan, karena biasanya kaca disebelahnya selalu terbuka lebar hal itu setidaknya memberikan ruang yang cukup besar bagi angin untuk masuk kedalamnya.

Atas dasar ini, saya atau juga anda jangan sampai kemudian memvonis bahwa di Kota Bandung sudah tidak nyaman lagi untuk ditinggali karena alasan “sudah mulai panas”, buktinya hampir setiap akhir pekan dan libur panjang masih banyak orang-orang yang dari luar Kota Bandung mengunjungi kota ini walaupun tujuannya tidak untuk mencari hawa yang sejuk, karena kesejukan udaranya sudah sedikit bergeser menjadi kesejukan untuk berbelanja. Tapi bagi saya, meskipun ada kesan kesejukan kota ini sudah memudar, namun masih ada semacam harapan walaupun sepertinya sedikit untuk dapat merasakan hawa yang sejuk itu meskipun hanya pada ruang-ruang tertentu seperti halnya taman kota dan ruang terbuka hijau lainnya, seperti yang sering saya lakukan untuk sekedar duduk-duduk sejenak menghirup udara segar dan merasakan hawa sejuk dari pohon-pohon yang tampak masih rimbun dan lebat seperti di Taman Ganesha atau di Taman Lansia, yang saya anggap tempat-tempat seperti itu adalah sebagai penyeimbang, penyeimbang bagi perubahan yang selalu cepat, dan saya yakin ketika suatu perubahan terjadi akan selalu ada penyeimbang didalamnya, walaupun penyeimbang itu terkadang menjadi bagian minoritas atau bagian kecil dari suatu perubahan, akan tetapi posisi keminoritasannya terkadang dibutuhkan bahkan menjadi degup jantung dari perubahan itu sendiri, terlebih bagi kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar