08 Mei 2009

CERITA DI TUBUH GAJAH

Matanya merah retak-retak. Kemudian berputar-putar searah jarum jam. Di dalam otaknya ada sebuah kursi pengendali yang dilengkapi dengan mesin dan tombol-tombol berwarna-warni. Kedua gadingnya berputar-putar seperti mesin bor. Telinganya berkibar-kibar bagai bendera di tiang merdeka. Belalainya membagikan surat undangan kedalam lubang-lubang tampat tinggal semut. Undangan untuk mengajak para semut agar mau bergulat dengannya. Tanpa ronde, tanpa waktu dan tanpa skor yang penting menang atau mati.


Pesan terakhir dari surat undangan itu

“bila aku mati kalian (semut) boleh memakanku, dengan catatan jangan member tahu atau mengajak sang raja hutan karena dia sudah sering memakan kawan-kawan ku.”


Kakinya yang besar-besar sering berdansa saat kesemutan, mengikuti irama samba yang keluar dari player dan speaker-speaker besar yang tersimpan diatas punggungnya, sambil menginjak bunga andenium yang belum laku terjual, seperti mengatahui kalau harganya bias lebih mahal dari sembako.


Bandung, 2007



Tidak ada komentar:

Posting Komentar