Ah aku selalu saja dibuat tersenyum dan kadang tertawa ketika mendengar cerita tentang orang salah. Ya namanya juga orang salah selalu dianggap bodoh, seringkali menjadi bahan ejekan, direndahkan dan juga disishkan dari yang merasa benar, mungkin aku juga sepertinya sering dianggap orang salah. Wajar saja karena aku manusia, salah tidak selamanya bodoh dan salah tidak selamanya rendah. Namun kadang orang salah bias lebih jujur dan lebih tulus dari pada pembenar. Karena salah adalah sementara. Jika salah adalah selamanya, maka hati adalah beku dan buta.
Aku juga terkadang tidak mengerti mengapa ketika salah menjadi jalan pertama untuk kemudian menjadi benar, sering dianggap terus menerus salah dalam mata massa. Setiap langkah sering dianggap dan dipandang sebelah mata. Berperilaku selalu dibaca sebagai gerak palsu. Mengulurkan tangan sama sekali tidak dijadikan sebagai kenangan. Tersenyum dan berseri selalu dibalas, namun tak mau mengenali. Apalagi menjadi jujur mungkin saja menjadi kabur. Bertutur kata seindah apapun takkan pernah ada yang mendengar, yang jelas yang didapatkan adalah omelan dari yang menang, benar dan juga berkuasa.
Tapi jika kau hendak bertanya dimana rumahku? Kau lihat, akan aku tunjukkan semua disana tak ada yang bersinar, namun juga bukan fatamorgana. Karena dia adalah rumah sederhana yang kekuatannya dapat menyanggah dunia, dunia yang tertawa, berlari berkelebat secepat kilat, jungkir balik di dalam arena, seperti acara sirkus yang butuh tepuk tangan dan tawa.
Banyak orang termasuk aku punya rencana dan berpikir, dengan pikiran mereka dan pikiranku sendiri untuk menentukan pilihan. Berteriak atau tenggelam, mengusik bayangan-bayangan yang menikam dan membakar. Pilihannya hanya berupa harus meredakan tarian api yang menari melebarkan pijar, dihempas oleh hembusan nafas yang perlahan melilit menyerang hingga padam.
Tekad yang bulat, keras, mengeras seperti gelas takkan mudah, malah susah jadi seorang pahlawan. Menabur kebaikan selalu sempat dirampas, cibiran akan selalu mengintai dan mencari alamat yang tepat. Karena hatinya sudah merasa paling suci. Satu langkah saja menjadi baik, mungkin saja dianggap bodoh. Apalagi jika memakai topeng seperti zaman Zorro dan Spiderman. Semburan kata-kata sudah seperti pagar bahkan hampir menyerupai sebuah kurungan yang melingkar mengekang gerak badan. Mungkin karena semuanya ingin berperang dan berjuang mencari muka. Jadi biarkanlah saja untuk saling memasang bada, karena biar tahu rasanya perang. Dan para pahlawan sudah saatnya untuk tidur, tidur pulas pura-pura tidak mendengar dentuman mortir dan granat, yang dirusaknya bukan hanya bangunan tapi juga syaraf pendengaran dan gendang telinga. Tidurlah…tidur…dan tidur karena jalan yang aman tanpa hars berucap dan tanpa pikiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar