Sudah sekitar satu minggu tidak bertemu dengan teman sayah si Arnasan, tiba-tiba saja pada sabtu sore menjelang malam minggu mendadak nelepon sayah, nagajak sayah keliling-keliling Bandung, mumpung jalanan lagi macet katanya. Mungkin yang ada di pikiran si Arnasan mah kalau hujan tidak akan macet, walaupun sedang libur panjang seperti ini, dan celakanya sayah pun setuju dengan pikiran si Arnasan ini, eh tidak tahunya begitu ada di jalan kami berdua terbengong-bengong cukup lama melihat pemandangan jalan dengan kendaraan yang cukup padat dan merayap. Tapi karena sudah tanggung ada di jalan, kami pu tetap membulatkan hati kami masing-masing untuk tetap jalan, maka melajulah motor Arnasan yang membawa sayah itu.
Ditengah-tengah kemacetan sayah agak bingung sama si Arnasan, sebenarnya kami ini mau jalan-jalan kemana, kemudian sayah pun coba menanyakannya sama si Arnasan.
“san, sebenarnya kita teh mau kemana?”
“kamu mah suka nggak jelas kalau ngajak-ngajak orang teh .”
Si Arnasan kemudian terlihat berpikir sejenak perihal pertanyaan sayah itu, soalnya kalau tidak ditanyakan sedari dini dia suka tidak pernah nyambung antara tujuan awal dan saat kenyataan dilapangan. Bulan kemarin saja ceritanya minta diantar beli parfum isi ulang, tapi begitu keliling-keliling dijalan si Arnasan malah beli parfum refill. Kemudian pernah beberapa waktu ngajak sayah beli singkong jelegur, eh mampirnya di nasi padang, ya sudah sayah pun dengan semangat memesan kikil, telur balado, dan kepala kakap tidak lupa juga nasinya nambah lagi.
“ya sudah kalau beigut mah kita ke cihapit saja.” Jawab si Arnasan kepada sayah, maka melajulah kami berdua menuju cihapit.
Disepanjang jalan kenangan sudah terlihat langit agak gelap dan sepertinya awan sudah mules ingin segera buang air hujan. Dan benar saja dugaan sayah sama si Arnasan ketika sampai dimulut jalan cihapit, breg hujan dengan deras, dan sialnya hampir semua outlet di cihapit sudah tutup, namun di pertengahan jalan kelihatan sebuah outlet yang masih terang benderang, penjaga outlet tersebut sambil duduk bersila menjajakan jajanan khas berselera. Tapi itu mah bohong yang benarnya penjaga outlet itu menjual sepatu-sepatu bekas alias sepatu kedua. Karena pergi ke cihapit pun tujuannya masih belum jelas dan akan mencari apa, maka sayah dan Arnasan pun tanpa pikir panjang menuju outlet yang masih menunggu rejeki dantang itu, dengan maksud untuk ikut berteduh. Motor kami pun diparkir disebelah outlet tersebut. Agak malu dan sedikit sok akrab kami berdua pun masuk ke outlet sederhana itu.
“punten kang, ikut ngiuhan disini.”
“oh iya silahkan-silahkan, sambil pilih-pilih sepatu atuh kang, banyak barang yang baru-baru yeuh.” Kata si penjaga outlet sambil sedikit merayu kepada kami berdua.
“yang baru! Bukannya disini barang-barang bekas?” Tanya Arnasan.
“iya maksudnya banyak yang baru jual sepatunya kesini.”
“oooh gitu, kalau gitu mah yang mana saja kang barang yang baru itu teh?” Tanya Arnasan mulai sedikit penasaran. Dan mulai melirik-lirik pada sepatu-sepatu yang dipajang di outlet itu. Sayah hanya diam saja melihat kelakuan si Arnasan itu. Dan beberapa saat setelah melihat-lihat sepatu, sepertinya Arnasan mulai tertarik pada salah satu sepatu yang dipajang, dan mulai tawar-menawar dengan si penjual. Sayah semakin curiga kalau Arnasan ujung-ujungnya pasti membeli sepatu itu. Dan benarnya saja apa yang di katakan Rudy, si Arnasan benar-benar membeli sepatu itu.
“kamu tidak lihat-lihat sepatu dun?” Tanya Arnasan kepada sayah.
“ah tidak, sajah lagian sayah belum perlu sepatu.”
“udah lihat-lihat saja, dari pada kesal dan tiris nunggu hujan berhenti, siapa tahu ada yang cocok.” Bujuk Arnasan kepada sayah.
Lama-lama sayah pikir benar juga kata si Arnasan daripada kesal nungguin hujan berhenti lebih baik sayah lihat-lihat sepatu dulu. Lama kelamaan semakin betah saja sayah memandangi sepatu-sepatu bekas itu dan seketika itu pula mata sayah tertuju pada sebuah sepatu yang terpajang di sebelah pojok, dan kemudian sayah mengambilnya lalu dengan seksama memperhatikannya. Tidak puas hanya memperhatikannya sayah pun mencoba memakainya, dan ternyata sepatu itu enak sekali dipakainya, ditambah lagi si Arnasan bilang sama sayah kalau sepatu yang sayah pakai itu cocok sekali. Kemudian antara sadar dan tidak sayah pun menanyakan harga sepatu itu.
“berapa yang ini kang?”
“biarin lah buat akang mah 65 ribu saja, hitung-hitung harga mau tutup.” Jawab si penjual sepatu. Tanpa pikir panjang lagi sayahpun segera mengeluarkan uang dari dompet, dua lembar uang 50 ribuan sayah langsung berikan pada si penjual.
“biarin kang lah kembaliannya buat sayah.” Kata sayah sedikit bergurau.
Sayah pun langsung memakai sepatu itu, begitu juga dengan si Arnasan. Kami berdua sore itu sepertinya tampak begitu gaya dengan sepatu bekas baru.
Begitu semua ketidak jelasan itu selesai, hujan pun mengecil dan akhirnya benar-benar berhenti. Ada sedikit perasaan menyesal dalam diri sayah. Bagaimana tidak, tadinya cuma mau ikut berteduh saja di outlet itu, eh tidak tahunya malah beli sepatu, dan yang bikin sayah kesal lagi sesudah membeli sepatu itu ternyata hujan pun berhenti, ini mah tidak lain gara-gara bujukan si Arnasan. Dan hari ini benar-benar hari yang aneh buat sayah, sudah tidak tahu mau kemana, ujug-ujug saja beli sepatu. Tapi ya sudahlah sayah pun merasa cukup gaya dengan sepatu baru sayah itu.
“arnasan hujan sudah berhenti nih, kita sekarang mau kemana lagi?”
“aduh sayah juga tidak tahu nih mau kemana lagi, mana bensin masih banyak.”
“ya sudah kalau begitu kita kerumah sayah saja sekalian ada yang mau sayah tanyakan sama kamu dun.” Ujar Arnasan dengan yakin.
*****
Sampai dirumah Arnasan tepat bersamaan dengan adzan maghrib, kami berdua pun langsung menuju dapur untuk mengambil piring karena sudah tidak tahan lagi menahan perut yang sudah gogorowokan, dari pada nanti sholat ingat sama nasi mending kami makan dulu, setelah kenyang baru sholat dengan tenang dan nyalse.
Selagi wiridan sayah belum selesai, si Arnasan sudah buru-buru balik lagi ke dapur, tidak tahu akan bertindak apa. Tapi lama-kelamaan tercium aroma kopi susu yang melewati hidung sayah, wah si Arnasan tahu juga kalau sayah sekarang lagi pengen ngopi.
“san, kalau kopi buat sayah satu lagi mana?”
“ya tinggal buat saja sendiri, tapi kamu harus beli dulu di warung depan.” Jawab Arnasan dengan santai. Maka dengan terpaksa dan masih memakai sarung sayah pun pergi kewarung untuk membeli teh celup.
Sambil minum-minum di ruang tengah-tengah rumah Arnasan, Arnasan mulai membuka pembicaraan dengan sayah namun antara curhat, minta saran atau minta tips-tips jitu sayah juga tidak mengerti.
“dun bagusnya kalau perempuan ulang tahun, sayah ngasih apa ya?” Tanya Arnasan agak serius.
“begini saja san, labih baik kamu tanyakan saja sama perempuannya mau dikasih apa kalau ulang tahun.” Jawab sayah dengan serius pula.
“euuh atuh kalau begitu mah tidak surprais lagi dun.”
“atau begini saja, kamu ajak saja dia belanja sepuas-puasnya, bagaimana?”
“aduh dun kalau mau ngasih saran teh yang rada murah sedikit atuh.”
“masalahnya mau beli kado atau mau ngajak belanja juga sayah nggak punya uang dun.”
“sok hayu kita berpikir sama-sama sekarang mah.” Ajak Arnasan kepada sayah.
Akhirnya sayah dan Arnasan hanya terdiam sambil berpikir dalam kebingungan, saking bingungnya kami berdua menghabiskan sisa minuman kami masing-masing sampai habis sakaligus. Ketika gelas kami masing-masing sudah terlihat kosong, barulah sayah menemukan ide yang sepertinya jarang dilakukan oleh orang-orang kebanyakan untuk membuat surprais ulang tahun khususnya buat perempuan.
“san sayah puny aide nih, dan ini mungkin paling murah dan jarang sekali dilakukan sama orang-orang.” Kata sayah dengan yakin.
“wah yang benar dun, apaan tuh?” Tanya Arnasan dengan semangat dan penasaran.
“begini, kamu sms saja dia tepat pas jam 12 malam.”
“cuma itu saja dun?”
“iya cuma itu saja, jangan lupa katanya-katanya yang romantis ya san.”
“ok dun keren sekali idenya kamu, nanti malam tepat jam 12 sayah mau sms si do’i, do’akan sayah ya.” Kata Arnasan dengan semangat sambil mengepalkan tangan seperti di acara Benteng Takeshi.
“ok juga san, sukses bagi si rajin.” Jawab sayah sambil memberikan sampul buku berwarna coklat kepada Arnasan, dan sayah pun pulang.
*****
Jam yang ditunggu-tunggu oleh Arnasan akhirnya datang juga plus-plus dengan menit dan detiknya, Arnasan pun sudah siap dengan telepon genggamnya sambil memikirkan kata-kata apa yang cocok, manis dan romantis untuk si do’i. curat-coret di selembar kertas ada yang puitis, romantis hingga tidak lupa tulisan hutang kepada si wa jabrig. Dan setelah beberapa saat tulas-tulis jadi sajak, akhirnya kata-kata itu rampung juga di tulis Arnasan untuk dikirim ke si do’i.
Neng Ita, Selamat ulang tahun yah
Semoga panjang umur sehat sentosa
Maap akang tidak bisa ngasih kado sama neng Ita
Kalau mau kado, besok neng Ita titpkan saja uangnya sama akang, biar akang yang belikan kadonya
Ttd Aa San san.
Maka ketika teng jam dua belas malam, Arnasan segera mengirimkan sms nya. Dan Arnasan hanya tersenyum-senyum sendiri, dan merasa yakin kalau sms darinya akan membuat hati neng Ita bahagia dan berbunga-bunga. Walaupun tanpa balasan Arnasan tetap tenang dan akhirnya bergegas menuju kamar terlelap nyenyak hingga esok pagi.
*****
Adzan subuh terdengar mengalun sampai mambuat Arnasan terbangun dan buru-buru mengambil air wudhu untuk selanjutnya sholat subuh. Selepas sholat subuh Arnasan teringat pada telepon genggamnya yang masih tersimpan di ruang tamu di meja yang masih banyak dengan kertas-kertas yang sudah acak-acakan tidak beraturan., dia segera mengambilnya. Arnasan begitu kegirangan melihat di telepon genggamnya terlihat tulisan “1 pesan diterima”, Dan Arnasan pun segera membacanya.
Kang Arnasan makasih ya, sudah ngirim sms ulang tahun buat neng.
Akang yang paling pertama ngucapin selamat ulang tahun buat neng.
Tapi maap kang, neng baru besok ulang tahunnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar