08 Mei 2009

BENANG MERAH

Ingatkah, begitu banyak apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar telah hilang bahkan lenyap.

Dulu kabarnya surat yang pernah ku tulis pernah hilang di tengah jalan.

Kabarnya pula surat itu begitu banyak dengan rekayasa, mereka-reka, merekonstruksi agar aku dapat mati secara perlahan-lahan di alam merdeka.

Para perampok data itu sudah hilang segala rasa laparnya dan sudah hilang segala haus dahaganya.

Mereka sumringah, langgeng karena sudah duduk diatas bintang.


Pukulah paku itu dengan alat yang semestinya.

Potonglah rumput itu dengan alat yang semestinya pula.

Begitu sederhana aku bekerja, hinga aku dapat berbicara dengan bahasa para kuli dan petani.

Tidak perlu bingung dengan segala perkataanku, ikuti saja semoga keluargamu sejahtera.

Karena daratan dan lautan adalah kekuasaan kita.


Para perampok suratku akhirnya tertangkap oleh masa dan dipenjara oleh waktu.

Dan terancam oleh ribuan kepalan tangan.

Tapi saat ini pun aku masih melihat banyak sepatu yang menginjak-injak rumput hijau yang berseri.

Dan juga masih banyak orang yang tidak mempererat bunga-bunga yang berwarna-warni.

Akan jadi apa rumahku ini?


Meskipun di ujung paling utara pernah merata berliter-liter air mata.

Karena yang berbicara adalah dengan saudaraku bukanlah kata-kata malainkan dengan besi yang panas menganga.

Hingga akhirnya rumah-rumah yang menjadi rata oleh gelombang murka.

Menyesalkah mereka?

Temanku seringkali berbicara keras.

Kadang di selingi dengan canda tawa.

Canda yang membuat merah telinga tetangga.

Dan tawa yang membuat gerah para penghuni gedung di lantai tertinggi.

Tapi ternyata kata-kata temanku itu masih terus di lawan bahkan berusaha di bungkam.

Tapi kini temanku telah benar-benar dipaksa bungkam.


Bandung, mengenang masa lalu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar