Bagaimana kalau sore ini kita gaul yuk?
Tapi kali ini aku agak sariawan, bibir dan lidah ini perih rasanya kering tak berbuih
Tapi tidak apa-apa demi gaul kita berangkat saja
Lalu dengan apa kita kesana, mau pakai mobil yang mewah atau pakai motor kantor?
Terserah ! yang penting gaya.
Akhirnya kita sampai juga di pelataran mapan penuh dengan kekakuan ini.
Megah tapi price list itu sungguh membuat gerah.
Tapi kelihatannya masih sepi.
Aku juga yakin di dalam mall ini ada angin puting beliung yang siap merampas isi dompet siapa saja, namun lebih sopan karena mengucapkan terima kasih.
Tapi aku juga tetap berjaga-jaga.
Adu sial ! aku berpikir terlalu lama tentang mall dan eksistensinya yang mengalahkan makhluk cantik bernama flora ini.
Dan coba lihat lagi, tempat kongkownya sudah penuh oleh mudi-muda dengan dandanan merata.
Ya sudah kita jongkok saja di sebelah pojok.
Samar-samar aku mendengar obrolan dari kerumunan bibir-bibir bergincu berwarna merah mengkilat.
Tapi yang kudengar tidak jauh-jauh seputar gosip pria, cinta, harta dan belanja untuk gaya-gaya.
Jarang sekali kita mendengar mereka membicarakan tentang olah raga.
Lalu di sebelah tengah tempat kongkow itu
sekumpulan mahasiswa terlihat sedang asyik menggambar sekeliling mall.
Aku ternyata penasaran ingin melihatnya.
Dan aku cukup terkejut, mereka justru tidak menggambar plaza dan outlet-outlet yang sedang berpose sangat eksotik.
Tapi diantara mereka ada yang menggambar lapang sepak bola, hamparan pesawahan, pohon-pohon yang rindang, lengkap dengan beberapa satwa yang hampir punah.
sedang anteng-antengnya menikmati gambar sedikit demi sedikit butiran air hujan satu persatu dan lama kelamaan bersama teman-temannya.
Wah deras juga ya hingga menutupi pandanganku untuk terus memandangi sekitar tempat kongkow.
Tapi percuma tempat kongkow itu sudah kosong melompong dengan sekejap.
Ya sudah mumpung belum basah kuyup, kita akhiri saja jelajah kita dan kita pulang.
Eh, tapi masih ingat tidak kita motor kita yang mana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar