14 September 2009

DIMANAKAH KAU MATERAI?

Pulang taraweh masih pake baju si koko dan peci saingannya H. Iming tapi saya enggak tahu merk nya apa pokoknya warnanya putih polos harganya pertama kali beli kalo enggak salah 30 ribuan lah di Gramedia karena waktu itu tadinya saya mau membeli buku tapi buku yang saya cari enggak ada sedangkan uang yang saya pegang harus segera dihamburkan dari pada beli yang macam-macam mending saya beliin saja itu uang untuk membeli peci. Terus saya langsung masuk kamar, pasti nyangkanya mau ganti baju ya? padahal saya mau cek dan ricek telepon genggam saya, siapa tahu aja banyak yang miscall dan sms dari yang menggemari saya, maksudnya penggemar. Tapi ternyata eh ternyata cuma ada satu sms, saya sempet malas untuk membacanya karena pikir saya paling-paling itu dari operator yang rajin suka kirim-kirim sms yang isinya promosi kuis berhadiah dan rbete-rbete, sekali-sekali mah ngirimnya yang agak mesra sedikit operator teh atuh “hai…pa kabar?”, “udah makan belum?”.

Tapi semakin dibiarin, saya malah tambah penasaran untuk membacanya, lalu saya memutuskan untuk membacanya siapa tahu dan siapa tempe, maksudnya siapa tahu dari someone, karena setiap surat dalam Al-Qur’an pun semuanya harus dan wajib untuk dibaca jangan ada yang terlewat atau dibiarkan, eh pas dibaca tidak tahunya dari teman saya Tantan, pasti si Tantan nggak taraweh, soalnya kelihatan dari jam diterimanya sms itu jam setengah delapan, pastinya setengah delapan malam, mana ada taraweh setengah delapan pagi. Karena biasanya selesai taraweh itu paling cepat jam delapan lebih dan paling lama jam setengah sembilan. Isinya sms si Tantan itu kira-kira begini

“keu ari hotel cihampelas deukeut teu ti imah ente? engke anteur nya?” artinya keu kalau hotel cihampelas deket gak dari rumah kamu? nanti anter yach? ,
Aduh saya sempet curiga mau ngapain si Tantan ngajakin saya malem-malem ke hotel. Ah langsung saja saya ini menjawabnya smsnya si Tantan itu

“oh deukeut atuh tan, kabeneran urang mah apal nu boga na ge, bejakeun weh dulurna pa haji.” maksud saya oh dekat dong tan, kebetulan saya tahu sama yang punyanya, bilang aja saudaranya pa haji.
sms itu dikirim oleh saya. saya menunggu balasan dari si Tantan.

“oh iya atuh keu, saya meluncur ke sana, nanti saya kontak lagi”. begitu jawaban sms dari si Tantan setelah saya menunggu beberapa saat. saya biarkan saja tidak dibalas lagi, karena kan dia sudah janji mau mengkontak saya lagi nanti. enggak tahu nanti itu kapan, kadang si Tantan itu suka rada enggak puguh, puguh itu apa ya…kira-kira artinya jelas…ah terpaksa saya pun makan malam dulu.

Tidak lama setelah saya selesai makan malam dan masih memakai sarung, terdengar suara dering telepon dari hape saya, ya iya atuh masa dari hape tetangga sebelah, ternyata yang menelepon saya itu adalah si Tantan.

“keu urang geus diluhur!” artinya keu saya sudah di atas.

“oh urang ge geus dihandap tan!” jawab saya maksudnya oh saya juga udah dibawah. maksudnya si Tantan ada di atas karena rumah saya berada disebuah gang yang turun kebawah, jadi tidak ada salahnya kan kalau saya menjawab saya ada di bawah.

“hehe..” itu si Tantan malah hehe mendengar jawaban dari saya.

Maka dari itu saya langsung saja menuju ke atas ke jalan raya menyusuri gang penuh kenangan, hingga akhirnya saya menemukan si Tantan sedang menunggu saya sambil menghisap sebatang rokok.

“tan mau ngapain kamu teh ke hotel cihampelas?” Tanya saya dari arah belakang yang menyebabkan si Tantan kaget.

“ieu rek mikeun sapatu ka lanceuk urang euy.” Jawab si Tantan santai sambil terus menghisap rokoknya. Artinya ini saya mau ngasihin sepatu ke kakak saya.

“euh sugan the rek naon.”

“deket teu sih?”

“eta didinya.” Maksud saya itu disitu sambil menunjuk ke arah sana.

“itu disana yang ada mobil parkir.”

“yee…nu parkir the loba.” Yee yang parkir tuh banyak.

“ya udah lah pokonamah maju.” Saya sambil langsung naik duduk dibelakangnya si Tantan.

“bentar-bentar, pake helm jangan?” Tanya si Tantan rada khawatir

“alah gak usah lah, maju saja tan, kaleum weh ”

Maka dengan sedikit ragu-ragu karena saya tidak memakai helm si Tantan menstarter motornya, bersiap-siap seperti akan melakukan perjalanan jauh pake kacamata dan sarung tangan, rokoknya dia buang terlebih dahulu karena menurut si Tantan suka gak enak kalau merokok sambil nyetir motor, alasannya mah asapnya suka gak kelihatan dan cepet hilang, lalu kemudian mulai masuk gigi satu, dan ketika maju. beberapa meter begitu akan masuk ke gigi dua, ternyata kita sudah sampai di hotel cihampelas, si Tantan hanya gogodeg, gogodeg itu semacam geleng-geleng kepala cuma tidak terlalu keras dan tidak terlalu lebay, saya hanya senyum-senyum melihat si Tantan yang sedikit menyesal karena sudah nurut sama saya.

“gelo maneh mah teu ngabejaan sugan teh jauh euy.” Maksud si Tantan gila kamu mah nggak ngasih tahu kirain jauh euy. Euy itu apa ya, maaf saya belum menemukan artinya euy. Ya anggap saja sebagai pemanis buat yang nulis.

“hehe.”

Saya dan si Tantan turun dari motor kemudian si Tantan memarkirkan motornya tepat disebelah mobil kijang Innova enggak tahu punya siapa, karena memang begitu posisi parkirnya, soalnya kamu tidak ikut sama saya dan si Tantan sih jadi aja enggak tahu. Saya masuk kehotel itu duluan menuju receptionist sambil sekalian menanyakan dikamar berapa kakaknya si Tantan menginap. Saya juga kenal sama kakaknya si Tantan, namanya Ipan sebenernya huruf p nya pake f cuma karena saya sudah biasa dari dulu manggilnya a Ipan ya sudah Ipan saja, sementara si Tantan malah sibuk nelpon sana sini, ya sudah saya tinggal saja di luar.

“maaf kang kenal sama A ipan kakaknya tantan gak?” Tanya saya pada receptionist yang sedang khusyu’ kutrat-kotret. Jadi kutrat-kotret itu semacam apa ya, semacam menuliskan atau menjumlah angka-angka pada selembar kertas baik itu angkanya berupa pecahan uang biasanya yang dihitung adalah hutang.

“oh nggak tahu a.” itu si receptionist manggil aa sama saya.

“ah masa gak tahu, kata si tantan nginep disini.”

“tantan mana ya?” Tanyanya lagi

“bentar ya kang.” Saya menuju pintu masuk dan memanggil si Tantan untuk masuk kedalam.

“nah ini kang si tantan teman saya adiknya a ipan teh.” Kata saya sambil memperlihatkan si Tantan pada receptionist itu yang kemudian memperhatikan wajah si Tantan.

“kenal gak?”

“enggak ah.” Jawabnya sambil gogodeg,

“ya sudah atuh kalau gitu mah kenalan aja dulu.” Suruh saya pada receptionist itu, dia menurut saja apa yang saya perintah kemudian menjulurkan tangannya ingin bersalaman sama si Tantan, si Tantan pun menyalaminya.

“keu ari kamu ngobrol naon wae emangna jeung resepsionis eta?” Tanya si Tantan pada saya serius, artinya keu kamu bicara apa aja emangnya sama resepsionis itu.

“nya saya tanya, akang kenal gak sama a ipan kakaknya kamu.”

“eeh kamu mah, a ipan teh dari tadi saya teleponin katanya lagi keluar dulu, belanja baju buat anaknya.”

“yee kenapa atuh kamu bukan bilang kalau a ipan ada diluar!”

“yee.”

“yee.”

Terus karena malu sama si resepsionis itu si Tantan terlihat sedikit mengusap perutnya yang mulai membusung seperti busung lapar,

“keu sambil nunggu a ipan kita ke sebrang yu, makan dulu.” Ajak si Tantan pada saya. Dan saya pun mengiyakannya mengantarnya makan malam dulu di seberang di nasi goreng tempat biasa mangkal kang Maman hanya mengantarnya karena saya sudah makan. Ternyata bukan mang Maman yang jualan pada malam itu, yang jualannya malah adiknya, saya lupa lagi namanya siapa, tapi yang pasti adiknya kang Maman itu adalah kakaknya teman saya si Dadi yang sekarang tiggal di Lampung.

Saat sedang manikmati makan malam tidak lama kemudian datang teman saya namanya Hendri, karena sudah agak lama tidak ketemu saya pun sama si Hendri ngobrol sana ngobrol sini. Maaf obrolannya saya potong karena takut kepanjangan, saya nya keburu males nulisnya. Setelah semuanya selesai dan si Hendri kembali ke tempatnya masing-masing, saya sama si Tantan kembali menuju hotel tapi tidak lupa membayar makan malamnya. Dan ternyata a Ipan belum juga datang ke hotel, si Tantan jadi cemas karena malam semakin malam sementara dia kelihatannya sudah ingin pulang. Maka Tantan pun mencoba mengirim sms pada a Ipan. Dan balasan dari a Ipan menyatakan kalau a Ipan masih OTW.

“euh lila ieu mah.” Si Tantan berbicara sendiri pada dirinya sendiri, dan sedikit kesal pada a Ipan.

“ya sudah atuh kita susul saja a ipan nya.” Saya punya usul.

“iya susul kemana?”

“ya kemana aja yang penting kita susul.”

“iya atuh hayu.” Jawab si Tantan sambil melangkah maju bersama dengan saya.
Setelah sekitar beberapa meter berjalan kaki, dari kejauhan saya dan Tantan melihat sosok yang tambun itu, ternyata benar itu adalah a Ipan yang sedang ngutak-ngatik handphone nya seperti sedang sms-an.

“aduh tan saya teh lagi nyari materai buat besok euy.” Kata a Ipan santai pada kami berdua yang sudah kesal menungguinya.

“emang besok kenapa a, bukannya materai mah buat surat-surat berharga a?”

“iya maksudnya mah itu.”

“wah atuh jam segini mah mau nyari dimana?” Tanya si Tantan.

“ya sudah atuh kita sama-sama nyari materainya.” Saya punya usul lagi.

Maka saya, Tantan, dan a Ipan pun sepakat menyebar untuk mencari materai ke warung, warnet, tukang voucher pulsa, ke tukang gorengan, tukang brownies kukus, sampai ke pom bensin tempat si Hendri bekerja. Ternyata malam itu kami bertiga sibuk untuk mencari selembar materai kecil, yang tidak pernah kami temukan. Dan sebenarnya tidak saya perlukan. Oh dimanakah kau materai?

1 komentar: