Temanku siang dan malam.
satu detik terhenti menuju satu tahun.
Saat pagi berlari tanpa henti.
Saat malam aku kembali terpejam.
Bunga bangkai menjadi santapan.
Senandung kelam menjadi pembuka malam.
Apakah aku berani pada sepi?
Atau kau pun merasa sepi?
Cobalah kau bakar surat-surat yang sudah usang
Mungkin abunya takkan lagi kau kenang.
Bandung, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar