Jalan yang harus kutempuh sangatlah panjang dan memakan waktu yang begitu lama. Tapi bisa juga menjadi singkat, namun segenap energi yang berada di kakiku ini membuatku harus terus bergerak dan terus melangkah. Semakin lama dan semakin jauh aku melangkah, aku semakin merasakan di ujung perjalanan ini akan berbunga, tapi kenyataannya itu nanti. Dan kapan saja. Semuanya kupirkikan dan harus kujalani. Semula aku menyangka ini adalah teka-teki. Tapi semuanya nyata dan terasa. Bukan bualan. Karena semua diciptakan apa adanya untukku, walaupun nanti.
Maka untuk menghilangkan rasa gundah dan rasa gelisahku, aku akan bernyanyi. Ya bernyanyi bersama pagi. Melantunkan lirik-lirik harapan. Menggemakan nada-nada saat kita renggang. Berpijak diruang yang lapang. Sambil menengadah memandang langit yang terbuka begitu luas. Biru dan lembut. Setiap bait yang terbang melayang, aku berharap semoga hembusan angin menangkap segala kemungkinan. Lalu menghantarkanku untuk menemui titik yang bernama suatu saat dan nanti. Mengerti atau tidak, percaya atau tidak. Nyanyianku bukan sumpah serapah. Aku pun mengetahui jika suatu saat adalah entah, dan nanti adalah entah. Begitu juga aku, kamu, kita adalah entah. Tapi di suatu saat dan nanti itulah kita pasti akan berjumpa kembali dari kerenggangan yang masih berpihak pada langkah-langkah yang selalu bergerak.
Karena dari sekian banyak suara dan peristiwa, aku hanya ada aku, yaitu aku. Semuanya menjauh. Merenggang dan terpisah. Mungkin saja sedang menempuh jalan pilihan, atau mungkin juga ada yang sedang terus mencari ambisi. Mungkin kita saat ini saling berkejaran di jalan yang berlainan. Namun tetap saja walaupun kita ini mempunyai segala pikiran yang luas, aku dan kita semua bukanlah sebuah barang pecah belah yang dengan mudah di kumpulkan untuk kemudian direkatkan, lalu menyatu dan menguat. Aku hanya menunggu kemungkinan-kemungkinan yang membuat arah dan gerak yang sempat melewati jalan bercabang, dapat berjalan kembali beriringan – bersama.
Bila memungkinkan saatnya untuk terbang. Maka aku akan segera terbang. Menyempurnakan langkahku. Mencari yang tak pernah ditemukan dijalan panas dan panjang. Juga tatapanku menjadi semakin luas, walaupun gerak langkah dan terbangku masih sedikit tanpa arah. Tapi aku merasakan lebih bebas dari sebelumnya. Mata yang memandang luas, pikiran yang terbuka lebih luas adalah jiwa. Jiwa untuk merasakan luasnya langit untuk melawan kungkungan kesempitan nalar.
Jika terbang sudah mengarah pada apa yang aku pikirkan dan aku inginkan. Maka disanalah kita tetap harus berusaha berjalan beriringan. Jangan tinggalkan asa, jangan tutup cinta. Disini kita berpijak pada tanah yang luas. Dan tanpa batas. Berhenti berarti akan menyendiri. Karena menyendiri membutuhkan ruang lebih luas untuk bernafas. Aku yakin, aku takkan larut dan menjadi manis. Apalagi menyerah. Jika pikiran ini terpaksa harus berhenti. Aku takkan memaksakannya. Tapi peganglah tali penyambung yang kuat. Agar segala angan perjalanan panjang tidak berhenti sampai disini. Nafas harus terus menyambung. Tangan terus berpegang erat. Teruskan kembali nafas kita. Maka kita akan menjadi tahu akan luasnya pikiran, hati, dan raga. Dan lebih tahu dari pada itu.
Resiko terbesar adalah hantaman angin kencang. Ketika kita terbang sudah menjadi mapan. Maka yang kita hadapi bukanlah hitamnya jalan dan sempitnya trotoar. Tapi segala ketidak nyamanan layaknya layang-layang terhempas oleh lawan. Terbawa oleh angin lalu menghilang. Kemudian yang menanti diujung kendali adalah tidak pasti. Mungkin badai raksasa, mungkin petir murka. Jika sudah ada dalam perangkapnya, kita tidak mungkin tertawa bahkan berteriak dari segala kecaman menghantam muka. Bahkan takkan mungkin angin ramah pun memanggil kita. Tapi jika benar-benar akan mendekat, mungkin kita akan berlari…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar