18 Juni 2010

MEREDAM MUSIMKU BADAI

Hari-hari yang telah lalu, adalah suara petir yang semakin keras menghujam dihadapan kaca-kaca jendela, yang terpaksa menutup telinga.

Menakutkan rasanya jika mata dan cinta menjadi hitam.

Lisanpun mengeluarkan tinta hitam bak gurita menyerang menusia yang sedang berenang, melayang dan tenang.

Musim badai masih tampaklah jauh dari reda.

Titik pikir menjadi tenaga untukku melangkahkan kaki mencari secawan air oase untuk kureguk agar musnah segala daya amarah.

Dan ternyata adalah hati yang mendapat jawabannya, yaitu tenang yang membawa menang.

Tenang untuk meredam badai, walau tembok rumahku sudah retak, lusuh dan diam.

Ogn. 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar