hari minggu kemarin adalah dimana saya belum sarapan, tapi Alhamdulillah sudah mandi karena buru-buru tidak mau ketinggalan menikmati Car Free Day yang sudah kesekian kalinya, maka saya pun memberangkatkan diri saya sendiri menuju Dago.
simpang dago yang macet sudah menyambut, dan tanpa harus pusing memikirkan apa solusi yang tepat untuk kemacetan itu, saya langsung saja berjalan-jalan santai. dan di Car Free Day itu sesungguhnya semua orang adalah sama, sama-sama tidak membawa kendaraan. jalan-jalan seperti itu dengan orang yang banyak sungguh tidak terasa sudah membawa saya di pertengahan dago yang jalannya lurus, namun tepat di depan rumah sakit Borromeous secara tidak sengaja saya bertemu dengan teman lama saya sebut saja namanya lebah (nama samaran), (sebenarnya dia yang menemukan keberadaan saya ) lalu menepuk pundak saya dari belakang, maksudnya pasti mau ngasih kejutan da!.
"keu keur naon?!!" kata teman saya itu, sambil menepuk pundak saya, maksudnya lagi ngapain. "eeeehh ded, apa kabar ded?!!" kata saya reflek sambil membalikkan badan, dan menyebut teman saya itu dengan nama dedi, padahal bukan, karena sekilas wajahnya mirip dengan teman saya yang bernama dedi piit. "eeh kamu mah ini saya iman!" "wah iman ya, hebat sekarang kamu man sudah punya kumis." "ah aya-aya wae!" saya dan iman pun berjalan bersama menelusuri jalan dago yang masih panjang.
"eh gimana man kamu sudah berkeluarga?" tanya saya karena curiga sama kumis si iman itu. "belum keu, belum ketemu jodohnya, hehehe." si iman malah ketawa. "ya tenang saja man lah hidup itu misteri dan jalan dago tidak pernah sepi." kata saya berfilosofi. "maksudnya keu?" tanya iman. "ya sudah lah jangan dibahas, tapi ngomong-ngomong tanggal segini kamu sudah gajian man?" "sudah kemarin keu." "eh man menurut kamu uang gaji itu apa sih?" "kalau menurut saya mah ya keu, uang gajihan itu ibarat siklus mata rantai makanan pada binatang." "maksud kamu man, lebay kamu mah man ah." "eeeh beneran ini mah keu, sok ajah bayangin kalau diurutkan jadi begini, gaji itu adalah uang, uang itu memakan barang, barang itu dibayar kredit, kredit itu kapan lunasnya, terus kita nunggu uang gajian lagi, ya pusing keu lah." "kalau begitu untuk menghindarinya kamu tidak perlu gajian dong man?" "ya perlu atuh keu, buat naik haji, hehehe." ternyata si iman pengen naik haji tapi sambil hehehe.
ya begitulah sekilas obrolan saya dengan teman lama saya itu, dan kami berdua duduk di sebuah trotoar menikmati gorengan plus leupeut sambil melihat lalu lalang orang-orang yang cerah ceria, dan di dago Car Free Day kemarin pula saya yakin banyak pula yang sedang bermain mata, lirik kanan lirik kiri, yaaaa barangkali siapa tahu.......hehehehe
Ah aku selalu saja dibuat tersenyum dan kadang tertawa ketika mendengar cerita tentang orang salah. Ya namanya juga orang salah selalu dianggap bodoh, seringkali menjadi bahan ejekan, direndahkan dan juga disishkan dari yang merasa benar, mungkin aku juga sepertinya sering dianggap orang salah. Wajar saja karena aku manusia, salah tidak selamanya bodoh dan salah tidak selamanya rendah. Namun kadang orang salah bias lebih jujur dan lebih tulus dari pada pembenar. Karena salah adalah sementara. Jika salah adalah selamanya, maka hati adalah beku dan buta.
Aku juga terkadang tidak mengerti mengapa ketika salah menjadi jalan pertama untuk kemudian menjadi benar, sering dianggap terus menerus salah dalam mata massa. Setiap langkah sering dianggap dan dipandang sebelah mata. Berperilaku selalu dibaca sebagai gerak palsu. Mengulurkan tangan sama sekali tidak dijadikan sebagai kenangan. Tersenyum dan berseri selalu dibalas, namun tak mau mengenali. Apalagi menjadi jujur mungkin saja menjadi kabur. Bertutur kata seindah apapun takkan pernah ada yang mendengar, yang jelas yang didapatkan adalah omelan dari yang menang, benar dan juga berkuasa.
Tapi jika kau hendak bertanya dimana rumahku? Kau lihat, akan aku tunjukkan semua disana tak ada yang bersinar, namun juga bukan fatamorgana. Karena dia adalah rumah sederhana yang kekuatannya dapat menyanggah dunia, dunia yang tertawa, berlari berkelebat secepat kilat, jungkir balik di dalam arena, seperti acara sirkus yang butuh tepuk tangan dan tawa.
Banyak orang termasuk aku punya rencana dan berpikir, dengan pikiran mereka dan pikiranku sendiri untuk menentukan pilihan. Berteriak atau tenggelam, mengusik bayangan-bayangan yang menikam dan membakar. Pilihannya hanya berupa harus meredakan tarian api yang menari melebarkan pijar, dihempas oleh hembusan nafas yang perlahan melilit menyerang hingga padam.
Tekad yang bulat, keras, mengeras seperti gelas takkan mudah, malah susah jadi seorang pahlawan. Menabur kebaikan selalu sempat dirampas, cibiran akan selalu mengintai dan mencari alamat yang tepat. Karena hatinya sudah merasa paling suci. Satu langkah saja menjadi baik, mungkin saja dianggap bodoh. Apalagi jika memakai topeng seperti zaman Zorro dan Spiderman. Semburan kata-kata sudah seperti pagar bahkan hampir menyerupai sebuah kurungan yang melingkar mengekang gerak badan. Mungkin karena semuanya ingin berperang dan berjuang mencari muka. Jadi biarkanlah saja untuk saling memasang bada, karena biar tahu rasanya perang. Dan para pahlawan sudah saatnya untuk tidur, tidur pulas pura-pura tidak mendengar dentuman mortir dan granat, yang dirusaknya bukan hanya bangunan tapi juga syaraf pendengaran dan gendang telinga. Tidurlah…tidur…dan tidur karena jalan yang aman tanpa hars berucap dan tanpa pikiran.
Jalan yang harus kutempuh sangatlah panjang dan memakan waktu yang begitu lama. Tapi bisa juga menjadi singkat, namun segenap energi yang berada di kakiku ini membuatku harus terus bergerak dan terus melangkah. Semakin lama dan semakin jauh aku melangkah, aku semakin merasakan di ujung perjalanan ini akan berbunga, tapi kenyataannya itu nanti. Dan kapan saja. Semuanya kupirkikan dan harus kujalani. Semula aku menyangka ini adalah teka-teki. Tapi semuanya nyata dan terasa. Bukan bualan. Karena semua diciptakan apa adanya untukku, walaupun nanti.
Maka untuk menghilangkan rasa gundah dan rasa gelisahku, aku akan bernyanyi. Ya bernyanyi bersama pagi. Melantunkan lirik-lirik harapan. Menggemakan nada-nada saat kita renggang. Berpijak diruang yang lapang. Sambil menengadah memandang langit yang terbuka begitu luas. Biru dan lembut. Setiap bait yang terbang melayang, aku berharap semoga hembusan angin menangkap segala kemungkinan. Lalu menghantarkanku untuk menemui titik yang bernama suatu saat dan nanti. Mengerti atau tidak, percaya atau tidak. Nyanyianku bukan sumpah serapah. Aku pun mengetahui jika suatu saat adalah entah, dan nanti adalah entah. Begitu juga aku, kamu, kita adalah entah. Tapi di suatu saat dan nanti itulah kita pasti akan berjumpa kembali dari kerenggangan yang masih berpihak pada langkah-langkah yang selalu bergerak.
Karena dari sekian banyak suara dan peristiwa, aku hanya ada aku, yaitu aku. Semuanya menjauh. Merenggang dan terpisah. Mungkin saja sedang menempuh jalan pilihan, atau mungkin juga ada yang sedang terus mencari ambisi. Mungkin kita saat ini saling berkejaran di jalan yang berlainan. Namun tetap saja walaupun kita ini mempunyai segala pikiran yang luas, aku dan kita semua bukanlah sebuah barang pecah belah yang dengan mudah di kumpulkan untuk kemudian direkatkan, lalu menyatu dan menguat. Aku hanya menunggu kemungkinan-kemungkinan yang membuat arah dan gerak yang sempat melewati jalan bercabang, dapat berjalan kembali beriringan – bersama.
Bila memungkinkan saatnya untuk terbang. Maka aku akan segera terbang. Menyempurnakan langkahku. Mencari yang tak pernah ditemukan dijalan panas dan panjang. Juga tatapanku menjadi semakin luas, walaupun gerak langkah dan terbangku masih sedikit tanpa arah. Tapi aku merasakan lebih bebas dari sebelumnya. Mata yang memandang luas, pikiran yang terbuka lebih luas adalah jiwa. Jiwa untuk merasakan luasnya langit untuk melawan kungkungan kesempitan nalar.
Jika terbang sudah mengarah pada apa yang aku pikirkan dan aku inginkan. Maka disanalah kita tetap harus berusaha berjalan beriringan. Jangan tinggalkan asa, jangan tutup cinta. Disini kita berpijak pada tanah yang luas. Dan tanpa batas. Berhenti berarti akan menyendiri. Karena menyendiri membutuhkan ruang lebih luas untuk bernafas. Aku yakin, aku takkan larut dan menjadi manis. Apalagi menyerah. Jika pikiran ini terpaksa harus berhenti. Aku takkan memaksakannya. Tapi peganglah tali penyambung yang kuat. Agar segala angan perjalanan panjang tidak berhenti sampai disini. Nafas harus terus menyambung. Tangan terus berpegang erat. Teruskan kembali nafas kita. Maka kita akan menjadi tahu akan luasnya pikiran, hati, dan raga. Dan lebih tahu dari pada itu.
Resiko terbesar adalah hantaman angin kencang. Ketika kita terbang sudah menjadi mapan. Maka yang kita hadapi bukanlah hitamnya jalan dan sempitnya trotoar. Tapi segala ketidak nyamanan layaknya layang-layang terhempas oleh lawan. Terbawa oleh angin lalu menghilang. Kemudian yang menanti diujung kendali adalah tidak pasti. Mungkin badai raksasa, mungkin petir murka. Jika sudah ada dalam perangkapnya, kita tidak mungkin tertawa bahkan berteriak dari segala kecaman menghantam muka. Bahkan takkan mungkin angin ramah pun memanggil kita. Tapi jika benar-benar akan mendekat, mungkin kita akan berlari…
Di tengah poe anu panas mentrang, dihandapeun tangkal anu ngajulang luhur nu mawa hawa tiis, kang Astam tukang cukur anu biasa mangkal disisi jalan dihadapeun eta tangkal, keur sibuk nyukuran lalaki geus rada kolot malah leuwih kolot ti kang Astam, nu ngakuna pangsiunan pagawe negri. Bari nyukuran eta lalaki anu sakapeung sok katinggali nundutan, kang Astam teu weleh sok ngajak ngobrol, tapi sabenerna mah lain ka lalaki eta wae kang Astam ngajak ngobrol teh, tapi ka unggal palanggan anu dicukur di tempat kang Astam. Rupa-rupa nu sok diobrolkeun ku kang Astam jeung palanggana teh, ti mimiti masalah kahirupan, pagawean, kulawarga nepi ka masalah kaayaan nagara. Nu matak teu saeutik palanggan kang Astam nyebut manehna ku rupa-rupa julukan, aya nu nyebut “tukang cukur pinter” , “tukang cukur resep ngobrol” jeung sajabana. Beuki kadieu tempat cukur kang Astam lain ngan saukur jang nu rek dicukur buukna hungkul, tapi geus jadi sarupaning tempat ngariung, anu lolobana mah bapa-bapa ti rupa-rupa profesi, loba nu ngarasa genah mun ngobrol jeung kang Astam, nya kitu deui alesanna ge rupa-rupa aya nu nyebutkeun cara ngomong kang Astam mah ngeunaheuh, dipikangarti, sederhana, nyakola, jeung malah aya oge nu nyebut cara ngomong kang Astam mah siga professor, doktor, jeung deui hiji hal anu jarang aya ditempat-tempat cukur nyaeta kang Astam mah sabada beres nyukuran palangganna teh sok nyuguhan sacangkir teh haneut, kadang-kadang mun aya opieuna mah nya jeung opieuna disuguhkeun teh, kitu salah sahiji cara kang Astam meungkeut tali silaturrahim jeung unggal jelema khususna jeung palangganna. Jeung salian ti eta nu geus digambarkeun kabeh, tujuan kang Astam ngalakonan jadi tukang cukur teh lain ngan saukur neangan duit hungkul, tapi samata-mata haying ngajalin silaturrahim jeung kabeh jelema, nu matak kang Astam mah tara ngamasalahkeun jeung tara dijieun rieut ku sabarah meunang panghasilan tina sapoena, ceuk kang Astama mah “nu penting mah cukup keur dahar duaan jeung pamajikan.”
Dua budak lalakina nu geus kulawargaan, geus sibuk ku urusan rumah tanggana sewang-sewangan, ngan sataun sakali maranehna bisa ngariung di imah kolotna eta ge pas poe lebaran hungkul, dina poe-poe sejen mah lebeng, paling banter barudakna kang Astam mere kabar teh liwat cara ku ngirim surat, kadang sasakali sok ngirim wesel. Tapi naon wae anu katarima jeung nu katampanan ku kang Astam, manehna tetep narima kalawan ngucap syukur, sok sanajan naon nu dipigawe ku kang Astam teh sakapeung teu dianggap ku jelema-jelema aya.
<<<>>>
Kang Astam nempo lalaki nu keur dicukurana rek ngalenggut, tapi kang Astam buru-buru ngajak ngobrol ka eta lalaki, sabab mun dicukur tuluy bari lelenggutan kitu, kang Astam ngarasa moal anggeus-anggeus nyukurana, tapi sabot ngalenggut tukuy hudang deui, eta lalaki teu weleh menta hampura ka kang Astam.
“aduh punte kang, asa ku tunduh-tunduh teuing ieu teh.” Kitu ceuk eta lalaki.
“keun weh pa, dan memang hawana siga kieu, da panginten abdi oge bakalan tibra upami nuju teu nyukuran mah.” Kitu tembal kang Astam.
“muhun nya eta.”
“supados teu tunduh mah urang bari ngobrol weh pa lah.”
“ari bapa teh kawitna didamel dimana?” kang Astam tatanya bari tuluy nyukuran.
“ari abdi mah kapungkur damel teh di dinas p.u.” ceuk eta lalaki geus katinggali rada cenghar.
“teras ari ayeuna masih keneh?” kang Astam nanya deui.
“tos pangsiun pa.”
“ooh, teras ayeuna sibuk naon atuh pa?”
“aaah ayeuna mah ngurus incu weh sareng ninina dibumi, da kaleresan ku pun anak teh sok dititipkeun dibumi.”
“resep pa lah etang-etang ngabangbrangkeun.” Kitu ceuk eta lalaki.
“muhun atuh naon weh ayeuna mah nu sakira tiasa nyenangkeun hate, da ari yuswa siga urang kieu mah midamel teh ulah nu matak jangar kana sirah sareng pi araleun.”
“tah eta leres pisan pa!”
“ari putra sabaraha kitu pa?” kang Astam tuluy nanya.
“putra mah abdi gaduh dua sareng incu nembe tilu.”
“geningan sami sareng abdi, da abdi ge gaduh putra teh dua, mung incu mah nembe dua, teras dimarana ayeuna?”
“ah araya weh pa teu tebih-tebih, biasa weh didaramel sapertos kulawarga ngora sanesna.”
“oh kitu, sukur atuh nya pa.” ceuk kang Astam ayeuna tinggal ngarapihkeun saeutik buuk eta lalaki.
“ke…ke…ke abdi ge janten hoyong terang yeuh.” Ceuk eta lalaki teh.
“hoyong terang naon pa?” ceuk kang Astam rada panasaran.
“muhun ari bapa teh kawit damel dimana, naha ti kapungkur tos jadi tukang cukur?”
“ah sami weh abdi ge pangsiunan pa.” ceuk kang Astam
“oh.” Ceuk eta lalaki disangka kang Astam teh sarua pangsiunan pagawe negri.
“ari putra dimarana ayeuna?”
“nya eta putra abdi mah tarebih ayeuna mah!”
“tebih dimana maksadna?” ceuk eta lalaki tuluy nanya bangun nu hayang nyaho.
“nya anu pang ageungna sakulawarga ayeuna linggih sareng didamel di jepang, atuh nu kadua ge sami sareng kulawargana mung di Australia tapi salian ti didamel anjeuna ge neraskeun sakola diditu teh.” Kitu ceuk kang Astam.
“aduh hebat gening pa gaduh putra teh palinter sareng sarukses kitu!”
“ke…ke…ke…asa kaingetan, ari bapa kapungkur teh pangsiunan timana?” tanya eta lalaki deui beuki panasaran haying apal saha sabenerna anu keur nyukurana teh, tapi kang Astam teu langsung ngajawab, tuluy bari ngaberesan sesa-sesa buuk nu masih keneh narempel dina punduk eta lalaki, ahirna kang Astam ngajawab.
“abdi mah kapungkur teh anggota dewan pa.” ceuk kang Astam laun, ngadenge kitu eta lalaki katinggali rada reuwas bari ninggali kana raray kang Astam nu keur seuri dina kaca.
Sabada kolotna pipisahan, neng Isem ti kelas tilu sakola dasar geus milu jeung indungna nya eta nyi Imas. Ti harita nepi ka lulus SMA malah mah nepi ka digawe neng Isem can pernah deui nempo bapana nu ngarana Kusman. Alesan utamana nyi Imas mutuskeun pisah jeung salakina teu aya lian nyaeta ti mimiti kawin nepi ka budakna asup sakola, Kusman teu boga pagawean anu tetep jeung lolobana mah nganggur, gawena na teh ngan saukur ngaroko, ngopi jeung cicing di imah. Teu kuat ninggali ka ayaan salakina nu unggal poe siga kitu, nyi Imas buru-buru ngagugat cerei salakina, ngan dasar nu ngarana budak mah, neng Isem nu leutik keneh, bolon jeung can apal nanaon ninggali kajadian siga kitu ngan saukur cicing ngahuleng teu ngarti kajadian naon anu sabenerna nu keur dilakonan ku indung jeung bapana, jeung ti saprak harita nu aya diimahna ngan ukur neng Isem, ninina, jeung nyi Imas. Nyi Imas nu saacana geus digawe dipabrik tekstil jadi leuwih rajin digawena samata-mata jang ngahirupan budak nu hiji-hijina jeung kulawargana oge. Hiji-hijina cara nyi Imas ngarah neng Isem teu poho ka bapana, nyi Imas ngahaja poto Kusman di kamar neng Isem, ngan sanajan diteundeunan poto bapana, tapi tetep neng Isem can pernah nanyakeun kamana bapana indit atawa dimana cicingna.
<<<>>>
Nincak ka bangku SMA dimana neng Isem saeutik lobana geus boga pamikiran anu leuwih asak, dina hatena saeutik-saeutik mimiti bijil bahan-bahan patanyaan jang ditanyakeun ka indungna tangtuna nu pakait jeung bapana. Ku kasabarana, neng Isem neangan waktu anu pas keur tatanya ka indungna.
Nepi ka hiji mangsa sabada solat Maghrib, neng Isem geus ngarasa yen ieu waktu anu pas jang nanyakeun ka indungna. Bari nongton tipi, neng Isem ngadagoan indungna nu masih keneh ngagoreng tahu di dapur. Tapi teu lila ti eta, titukangeun neng Isem kadenge sora indungna ngageroan neng Isem nitah dahar.
“ieu neng tahuna tosa asak!” kitu gero indungna satengah ngagorowok.
“muhun sakedap deui mah pameng nuju nongton.” Tembal Isem rada tarik.
“naha gening asa tara-taraeun biasana ari tos ararasak teh sok langsung lumpat ka dieu neng?”. Nyi Imas nanya deui, tapi ayeuna bari leumpang ka hareup, panasaran naon nu sabenerna keur ditempo ku budakna teh, tapi ditanya kitu neng Isem teu nembalan.
“neng gening keur nongton berita?” ditanya kitu neng Isem masih keneh cicing, tuluy indungna diuk digigireuna, disidik-sidik raray budakna anu memang keur nyimpen gaganjel dina hatena.
“neng, kunaon neng teh?”
“manawi aya masalah disakola, sok carioskeun ka mamah.”
Tapi ngadenge kitu neng Isem teu kuat nahan cimatana anu tungtungna hiji-hiji nyuruluk laun ngabaseuhan pipina. Tuluy bari ngusap cimatana neng Isem mimiti daek pok nyarita ka indungna.
“mah isem teh mung gaduh hiji patarosan anu tos lami hoyong isem taroskeun ka mamah.”
“sok carioskeun weh ka mamah tong asa-asa neng.”
“ari bapa teh saleresna kamana mah?” ngadenge patanyaan siga kitu ti budakana nu salila ieu tara pernah ditanyakeun, nyi Imas ngan ukur cicing, tungkul, ngahuleng jeung mikir rada lila rek mere jawaban naon ka budakna. Tapi teu lila nyi Imas cirambay teu kuat mun ngabayangkeun jalan carita rumah tanggana baheula, tuluy bari saeutik ngarenghap nyi Imas nguatkeun maneh jang ngajawab patanyaan ti neng Isem.
“saleresna bapa teh nuju ngumbara nyiar rijki di lembur batur neng.” Kitu cenah pokna nyi Imas ngajawab.
“naha gening asa tara pernah uih ka bumi?”
“nya panginten teu acan aya waktosna weh neng kanggo bapa uih ka bumi.” Kitu ceuk nyi Imas deui, tapi neng Isem anu ngadenge jawaban kitu ti indungna sabenerna geus apal yen indungna teh ngajawabna teu jujur lain jawaban nu sabenerna. Tapi neng Isem ngarti, manehna moal terus nanyakeun deui anu pakait jeung bapana, komo deui niggali indungna bari cirambay kitu, sabab neng isem sok ngarasa dosa mun ninggali indungna nepi ka ceurik jeung sedih.
“nya atos atuh upami kitu mah, ayeuna mah isem bade tuang heula.” Kitu pokna neng Isem bari cengkat ti tempat diukna ninggalkeun indungna sorangan nu masih keneh tungkul bari jeung sasakali ngusap cimatana. Tidinya neng Isem boga hiji tekad rek neangan bapana ku sorangan, kumaha wae carana.
<<<>>>
Dina hiji waktu isuk-isuk dimana neng Isem rek indit kasakola, tara-tara dikamarna keneh neng Isem nempokeun poto bapana rada lila, malah leuwih lila ti biasana. Tuluy teu lila bijil deui patanyaan-patanyaan dina jero hatena neng Isem.
“dimana atuh bapa teh?”
“kamana angkatna bapa teh?”
“naha bet ninggalkeun isem didieu?”
Tuluy sanggeus dirasa cukup nempokeun poto bapana, neng Isem kaluar ti kamarna, pamit bari jeung nyium leungeun indungna anu masih keneh beberes dikamarna, nya kitu deui neng Isem pamit ka ninina nu keur nyanghunjar dina korsi bari nongton tipi.
“mah, ni, isem angkat heula, assalamualaikum.” Kitu pokna neng Isem dilawang panto.
Di sajajalan nu dipikiran kun eng Isem taya lian ngan ukur bapana, bapana jeung bapana. Gara-gara pipikiran jeung rasa sono anu gede ka bapana nu matak nyieun neng Isem satengah ngalamun alias malaweung hampir-hampir ka serempet ku motor nu keur ngalaju gancang. Nya kitu deui pas keur di jero kelas, neng Isem loba ngalamun teu saeutik-eutik acan merhatikeun kana pelajaran, teu puguh rarasaan terus mikiran kudu kumaha neangan bapana. Nya anu tungtungna neng Isem dititah balik tiheula ku guruna, tapi angger sanajan dititah balik oge neng isem teu bisa ngaleungitkeun kitu wae pikiran ka bapana.
Nepi ka ditengah jalan samemeh gang anu biasa diliwatan kun eng Isem mun indit jeung balik ti sakola, neng Isem nempokeun barudak leutik lobaan keur ngariung, ngeleg, ngaheureuyan jeung nanggap lalaki anu papakeana kalotor jeung rada saroek, buukna acak-acakan, kitu deui leungeun jeung sukuna kalotor harideung, tuluy igel-igelan teu pararuguh.
Nugelo…nugelo…nugelo…kitu ceuk barudak leutik bari terus ngaemprakan eta lalaki anu tuluy ngigel bari sura seuri. Ninggali kitu neng Isem panasaran ngadeukeutan, nyidik-nyidik ti kadeukeutan gurat rarayna asa ngingetkeun manehna ka hiji jelema, neng Isem tuluy buru-buru kurah-koreh kana tas na neangan dompetna anu masih keneh nyimpen poto indung jeung bapana, ku neng Isem dipolototan eta lalaki teh bari sasakali nempo kana potona, tapi sanggeus bulak balik ninggali ka lalaki jeung kana poto, neng Isem mimiti saeutik yakin bari satengah asa-asa nebak yen eta lalaki teh moal salah deui nya eta bapana anu diteteangan salila ieu, bari tetep nangtung neng Isem teu kuat nyurulukkeun cimatana, teu lila ti eta neng Isem tuluy berebet lumpat ka imahna, bari ngageroan indungna.
“mamah…mamah!!” kitu gero neng Isem. Tuluy tijero imah nyi Imas nu ngadenge eta sora buru-buru mukakeun panto bari jeung reuwas ninggali neng Isem lulumpatan bari ceurik balilihan siga kitu.
“aya naon neng?!” kitu neng Isem ditanya ku indungna, tapi neng Isem teu langsung ngajawab, neng Isem kalahkah nungtun indungna kaluar ti imah di bawa ka jalan.
Nepi di tungtung gang nyi Imas ditinggalikeun ku budakna ka lalaki anu masih keneh igel-igelan di riung kubarudak leutik, teu lila ti eta sanggeus nyi Imas nyidik-nyidik ka eta lalaki, ahirna mah nyi Imas ge teu kuat nahan cimatana, nyi Imas jeung neng Isem ceurik duaan bari niggalikeun tuluy ka lalaki eta.
“jawab ka abdi mah, saha eta teh?” neng Isem nanyakeun bari ingsreuk-ingsreukan.
“enya, eta bapa neng teh.” Kitu ceuk nyi Imas ka budakna anu sarua ceurik ninggali kanyataan siga kitu, tuluy nangkeup budakna bari panonna terus teu ingkah ninggali eta lalaki anu keur igel-igelan.